
Ziana terus berlari sampai ke lobby, membuat semua orang menatap kearahnya, tidak terkecuali sang penjaga resepsionis tadi.
Sementara di luar sana hujan deras tengah mengguyur kota A siang itu, namun tidak menghentikan langkah Ziana.
Perempuan itu terus berlari, tidak mengendarai mobilnya karena sengaja.
Ziana sengaja membiarkan tubuhnya diguyur oleh air hujan agar tidak ada yang melihatnya meneteskan air mata.
Ini adalah kali pertama Ziana menangis lagi setelah perpisahan kedua orangtuanya, dan penyebab dia menangis kali ini adalah Arash, laki-laki yang dia kira berbeda dengan papanya.
"kenapa harus sesakit ini" batin Ziana meremas dadanya yang terasa berdenyut nyeri.
Arash adalah cinta pertama bagi Ziana, dan ini adalah pertama kalinya Ziana merasakan sakit hati karena cinta, dia merasa dikhianati oleh Arash, yang sudah berstatus sebagai calon suaminya.
🌹🌹🌹
Kembali ke ruangan Arash, laki-laki itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"akhirnya selesai juga, sayang maaf telah membuatmu menunggu" ucap Arash mengalihkan pandangannya untuk menatap orang yang dia kira Ziana.
"kamu.." ucap Arash kaget dan langsung berdiri, setelah menyadari bahwa perempuan itu bukanlah Ziana.
"dimana Ziana?" tanya Arash marah.
"siapa Ziana?" tanya balik perempuan itu.
Arash meninggalkan ruangannya dengan penuh kemarahan, tanpa menjawab pertanyaan perempuan itu, dia berlalu sambil membanting pintu, dan tujuannya kali ini adalah meja resepsionis.
Sekertaris Jhon yang kebetulan ingin masuk kedalam ruangan Arash terkejut bukan main, sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang, sekertaris Jhon mengikut di belakang Arash yang sudah masuk lebih dulu kedalam lift, karena merasa akan ada hal buruk yang terjadi.
Perempuan itu ikut mengekor dibelakang Arash, namun gagal karena pintu lift sudah tertutup lebih dulu.
sesampainya di depan meja resepsionis, Arash langsung berucap "dimana Ziana?" tanyanya setengah membentak kepada si penjaga resepsionis.
"lalu siapa yang menyuruhmu mengijinkan perempuan lain masuk kedalam ruangan ku selain perempuan yang bernama Ziana?"
"ma..ma..maaf pak, saya tidak tahu bahwa ibu itu bukan nona Ziana" jawab resepsionis itu seraya menunjuk perempuan tadi dengan gugup.
"lalu sekarang dimana Ziana? dimana calon istri saya?" bentak Arash dengan nada tinggi.
"nona Ziana.. itu pak..anu.. nona Ziana sudah pergi pak" jawabnya sambil menunduk.
"pergi..pergi kemana?" tanya Arash menatap resepsionis itu tajam, hingga membuat sang penjaga resepsionis ketakutan.
"saya..saya tidak tahu pak"
"dasar bod*h" bentak Arash kemudian pergi.
"sekertaris Jhon" Arash berhenti dan menoleh kearah Jhon.
"iya tuan"
"urus dua perempuan itu" tunjuknya melalui tatapan matanya kepada dua orang yang dimaksud.
"saya tidak ingin melihat mereka lagi berkeliaran di kantorku" ucapnya lagi lalu pergi.
"baik tuan" jawab sekertaris Jhon patuh.
🌹🌹🌹
Tubuhnya menggigil akibat guyuran air hujan yang sangat deras.
Ziana bersyukur karena berkat hujan ini, sehingga tidak ada seorangpun di halte tersebut selain dirinya.
Jadi dia bisa bebas menangis tanpa takut dilihat oleh orang lain.
Namun tanpa Ziana sadari ada seseorang yang memperhatikannya, dan seseorang itu sedang berjalan kearahnya.
"ceroboh, kau itu tidak kuat dengan air hujan, kenapa malah hujan-hujanan seperti anak kecil" ujar orang tersebut sambil menyampirkan jaket tebal ke tubuh Ziana yang sudah menggigil.
Ziana mendongak "kau.." ucapnya kaget setelah melihat orang tersebut.
"tidak perlu sok baik padaku" sarkas Ziana sambil berdiri dan berniat pergi.
Sambil mencekal tangan Ziana, orang itu berujar "kau juga jangan sok kuat di hadapanku"
Ziana mendengus "tidak perlu sok perduli lagi denganku" jawabnya dingin, sambil menyentakkan tangannya kuat, agar terlepas dari cekalan orang tersebut.
🌹🌹🌹
Sementara itu Arash yang melihat mobil Ziana masih terparkir di sebelah mobilnya pun mengira bahwa Ziana masih berada disekitar kantornya.
Arash berinisiatif untuk menghubungi Ziana, namun nomor perempuan itu sedang diluar jangkauan.
"aaaarrghhh sial" umpatnya setelah berkali-kali menelpon namun hanya terdengar suara dari operator.
Ia pun memilih untuk menghubungi sekertaris Jhon dan memintanya mengecek cctv, untuk mengetahui keberadaan Ziana.
Selesai menghubungi Jhon, Arash lalu menyusul keruang cctv untuk ikut mencari tahu keberadaan sang calon istri.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah menemukan rekaman yang Arash minta.
Didalam rekaman itu, Ziana terlihat berlari meninggalkan loby dan menerobos hujan, tanpa mengendarai mobilnya.
"****" umpat Arash lalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan cctv.
Tanpa berfikir panjang Arash ikut menerobos hujan deras tersebut untuk mencari Ziana.
"mudah-mudahan dia belum terlalu jauh" ucap Arash.
Sementara itu sekertaris Jhon pun tidak tinggal diam, pria berbadan besar dan kepala plontos itu ikut membantu tuannya untuk mencari nona Ziana.
Bahkan sekertaris itu mengerahkan anak buahnya untuk ikut membantu mencari.
Setelah hampir 2 jam mereka mencari sambil hujan-hujanan mereka tidak menemukan keberadaan Ziana.
Bahkan hingga hujan reda pun, mereka tetap tidak menemukan apa-apa.
Akhirnya Arash pulang dengan tangan kosong, dan perasaan hampa yang kini dirasakannya.
****
Happy Reading 💞💞 💞