
Tok..tok..tok
"permisi tuan" teriak Robin seraya mengetuk pintu kamar kakek Abian dengan keras.
"masuklah" sahut kakek Abian dari dalam kamarnya.
"permisi tuan maaf mengganggu waktu anda" ucap Robin membungkuk hormat dihadapan kakek Abian yang sedang asyik membaca surat kabar.
"katakan ada apa?" tanya Abian seraya meletakkan korannya diatas meja.
"didepan ada nona Ziana tuan"
mendengar berita itu membuat pria tua itu tersenyum senang "benarkah?" tanyanya memastikan dan pertanyaan itu hanya dijawab anggukan kepala oleh Robin.
Kakek Abian pun berjalan kearah jendela, untuk melihat dan memastikan sendiri apakah benar itu Ziana atau bukan "sudah kuduga dia pasti akan datang" gumamnya seraya memperhatikan jalanan yang berhadapan langsung dengan jendela kamarnya.
Kedua sudut bibirnya terangkat setelah melihatnya sendiri, namun siapa laki-laki yang datang bersama cucunya itu. "Robin.. siapa laki-laki itu?" tanyanya.
"Dia adalah Arash Wijaya tuan, calon suami dari nona Ziana" beritahu Robin.
"Wijaya.. sepertinya aku pernah dengar nama itu" gumam kakek Abian sambil mengingat-ingat siapa sosok Wijaya itu.
beberapa saat kemudian kakek Abian menggelengkan kepalanya 'sudahlah tidak penting siapa Wijaya itu, yang penting sekarang aku harus menyambut kedatangan cucuku' batin Abian.
"tunggu apa lagi? ayo cepat kita sambut dia" ajak kakek Abian bersemangat. Saking semangatnya ia kini sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Robin yang masih berdiri di dekat jendela.
"baik tuan"
Meskipun Ziana tidak ada hubungan darah dengannya, namun kakek Abian sangat menyayangi perempuan itu.
Baginya Ziana sudah seperti cucunya sendiri, karena Ziana yang selalu ada disisinya, tidak seperti Agler dan ayahnya yang sibuk dengan dunianya masing-masing, begitupun dengan istrinya, semuanya sama saja.
Bahkan saat ia sakit pun Ziana lah yang merawatnya, Ziana yang membawanya berobat ke luar negeri dan Ziana juga yang menanggung semua biaya pengobatannya selama disana.
Keduanya pun turun kelantai bawah menggunakan lift khusus, karena usia kakek Abian yang tidak lagi muda, dia tidak kuat lagi untuk naik turun tangga.
Ziana nampak ragu untuk mengetuk pintu kayu yang menjulang didepannya.
Dia malas jika harus bertemu dengan istri ataupun anak dari kakek Abian yang tidak pernah menyukainya sejak awal.
Setelah berperang dengan batinnya sendiri, akhirnya Ziana pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut.
Namun baru saja Ziana mengangkat tangannya, bersiap untuk mengetuk, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya.
Ziana tersenyum melihat keadaan kakek Abian yang kini berdiri dihadapannya. Langsung saja Ziana berhambur kedalam pelukan pria tua itu.
Kedua kakek dan cucu tidak sedarah itu pun saling berpelukan, melepas rindu yang sudah menumpuk. Namun tanpa mereka sadari, di pintu gerbang ada dua pasang mata yang sedari tadi mengawasi kegiatan mereka.
Usai melepas rindu kakek Abian mengajak Ziana untuk masuk. Ziana pun mengikuti kakek Abian, sementara Robin yang tidak ingin mengganggu momen kebersamaan tuannya pun pamit untuk kembali kekantor.
Di sekolah Aruna.
Semenjak kejadian penculikan yang dilakukan oleh Gerald dan teman-temannya, semenjak itu pula cowok itu sudah tidak pernah lagi muncul di hadapan Aruna, Leon dan juga Dian, karena ancaman dari Ziana dan Bryan waktu itu.
Bahkan saat tidak sengaja berpapasan di lorong sekolah pun, mereka pasti akan menghindar. seperti yang terjadi saat ini, ketika bel istirahat berbunyi semua siswa dan siswi berlomba menuju kantin begitupun dengan Aruna dan Leon.
Kedua pasangan yang baru saja mempublikasikan hubungan mereka beberapa hari yang lalu itu nampak berjalan menuju kantin, namun tidak sengaja mereka berpapasan dengan Gerald dan ketiga temannya yang sepertinya baru dari kantin, seolah melihat hantu yang menyeramkan, mereka langsung lari berhamburan dengan ekspresi ketakutan, dan tanpa mengucapkan apapun.
"mereka kenapa sih? kayak liat hantu aja" tanya Aruna heran
"takut sama kamu mungkin" canda Leon yang langsung di balas pukulan keras di bahunya.
"aawww sakit.." ringis Leon yang pura-pura kesakitan akibat pukulan Aruna, namun sebenarnya Leon tidak merasa sakit sama sekali, ia hanya ingin mendapat simpati dari Aruna, namun sepertinya usahanya gagal.
Sebenarnya selama beberapa pekan ini Leon selalu latihan di markas The Braves bersama Lucas ataupun Bryan dan juga anggota The Braves yang lainnya tanpa sepengetahuan Aruna tentunya.
Namun bukannya kasihan, Aruna malah ngambek dan berjalan meninggalkan Leon yang masih berpura-pura kesakitan, seraya terus mengusap-usap bahunya.
Melihat Aruna pergi, bukannya mengejar, Leon malah menertawakan tingkah gadis itu.
Karena tidak ingin membuat Aruna benar-benar marah dengannya, akhirnya setelah puas tertawa Leon pun mengikuti sang kekasih yang sudah jauh didepan, dan tujuan utamanya adalah kantin sekolah.
Sesampainya di kantin Leon mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Aruna. Dan dari pintu masuk, Leon bisa melihat Aruna sedang mengantri untuk memesan makanannya, bersama Dian dibelakangnya.
Leon pun ikut mengantri di belakang kedua gadis itu. Sementara Aruna dan Dian telah mendapatkan makanan mereka masing-masing, kini keduanya mencari meja kosong untuk mereka tempati, beruntung masih banyak siswa yang mengantri jadi masih ada beberapa meja kosong.
Pandangan Leon tidak lepas dari Aruna, entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat keduanya tampak tertawa. Leon merasa bahagia bisa melihat Aruna memiliki teman, sebab selama ini Aruna tidak pernah terlihat jalan ataupun makan di kantin dengan teman sesama perempuannya.
Leon menarik sudut bibirnya keatas, membentuk sebuah lengkungan senyum yang selama ini jarang iya perlihatkan.
*****
Happy Reading 💞💞 💞