About Ziana

About Ziana
Chapter 46



Sore harinya sepulang sekolah Aruna menyempatkan diri untuk mampir ke rumah sakit tempat Attar di rawat.


Gadis itu berjalan dengan santainya di lorong rumah sakit.


namun pandangannya tidak sengaja melihat siluet tubuh dari seorang laki-laki yang sangat dikenalnya.


Karena penasaran akhirnya Aruna pun mengikuti langkah laki-laki itu sampai kesebuah ruangan dimana di dalam sana terdapat seorang wanita yang tengah terbaring di atas ranjang perawatan.


Aruna terus memperhatikan laki-laki itu sampai akhirnya laki-laki itu berbalik dan


Deg


"Leon" ucap Aruna pelan.


Didalam Sana Leon terlihat menggendong seorang bayi dan menaruhnya di samping wanita tadi.


Keduanya terlibat obrolan ringan seputar bayi kecil itu. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.


Tanpa sadar air mata Aruna terjatuh, gadis itu menggeleng lemah, Aruna berusaha untuk tetap berfikir positif namun sialnya pikiran-pikiran negatif itu mulai bermunculan di otaknya.


Leon yang tidak sengaja melihat kearah pintu terkejut mendapati sang kekasih ada disana. Pandangan mereka bertemu, sebelum akhirnya Aruna memutus kontak dan berlari meninggalkan ruangan itu.


"Aruna" ucap Leon. Cowok itupun berlari mengejar Aruna namun sayang, Aruna sudah tidak ada disana.


"kamu kenapa Le?" tanya Riana saat Leon kembali masuk dengan wajah sedihnya.


Leon hanya menggeleng "aku gak apa-apa mba"


"Le kamu jangan bohong, mba udah kenal kamu lama, mba tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja"


menghela nafas panjang kemudian barulah cowok itu mulai mengatakan bahwa dirinya tadi melihat kekasihnya berdiri di ambang pintu, namun saat Leon ingin menghampirinya, kekasihnya itu pergi sambil menangis.


"pasti pacar kamu itu salah paham ya sama mba" ucap Riana merasa bersalah.


"udah..mba tidak usah mikirin itu, nanti biar aku yang jelasin sama pacarku" Leon berusaha menenangkan kakak iparnya. Pemuda itu tidak ingin Riana merasa bersalah karena masalahnya.


Riana baru saja melahirkan semalam, dan katanya, seseorang yang baru melahirkan tidak boleh stress dan banyak pikiran.


Leon berdiri dan mengangkat bayi yang baru berusia 1 hari itu dan meletakkannya di box bayi dengan sangat pelan takut bayi tersebut terbangun.


"mba juga istirahatlah, aku mau ke kamar ibu dulu" ucap Leon sebelum keluar dari ruangan Riana dan bayinya.


Sementara itu di taman, Aruna tidak sengaja bertemu dengan Dita. Mereka sama-sama duduk di bangku taman.


"Sekertaris Dita disini juga?" tanya Aruna dengan suara parau.


Dita menoleh, setelah sebelumnya menghapus jejak air mata yang ada di pipinya. Perempuan itu berusaha mengingat-ingat siapa gadis dengan seragam putih abu-abu yang mengenalnya.


"kamu..?"


"Aruna kak, Tantenya Attar yang waktu itu hampir tertabrak mobil tapi di tolong oleh kak Ziana" kata Aruna menjelaskan tentang siapa dirinya.


"ohh iya saya ingat"


"kamu disini juga? kalau boleh tau siapa yang sakit?" tanya Dita berbasa-basi.


"oh iya, sakit apa?" tanya Dita lagi.


"dia hanya demam biasa, tapi tidak mau makan dan juga minum obat" tutur Aruna dengan wajah lesu.


"semoga cepat sembuh ya Attarnya"


"bagaimana mau sembuh, kalau obatnya belum ketemu"


"maksud kamu?" heran Dita.


"dari semalem Attar terus nyariin kak Ziana, aku udah telpon berkali-kali tapi nomor nya tidak aktif" Aruna menjeda ucapannya.


"kira-kira kak Ziana kemana ya? apa kakak tau" sambung Aruna lagi.


"sebenarnya.." Dita bimbang harus mengatakan keadaan Ziana atau tidak.


"sebenarnya apa kak?" Aruna kembali bertanya karena penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh sekertaris Dita.


"sebenarnya Ziana dirawat di rumah sakit ini juga" Dita akhirnya mengatakan keadaan sahabatnya.


"kak Ziana sakit?" Aruna terkejut mendengar kenyataan ini.


Dita menggeleng "Dia tertembak"


"apa? bagaimana bisa?" Aruna tidak henti-hentinya bertanya.


"saya juga tidak tahu, malam itu kami bertiga dengan Jessica kenalan dari kak Ziana naik mobil dari kota B.." mengalirlah cerita Dita.


"saya tidak ingat apa-apa, karena saat itu saya merasa sangat mengantuk, tapi saat saya terbangun, kita semua sudah berada di rumah sakit ini" Dita memberi jeda.


"tapi menurut penjelasan Jessica, waktu itu ada sekelompok orang yang sedang bertarung, dan Ziana yang melihat seseorang hampir tertembak menyelamatkan orang itu dan malah dia yang terkena tembakan" ucap Dita.


"terus bagaimana keadaan kak Ziana?" Tanya Aruna panik.


"Menurut dokter keadaannya sudah normal, tapi dia belum sadarkan diri, kami semua sudah berusaha membuatnya bangun, namun menurut dokter, kak Ziana sepertinya sudah tidak punya tujuan hidup, makanya dia tidak ingin membuka matanya". Dita menjelaskan sambil terisak.


"Aku mau ketemu kak Ziana" Aruna bangkit dari duduknya.


"baiklah ayo, kalau bisa bawa Attar, siapa tahu anak itu bisa membuat kak Ziana bangun" ucap Dita penuh harap.


Aruna mengangguk dan menyetujuinya. Mereka berjalan beriringan untuk ke ruangan Ziana.


*****


Jangan lupa tinggalkan Jejak🤗


Like


Komen


Happy Reading 💕💕💕