
"Sebenarnya apa maksud kakek melakukan ini semua, dan lagi bukankah kakek masih koma.?" Agler kembali bertanya dengan posisi yang masih sama, sambil matanya sibuk meneliti apakah yang berada didepannya itu benar kakek Abian atau bukan.
"tidak ada, saya hanya tidak ingin melihat cucuku di siksa oleh orang lain.." kakek Abian menjeda ucapannya
"kenapa? kamu seperti tidak senang kakek sadar?" lanjutnya tersenyum miring.
Agler hanya mendengus, lalu keluar dari ruang kerja Abian. Sementara Abian hanya menggeleng melihat sikap Agler yang tidak pernah berubah.
"kamu ikuti dia, dan pastikan dia tidak bisa keluar dari sini" perintah Abian yang langsung dilaksanakan oleh Robin.
Agler yang ingin keluar melalui pintu utama dihadang oleh 2 orang anak buah Robin yang memang sengaja ditugaskan untuk menjaga pintu.
"Lepaskan saya" teriak Agler karena kedua tangannya ditahan oleh 2 penjaga tersebut.
"maaf tuan, kami hanya menjalankan perintah" ucap salah satunya.
"lepaskan..saya tidak perduli" Agler masih terus memberontak.
"Berhenti" seru Robin yang sudah berdiri dibelakangnya.
"saya masih menahan diri karena anda adalah cucu Tuan Abian" desis Robin tepat berdiri disebelah Agler, membuat Agler memutar bola matanya malas.
"Jadi saya minta anda berhenti berontak dan masuk kamar anda" perintah Robin dengan nada tegasnya.
Karena merasa percuma untuk memberontak, akhirnya Agler mengikuti keinginan kakeknya untuk saat ini.
Robin bernafas lega setelah cucu tuannya itu mau mengikuti keinginan Tuan Abian.
"kalian terus berjaga disini, jangan sampai tuan Agler keluar dari rumah ini, mengerti" perintah Robin tegas sebelum pergi dari sana.
🌹🌹🌹
Pagi harinya Ziana terbangun lebih dahulu dan matanya langsung menatap kearah sofa dimana Arash tertidur sambil meringkuk.
Tanpa sadar Ziana melengkungkan senyumnya melihat itu, hanya sesaat sebelum perempuan itu menggelengkan kepalanya.
Karena merasa ada sesuatu yang ingin keluar, Ziana bangkit dari brankar dan segera masuk kedalam kamar mandi.
Arash yang baru saja terbangun dan tidak mendapati Ziana di brankarnya seketika menjadi panik.
Langsung saja dia bangkit, namun tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, melihat siapa yang keluar dari sana membuat Arash menghembuskan nafas lega.
Ziana yang masih berdiri diambang pintu menaikkan sebelah alisnya melihat Arash.
"ada apa?" tanya Ziana.
"tidak, aku pikir kamu diculik tadi" jawab Arash terus terang membuat Ziana memutar bola mata.
Karena tidak fokus, hampir saja dia terjatuh, beruntung Arash dengan sigap menahan tubuhnya, jika tidak mungkin Ziana sudah menci*m lantai marmer yang keras dan dingin itu.
"Ekhemm..permisi maaf mengganggu, saya kesini cuma mau memeriksa kondisi pasien" ucapan seorang dokter laki-laki yang kemarin menangani Ziana membuat keduanya kaget dan salah tingkah.
Dengan Cepat Arash langsung melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Ziana dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, sementara Ziana kedua pipinya sudah memerah menahan malu karena ketahuan sedang melakukan adegan yang menurutnya sangat memalukan.
Meskipun Ziana pintar dan jago beladiri, namun dia sangat pasif jika menyangkut tentang percintaan, karena masa mudanya hanya diisi dengan belajar dan latihan fisik.
Bukan karena tidak laku, tapi banyak laki-laki yang mendekatinya namun tidak ada yang bisa tahan dengan sikap dingin dan cueknya.
Jadi bisa dibilang bahwa Arash adalah laki-laki pertama yang berhasil tahan dengan sikap dingin dan cuek Ziana. Kecuali Regan dan Agler yang telah dianggap kakak oleh Ziana.
Tanpa banyak berucap dokter itupun langsung memeriksa Ziana, setelahnya langsung keluar dari kamar Ziana.
Bukan tanpa sebab dokter muda tersebut berubah, setelah kejadian kemarin dimana dokter itu membuat Arash kesal, laki-laki itu pun langsung melaporkan ketidaknyamanannya kepada pemilik rumah sakit ini secara langsung.
Dan sebagai seorang pengguna ruangan VVIP laporannya pun langsung di acc. Tadi pagi dokter muda itu telah menerima surat peringatan, sehingga dokter itu pun tidak ingin mencari masalah dengan Arash lagi.
Selesai di periksa, Arash hendak menyuapi Ziana dengan bubur yang tadi diantarkan oleh suster, namun Ziana menolak dan memilih untuk makan sendiri tanpa bantuan Arash.
Arash hanya mengiyakan, karena tidak ingin mengganggu Ziana makan, Arash pun memilih ke kantin untuk mengisi perutnya.
Waktu terus berlalu setelah 3 hari dirawat akhirnya Ziana sudah keluar dari rumah sakit.
Hubungan antara dirinya dan Arash pun semakin dekat, pagi-pagi sekali laki-laki itu sudah datang ke rumah sakit untuk menjemput Ziana.
"sudah siap?" tanya Arash saat sudah sampai.
"sudah" jawab Ziana, sementara sekertaris Dita sudah keluar lebih dahulu sambil membawa barang-barang milik Ziana.
Di dalam perjalanan terlihat Ziana sangat menikmati pemandangan yang sudah 3 hari ini tidak dilihatnya, yaitu lalu-lalang kendaraan yang memadati jalan raya.
Arash yang baru pertama melihat Ziana tersenyum seperti itu pun, tanpa sadar ikut menarik sudut bibirnya.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar 35 menit itu pun tidak terasa, kini mobil Arash sudah mulai memasuki kawasan apartemen Ziana, diikuti oleh mobil sekertaris Dita.
"Welcome back Zizi.." teriak mereka serentak saat Ziana baru masuk, tidak lupa spanduk besar yang juga bertuliskan Welcome back Zizi.
Ziana terharu mendapatkan perlakuan seperti ini, "terimakasih semuanya" ucap Ziana tulus.
Tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya.
"Welcome back Aunty Zi" ucap Attar yang memeluk Ziana dari belakang.
Ziana melepaskan tangan Attar lalu berjongkok dan memeluk bocah laki-laki itu erat. "terimakasih sayang" ucapnya.
Saat masih asik berpelukan dengan Attar, Zoey tiba-tiba datang dan melepaskan pelukan keduanya lalu menggantikan posisi dari Attar.
Melihat tingkah lucu Attar dan Zoey yang memperebutkan Ziana membuat tawa semua orang yang berada di ruangan itu pecah.
Tidak sampai disitu saja, selesai acara peluk memeluk, ternyata di ruang makan sudah banyak sekali menu yang telah dihidangkan, dan semua adalah menu kesukaan Ziana.
Bagas sedari tadi memperhatikan Arash yang terlihat, memperlakukan Ziana dengan berbeda. Bagas merasa lega jika ternyata Arash lah yang akan menjadi menantunya.
Dia tahu bahwa Arash adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan penyayang keluarga, jadi Bagas tidak perlu merasa khawatir lagi, sebab putri sulungnya itu bersama dengan orang yang tepat.
Arash yang sadar sedang diperhatikan menoleh dan tersenyum sambil mengangguk saat mendapati bahwa Bagas lah yang sejak tadi memperhatikannya.
Selesai makan makan satu persatu dari mereka pun pamit, begitu juga dengan Arash. Namun si kecil Attar membuat drama, karena masih ingin bersama Ziana.
"No dad Attar masih mau disini" rengeknya
"sebentar lagi Oma sama opa pulang, kamu tidak ingin menyambut kedatangan mereka?" pancing Arash.
Attar terlihat berfikir sejenak. "Oma sama Opa pulang jam berapa?" tanyanya.
"nanti sore, maybe" jawab Arash tidak yakin.
"Oke, kalau begitu nanti sore Daddy jemput Attar lagi disini" kata Attar setelah menemukan solusinya.
"tapi---
"gapapa, nanti biar saya yang anterin pulang" ujar Ziana menyela ucapan Arash.
Laki-laki itu tidak punya pilihan "baiklah, nanti sore Daddy akan jemput kamu lagi" pasrahnya.
"yes thank you dad" kata Attar yang membuat Arash mengangguk sambil tersenyum.
"yasudah kalau begitu Daddy pergi dulu ya" pamit Arash kepada Attar.
"titip Attar ya, kalau dia nakal marahi saja" pesan Arash sebelum pergi, sambil tangannya mengusap pucuk kepala Ziana.
\*\*\*\*