About Ziana

About Ziana
Chapter 146



Keesokan harinya, Ziana terbangun dan menoleh ke kanan dan kirinya, dimana kedua bocah itu berada. Ziana tersenyum melihat kedua bocah yang disayanginya itu masih tertidur lelap seraya memeluk dirinya.


"sayang bangun yuk..udah pagi loh" ucap Ziana seraya menggoyang-goyangkan lengan kedua bocah itu namun bukannya bangun keduanya malah semakin mempererat pelukannya.


Ziana hanya tersenyum melihat keduanya yang tiba-tiba menjadi kompak.


Ziana pun mencoba melepaskan diri dari kedua tangan kecil yang melingkar di perutnya, namun keduanya semakin mempererat pelukannya. Ziana melirik keduanya, perempuan itu sadar bahwa kedua bocah ini sedang mengerjai dirinya dengan pura-pura tidur.


Menyadari dirinya dikerjai oleh kedua bocah itu, Ziana pun tersenyum miring, dengan gerakan cepat tangan Ziana pun menggelitik kedua bocah itu secara bersamaan yang langsung membuat keduanya tertawa.


"rasakan pembalasanku.." seru Ziana tanpa menghentikan gerakan tangannya sehingga membuat Zoey dan Attar berteriak meminta ampun "ampun Momzi" "ampun kak Zizi.." ucap keduanya bersamaan namun Ziana tidak menghentikan aksinya.


Saat ketiganya asik bercanda di atas tempat tidur, Arash perlahan membuka matanya karena mendengar suara tawa dari mereka.


Arash menoleh kearah ranjang dan melihat pemandangan yang membuatnya langsung menarik sudut bibirnya keatas.


"Ampun kak.. Zoey tapek." keluh gadis kecil kesayangan Ziana "Attar juga capek" timpal Attar membuat Ziana menghentikan perbuatannya membalas keisengan kedua bocah itu.


"makanya kalian jangan jahil.." ucap Ziana menatap Attar dan Zoey secara bergantian "maaf.." sahut kedua bocah itu secara bersamaan, dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


Ziana hanya tersenyum "yaudah yuk bangun, udah mau jam 7 pasti yang lain udah nungguin kita buat sarapan" ucap Ziana seraya bangkit dari tempat tidur.


Perempuan itu berniat membangunkan Arash, namun betapa kagetnya ia saat melihat laki-laki itu ternyata sudah duduk dengan tenang sambil tersenyum kearahnya.


"kamu udah bangun?" seru Ziana kaget.


Arash berdiri dan berjalan kearah sang istri "selamat pagi my wife" ucapnya lembut sambil mendaratkan bibirnya di kening Ziana.


Ziana melotot, mengingat ada anak-anak dikamar mereka. Arash hanya tersenyum melihatnya "mereka gak liat kok" kata Arash menatap kearah kedua bocah itu yang sedang memperbaiki bekas tempat tidur mereka yang berantakan.


Ziana mengikuti arah pandang Arash, perempuan itu tersenyum melihat kedua bocah itu "yaudah sekarang kamu mandi lebih dulu sama Attar" kata Ziana.


"aku maunya sama kamu" celetuk Arash yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Ziana.


"hehe.. bercanda sayang.." seru Arash seraya berjalan kearah kamar mandi "boy.. ayo mandi dulu sama Daddy" ajaknya kepada sang anak, mendengar panggilan sang Daddy, membuat Attar langsung berlari menyusul Arash menuju kamar mandi. Sementara Zoey terlihat cemberut karena yang diajak hanya Attar.


Melihat kedua laki-laki itu masuk kedalam kamar mandi membuat Ziana menghela nafas, barulah setelah itu ia mendekati sang adik yang sudah cemberut karena tidak diajak. Entah kenapa Zoey seakan tidak mau jauh dari Attar.


Sebenarnya ia tadi malu mendengar celetukan Arash, jadilah ia hanya melotot kan matanya untuk menutupi raut wajahnya yang memerah, bak kepiting rebus.


"Ada apa sayang, kok cemberut gitu sih?" tanya Ziana setelah duduk didekat Zoey, tepatnya di pinggiran tempat tidur.


"Joey cebell ama om Alash, tenapa cuma Abang Attal yang diajak, kan Joey juga mau mandi baleng-baleng cama Abang" ujar Zoey dengan aksen cadelnya yang khas membuat Ziana tertawa karena gemas.


"Kan Zoey cewek, jadi gak boleh mandi sama Abang. Zoey nanti mandinya sama kak Zizi aja ya sayang.." bujuk Ziana sambil berusaha memberikan pengertian kepada gadis berusia hampir 4 tahun itu.


Akhirnya Zoey mengangguk "iya kak.." ucapnya pelan. Ziana hanya tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik yang begitu lengket dengan Attar.


Selang beberapa menit kedua laki-laki beda generasi itu akhirnya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah nampak segar. Sekarang gantian Ziana dan Zoey yang masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Arash dan Attar memakai pakaiannya masing-masing yang memang telah disiapkan oleh Ziana.




Semua anggota keluarga dan sahabat sudah berkumpul untuk sarapan bersama, tinggal pasangan pengantin baru yang belum datang.



"nah itu tuh pengantin baru akhirnya datang juga" celetuk mama Arianna yang sudah bosan menunggu, pasalnya dialah yang datangnya paling pagi tadi.



Arash dan Ziana datang sambil bergandengan tangan, sementara tangan yang satunya masing-masing menggandeng tangan kecil milik Attar dan Zoey yang berjalan di samping mereka



"eh buset.. gercep amat, baru nikah semalem udah dapat 2 aja lo bro" celetuk Lucas yang membuat suasana menjadi riuh dengan suara tawa para sahabatnya.




"sudah..sudah..lebih baik kita sarapan dulu" lerai papa Arnan yang sejak tadi asyik mengobrol dengan papa Bagas dan juga Luis.



Sarapan pagi itu pun berlangsung dengan khidmat dan penuh suka cita.



Namun tanpa mereka sadari dari sudut ruangan, ada sepasang mata yang sejak tadi menatap mereka dengan tatapan iri.



Sementara itu di kediaman keluarga kakek Abian para penghuni rumah pun sedang melakukan sarapan bersama. Pemandangan yang jarang sekali terjadi. Namun karena putra satu-satunya kakek Abian yakni Agra, sedang berkunjung kerumah, jadilah mereka melakukan sarapan bersama.



Agra adalah ayah Agler, dulunya dia adalah sosok laki-laki yang hangat dan penyayang. Namun setelah wanita yang begitu dia cintai meninggal karena tertembak oleh musuh dari sang ayah yaitu kakek Abian, membuat Agra menjelma menjadi sosok yang berbeda.



Kini dia menjadi bengis dan tidak mengenal kata ampun, Agra bahkan tidak segan untuk membunuh siapa saja yang dikehendakinya, dan tidak ada yang bisa menghentikannya termasuk Abian sekalipun.



Dan sejak kejadian itu, Agra meninggalkan kota kelahirannya itu, tanpa mengikutsertakan Agler, yang saat itu masih berusia 5 tahun.



Tapi karena pemintaan sang ibu yaitu Melissa, dia akhirnya kembali lagi ke kota yang menyimpan banyak kenangan setelah 20 tahun lebih.



Usai sarapan, Melissa mengajak Agra untuk berbicara di taman belakang, tanpa sepengetahuan Abian yang sudah kembali masuk kedalam ruang kerjanya.



"ada apa Mama memanggilku.." tanyanya tanpa basa-basi.



Melissa tersenyum sambil duduk dengan tenang. "apa kau tidak ingin duduk dulu sebentar.." ujarnya santai.



Agra mendengus "saya tidak punya waktu untuk bersantai" ucapnya dingin.



"baiklah.. mama akan beritahu.." seru Melissa bangkit dari duduknya. Wanita tua itu berjalan mendekati Agra, ia lalu menyodorkan sebuah amplop coklat, yang Agra sendiri tidak tahu apa isinya.



Agra mengernyit, namun tangannya tetap terulur untuk meraih amplop tersebut.



"bukalah.." ucap Melissa seraya berjalan kembali ketempat duduknya semula.



Agra pun membuka amplop coklat yang ada ditangannya dengan penuh tanda tanya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...