
Seminggu berlalu kini keadaan Bagas sudah membaik, dsn sudah diizinkan untuk pulang dengan catatan harus meminum obat tepat waktu dan tidak boleh kecapean.
Sama halnya dengan Bagas, Attar yang beberapa waktu yang lalu sempat dirawat pun kini sudah kembali masuk sekolah, dan melakukan aktifitas seperti biasanya.
Sementara itu, sesuai instruksi Ziana, kini Lyan juga telah dipindahkan kerumah sakit yang berada di kota A dan ditangani langsung oleh dokter Valerie.
Lyan telah sadar sepenuhnya, namun karena kondisinya yang belum terlalu membaik, jadi dia memutuskan untuk tidak memberitahu keluarganya.
Sementara itu Alex Fernandez pun kini telah mendekam di balik jeruji akibat laporan yang diberikan oleh Lyan. Bahkan pria yang hampir paruh baya itu terancam hukuman seumur hidup atas pasal berlapis yang menjeratnya.
Lyan sangat berterimakasih kepada Ziana, bahkan pria itu bersedia untuk menjadi asisten pribadinya jika Ziana menginginkan.
Setelah semua masalah yang dialaminya, Ziana akhirnya bisa bernafas lega karena keinginannya akhirnya terwujud, yaitu membongkar kejahatan yang selama ini dilakukan oleh seorang Alex Fernandez.
Seminggu kemudian, tibalah saatnya kasus sidang Alex Fernandez, Lyan datang didampingi oleh Lucas, dan juga Leon adiknya.
Sehari sebelum sidang, Lucas mengabarinya dan meminta pemuda itu untuk bertemu dirumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Lucas langsung membawanya ke sebuah ruangan, awalnya Leon bingung namun setelah sampai didalam, cowok itu hanya terdiam mematung selama beberapa saat sebelum Lucas menyadarkannya dengan menepuk bahunya pelan sambil berbisik "gue udah nepatin janji gue" setelah mengucapkan itu Lucas keluar dan membiarkan keduanya melepas rindu.
Lyan menceritakan semuanya kepada Leon tanpa ada yang pria itu tutup-tutupi, membuat Leon mengepalkan kedua tangannya mendengar kisah tragis yang dialami sang kakak.
Leon sangat berterimakasih kepada Lucas, namun Lucas mengatakan bahwa dirinya hanya membantu sedikit, selebihnya dilakukan oleh Ziana.
Didalam hatinya Leon bersumpah akan melakukan apapun untuk Ziana yang telah menyelamatkan kakaknya dari siksaan yang dilakukan oleh Alex dan anak buahnya.
Kembali ke persidangan, setelah melalui perdebatan yang alot, drama yang panjang, dan menguras energi juga air mata, akhirnya hakim memutuskan untuk memberikan hukuman seumur hidup kepada Alex Fernandez.
Acara dilakukan secara live di stasiun televisi sesuai permintaan Ziana.
Dan tadi sebelum pergi mendampingi Lyan, Leon berpesan kepada ibu dan kakak iparnya untuk menonton televisi karena ada sesuatu yang penting yang akan disiarkan siang nanti.
"Rianaaa" teriak Ibu Lani tidak percaya ketika melihat anaknya sedang berada di layar televisi.
Riana yang kaget mendengar teriakan mertuanya itu segera berlari menghampirinya yang tengah menonton televisi.
"ibu kenapa berteriak" tanya Riana kaget.
"Ria lihat.. itu Lyan.. Lyan anak ibu" ucap Ibu Lani terputus-putus sambil tangannya menunjuk kearah televisi.
Riana ikut menoleh ke arah televisi "mas.. mas Lyan" gumam perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.
Didalam sana terlihat Lyan sedang menceritakan semua kejahatan yang dilakukan oleh Alex selama berkecimpung di dunia bisnis.
Namun pengacara Alex Fernandez membantah tentang tuduhan yang ditujukan kepada clientnya.
Lyan yang didampingi oleh Lucas pun memberikan data-data yang berhasil di restore oleh Lucas sebagai bukti-bukti yang akan memberatkan Alex.
Setelah itu Lyan pun menceritakan tentang dirinya yang disekap oleh Alex Fernandez dan anak buahnya selama berbulan-bulan karena dirinya sudah tidak ingin lagi bekerja di perusahaannya.
Riana dan Ibu Lani menangis mendengar cerita Lyan, mereka tidak menyangka bahwa orang yang mereka sayangi telah mengalami hal seburuk itu.
Kembali pengacara Alex membantah hal itu, namun Ziana telah merencanakan semuanya dengan matang.
Sebelum melepaskan rantai Lyan waktu itu, terlebih dahulu Ziana memotret keadaannya menggunakan ponsel Dian.
Ziana pun telah mengambil hasil visum yang dilakukannya ketika berada di kota S, dan memberikannya kepada Lucas.
Alex dan pengacaranya pun tidak bisa berkutik lagi, karena semua bukti mengarah kepadanya.
Bahkan sebelum persidangan selesai, pengacara Alex Fernandez mengundurkan diri karena tidak bisa melakukan apapun lagi untuk menyelamatkan clientnya yang memang bersalah.
Sebenarnya dari awal pengacara tersebut tidak ingin menerima tawaran Alex, namun karena diancam akhirnya pria yang seumuran dengan Alex itupun terpaksa mengiyakan permintaannya.
Setelah sidang usai, Lucas bersama dengan dokter Valerie mengantar Lyan kembali kerumahnya.
Ibu Lani dan Riana menyambut kedatangan mereka dengan tangis haru.
Kedua wanita itu pun berterima kasih kepada Lucas dan dokter Valerie namun karena merasa tidak pantas menerima permintaan maaf tersebut, Lucas berkata "kami hanya melakukan sebagian kecil saja Bu, selebihnya dilakukan oleh Ziana"
"siapa Ziana?" tanya Ibu Lani penasaran.
"dia adalah orang yang pantas untuk menerima ucapan terimakasih dari anda" ucap Dokter Valerie sambil tersenyum.
"kalau begitu kami permisi" tukas Lucas cepat sebelum ibu Lani bertanya banyak hal tentang Ziana.
"sampaikan rasa terimakasih kami untuk Ziana" ucap Ibu Lani sebelum Lucas dan Valerie meninggalkan halaman rumahnya.
Keduanya kompak menoleh dan mengangguk lalu pergi dari sana.
Sementara itu di apartemennya Ziana sedang terbaring di tempat tidurnya, ya perempuan itu tengah demam tinggi, dan tidak ada siapapun yang menemaninya.
Sekertaris Dita sedang dinas ke kota B menggantikan Ziana, sedangkan pembantu yang biasa bekerja dirumahnya tidak masuk karena pulang kampung.
Dita merasa cemas sebab sudah 2 hari ini nomor telepon Ziana tidak aktif, bahkan Dita sampai harus menghubungi kantor untuk menanyakan keberadaan Ziana.
Namun ternyata sudah 2 hari pula Ziana tidak masuk, Dita yang sedang berada diluar kota tidak bisa berbuat banyak.
Alhasil perempuan itu pun menghubungi Arash untuk mengecek keadaan Ziana di apartemennya karena hanya laki-laki itu yang bisa dipercayai olehnya untuk saat ini.
Dengan senang hati Arash mengiyakan permintaan sekertaris Dita. Tanpa berfikir dua kali Arash langsung menuju ke apartemen Ziana.
Sesampainya disana Arash mengetuk pintu, namun hingga berkali-kali tidak ada yang membukakan pintu untuknya.
Arash berfikir tidak ada siapa-siapa dirumah itu. Tapi sebelum pergi Arash menghubungi sekertaris Dita terlebih dahulu.
Sekertaris Dita lalu memberikan alamat rumah kedua orangtua Ziana.
Saat akan melangkahkan kakinya Arash mendengar suara benda jatuh dari dalam apartemen itu.
Tanpa berfikir panjang laki-laki itu pun menerobos masuk untuk mengecek apa yang terjadi didalam sana, kebetulan pintunya lupa Ziana kunci setelah kemarin menerima makanan yang dipesannya melalui ojek online.
Arash tidak kesulitan menemukan keberadaan asal suara tersebut, sebab didalam apartemen hanya ada 2 kamar tidur yang semuanya berada dilantai 2.
Saat memasuki kamar pertama ternyata kosong, laki-laki itu pun pindah ke kamar yang kedua dan betapa kagetnya ia saat mendapati Ziana yang sudah terbaring dilantai dengan pecahan kaca yang berserakan di sampingnya.
Arash berlari menghampiri Ziana yang sudah tergeletak namun masih sedikit sadar. Setelah mengecek suhu tubuh Ziana yang ternyata sangat panas, Arash langsung mengangkat tubuh perempuan itu lalu membawanya kerumah sakit.
'*ya tuhan tolong selamatkan dia*, **kumohon**' Batin Arash sambil tetap fokus menyetir mobilnya.
\*\*\*\*
Happy Reading 💞💞 💞