
"Jadi ini alasan kamu mau kita backstreet?" tanya Leon ketika mengantar Aruna pulang menggunakan motor jadulnya.
Leon melirik ke kaca spionnya.
Setelah beberapa menit tidak ada jawaban yang berarti, Leon mengambil inisiatif untuk menghentikan laju motornya.
"eh.. kok berhenti?"
Leon membuka helmnya dan turun dari motor, kemudian membantu Aruna melepas helm juga.
"yuk" Leon menarik tangan Aruna ke salah satu penjual es krim yang ada di sana.
setelah mendapatkan es krimnya Leon mengajak Aruna untuk duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari penjual es krim itu.
"ini buat kamu" Leon kemudian menyodorkan 1 cup es krim ke hadapan kekasihnya.
Aruna menatap Leon yang kini tersenyum ke arahnya sembari mengangguk.
mereka kemudian menikmati es krim masing-masing dalam keadaan hening.
"Aku rasa saran dari kak Lucas tadi ada benarnya" Ucap Leon tiba-tiba memecah keheningan.
"Apa maksud kamu?" Aruna menoleh menatap tepat di mata Leon.
"kita gak bisa terus-terusan backstreet kayak gini, cepat atau lambat kakak kamu pasti akan tau"
"tapi gak sekarang" seloroh Aruna.
"kenapa?"
"Aku belum siap menghadapi kemarahan kakak aku, kalo dia tau aku pacaran diam-diam tanpa seizinnya"
"aku yang akan menghadapi kemarahan kakak kamu" ujar Leon menenangkan.
Aruna menggeleng "enggak.."
"iyaa" balas Leon.
"enggak"
"iyaa"
"Enggak Leon, aku bilang enggak" Aruna menaikkan volume suaranya.
"kamu gak tau semenyeramkan apa kakak aku kalo lagi marah" ucap Aruna lagi dengan nada lirih.
"aku gak akan tau kalo gak menghadapinya kan?"
"jangan gila kamu"
"aku emang udah gila" seloroh Leon dengan nada bercanda.
"Leon aku gak lagi bercanda"
"aku juga gak bercanda sayang, aku emang udah gila, gila karena kamu" ucap Leon mengedipkan sebelah matanya.
Pipi Aruna bersemu.
Gadis itu dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"hahaha" Leon tertawa.
"ishh.. nyebelin" teriak Aruna masih menutup wajahnya.
"sini mana liat" goda Leon lagi.
Aruna semakin erat menutup wajahnya membuat Leon semakin tertawa.
setelah tawanya reda cowok itu mengecek jam tangannya.
"yuk.. udah mau jam 5 nih" ajak Leon.
"kamu duluan aja ke motornya" ucap Aruna masih dengan posisi yang sama.
Leon hanya tersenyum sambil mengusap kepala Aruna pelan kemudian bangkit "ya udah aku tunggu di motor ya, jangan lama-lama" ucapnya kemudian.
Beberapa menit berlalu Aruna menyusul Leon.
Setelah Leon membantu memasangkan helm retro berwarna mint yang sengaja dia belikan untuk kekasihnya itu, mereka akhirnya pulang.
Sementara itu kini Ziana terlihat mengendarai mobilnya seorang diri tanpa di temani Dita ataupun supir.
Mobil yang di kendarai Ziana kini berhenti di pelataran sebuah rumah yang berlantai 3.
namun sebelum turun wanita itu terlebih dahulu memakai sebuah topeng yang memiliki lambang bunga mawar.
"selamat datang queen" sapa semua orang yang melihat kedatangannya.
"Hem.. dimana Regan?" tanya Ziana tanpa basa basi.
"tuan ada di ruangannya queen, di lantai atas, mari saya antar" ucap orang tersebut sopan.
"tidak perlu biar saya sendiri" ucap Ziana kemudian berjalan menuju lantai atas menggunakan lift.
Jika dari luar, rumah itu terlihat biasa saja, namun di dalamnya terdapat banyak sekali alat-alat canggih.
Rumah ini merupakan markas utama Bloody Rose, geng mafia yang menampung dan membesarkan orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal tetapi mempunyai kemampuan dan bakat.
Banyak sekali anak-anak yang dulunya di tampung di rumah ini dan bahkan sekarang ada yang sudah memiliki pekerjaan namun tetap tidak ingin keluar dari geng yang sudah merawat dan menampung mereka ketika masa susah.
"akhirnya kau datang juga queen" sapa seseorang yang berdiri di dekat jendela sambil menatap keluar.
"ada apa kau memanggilku kesini?" tanya Ziana to the point.
"duduklah dulu queen, baru kita bicara" ujar orang tersebut yang tidak lain adalah Regan.
"baiklah" ucap Ziana sambil berjalan kearah sofa.
"katakan" ujar Ziana lagi.
"tidakkah kau ingin minum dulu?"
"c'mon Re, aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi, jadi cepat katakan"
"hahaha baiklah baiklah.. padahal aku sudah lama tidak melihatmu marah-marah seperti itu" ujar Regan sambil memegang perutnya yang sakit karena menertawakan Ziana.
Ziana memutar bola matanya jengah.
"begini.. ada sebuah geng mafia yang ingin melakukan aliansi dengan kita" ucap Regan memulai obrolan.
"terus?"
"bagaimana menurutmu?"
"kenapa bertanya padaku?" ucap Ziana tak mengerti.
"karena dalam waktu dekat ini aku akan mengembalikan kepemimpinan ini kepadamu lagi"
"apa maksud mu Re?" Ziana semakin tidak mengerti.
"Zizi, aku ini seorang pria dewasa dan aku juga ingin merasakan hidup normal dengan menikah, lalu punya anak, dan hidup bahagia dengan anak dan istri yang aku cintai" Ujar Regan panjang lebar.
"Lalu?"
"aku rasa sudah waktunya aku mengambil jalan itu, aku sudah menemukan wanita yang cocok, dan kami akan segera menikah" Regan tersenyum.
"what? dan kamu baru mengatakan ini padaku?" tanya Ziana tak percaya.
"semua ini terjadi begitu saja, percayalah Zi"
"siapa wanita itu?"
"namanya Gretha, sama seperti namanya dia berkilau seperti berlian" ucap Regan sembari tersenyum membayangkan wanita pujaannya.
"kapan kalian akan menikah?" tanya Ziana.
"dua Minggu lagi resepsinya akan di gelar"
Ziana menghela nafas.
"aku turut bahagia Re" kata Ziana tulus.
"terimakasih" balas Regan tersenyum penuh haru.
*******