
Arash menggendong Ziana sambil berlari memasuki rumah sakit.
Laki-laki itu berteriak seperti orang gila, tidak lama kemudian beberapa suster berdatangan sambil mendorong brankar.
Para perawat itu langsung melarikan Ziana kedalam ruangan UGD, Arash yang tidak diperbolehkan masuk hanya menunggu diluar dengan perasaan cemas dan juga panik.
Bahkan saking paniknya Arash lupa mengabari sekertaris Dita tentang keadaan Ziana.
Beberapa menit kemudian seorang dokter yang baru selesai memeriksa Ziana terlihat keluar dari ruang UGD.
"bagaimana keadaannya dok?" tanya Arash.
"apa anda keluarga pasien?" dokter tersebut balik bertanya.
"saya..saya calon suaminya dok" ucap Arash terpaksa berbohong.
Dokter itu mengangguk "apa anda tidak merawatnya dengan baik?" celetuk dokter laki-laki yang masih nampak muda itu.
"apa maksud anda?" tanya Arash sewot.
"tidak ada, maksud saya pasien sudah mengalami demam selama beberapa hari, dan hal itu lah yang menyebabkan pasien mengalami dehidrasi" jelas dokter itu panjang lebar.
"saya permisi" setelah mengatakan itu dokter tersebut pamit, sementara Arash hanya terpaku setelah mendengar pernyataan dokter yang mengatakan bahwa Ziana telah mengalami demam selama beberapa hari dan sama sekali tidak ada orang yang mengetahui hal itu, termasuk sekertaris Dita maupun Regan yang notabenenya adalah orang yang paling dekat dengannya.
Ziana lalu dipindahkan keruang perawatan VVIP sesuai keinginan Arash. Laki-laki itu ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk sang pujaan hatinya.
Sedari tadi ponsel Arash bergetar, namun karena sibuk mengurus Ziana laki-laki itu membiarkannya saja.
Selesai mengurus semuanya barulah Arash merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menelpon.
Arash mengangkat telepon dari sekertaris Dita lalu memberitahu keadaan Ziana. Laki-laki itu juga mengatakan untuk tidak perlu terlalu khawatir karena Ziana sudah ditangani oleh dokter.
Setelah sambungan telepon mereka terputus Arash meletakkan handphonenya diatas meja, namun baru beberapa detik handphone itu kembali bergetar, dan itu adalah panggilan dari John sekertarisnya.
John mengatakan bahwa meeting dengan client penting sebentar lagi akan dimulai.
Dengan terpaksa Arash meninggalkan Ziana, namun sebelum pergi Arash menitipkan Ziana kepada suster untuk menjaganya.
Laki-laki itu juga mengirim pesan singkat kepada Aruna untuk menemani Ziana dirumah sakit sepulang sekolah.
Sementara itu Aruna yang sedang bersama Leon pun langsung meminta cowok itu untuk mengantarkannya kerumah sakit yang sudah dikirim alamatnya oleh Arash.
Awalnya Leon keberatan, namun setelah Aruna bilang bahwa yang sakit adalah Ziana, Leon pun mengiyakan ajakan kekasihnya.
Ini adalah kesempatannya untuk bertemu dan berterimakasih kepada perempuan yang sudah menyelamatkan nyawa kakaknya.
Leon sudah menceritakan semuanya kepada Aruna tentang masalah keluarganya, dan disitu Aruna menjadi semakin kagum akan sosok Ziana.
Gadis itu pun semakin bersemangat untuk menjodohkan kakaknya dengan Ziana.
Tidak butuh waktu lama untuk keduanya, hanya sekitar 15 menit Aruna dan Leon telah sampai di rumah sakit.
Sebelumnya Arash telah memberitahu ruangan Ziana, jadi mereka hanya tinggal masuk saja.
Sesampainya di ruangan Ziana, terlihat perempuan itu berusaha untuk bangun, namun tidak bisa karena kondisinya yang masih lemas.
Aruna dan Leon dengan cepat menghampiri Ziana dan membantunya untuk duduk.
"kakak gak apa-apa? apa ada yang sakit?" tanya Aruna setelah meletakkan tasnya di sofa. Ziana menggeleng.
"air.." tunjuk Ziana pada gelas yang berisi air putih yang diletakkan pada nakas.
Leon dengan sigap meraih gelas tersebut lalu memberikannya kepada Aruna, supaya gadis itu yang membantunya untuk minum.
Selesai minum, Aruna dibantu oleh Leon kembali membaringkan Ziana dan meminta perempuan itu untuk kembali beristirahat, karena kondisinya masih sangat lemah.
Ziana kembali tertidur setelah beberapa menit.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok perempuan bersama dengan seorang anak kecil.
"Miss Cla" sapa Aruna terlebih dahulu.
Claudia adalah seorang guru yang mengajar disekolah tempat Aruna dan Leon bersekolah.
"loh kalian?" tanya Claudia menatap kedua muridnya secara bergantian.
"kak Zizi.." si kecil Zoey berlari setelah melihat Ziana terbaring di atas brankar.
"kak Zizi.." Zoey lalu memeluk tubuh Ziana sambil menangis setelah melihat keadaan kakaknya yang terlihat pucat.
"sayang kak Zizi nya lagi bobo jangan diganggu dulu ya" ucap Claudia berusaha menenangkan Zoey yang sudah menangis sesenggukan.
"kak Zizi ndak papah kan Ma, kok bibilnya putih-putih sih" tanyanya kepada sang mama setelah tangisnya sedikit reda.
"kak Zizi itu kuat, jadi Zoey tidak perlu khawatir ya sayang" ucap Claudia lagi sambil mengusap lelehan air mata yang membasahi pipi Zoey.
"tapi Ma.."
"Zoey.. Kak Zizi cuma kecapean aja kok, jadi biarkan kak Zizi nya bobo dulu ya, Zoey main sama kakak Aruna dulu yuk" bujuk Aruna.
Aruna memang mengenal gadis kecil itu, dan mereka memang sering bersama jika Zoey sedang ke sekolah, karena Claudia sering mengajaknya jika baby sitter nya sedang cuti.
Sambil menemani Zoey bermain, Aruna dan Leon terlibat obrolan ringan tentang kenapa dan bagaimana bisa mereka ada dirumah sakit dan menjaga Ziana.
Aruna menjelaskan semuanya, bahwa kakaknya yang bernama Arash yang sudah membawa Ziana kerumah sakit, namun karena harus menghadiri rapat jadilah Arash meminta Aruna untuk menggantikannya menjaga Ziana.
Claudia terlihat mengangguk-angguk. Aruna tanpa sadar bertanya tentang hubungan Claudia dan Ziana.
Claudia menjelaskan bahwa Ziana adalah anak sambungnya. Aruna terkejut mendengar hal itu begitupun dengan Leon.
Sementara itu di perusahaan Wijaya Group Arash baru saja keluar dari ruang meeting dan langsung kembali ke ruangannya diikuti oleh John sekertarisnya.
Arash lalu membuka jasnya kemudian mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja, lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan John yang sedari tadi mengekorinya.
Sekertaris itu mengacak rambutnya sendiri sambil mengumpat kecil.
"saya dengar John" seloroh Arash yang ternyata masih berdiri di dekat pintu ruangannya karena sedang menggulung lengan kemejanya.
'mampus' gumam sekertaris tersebut sambil menunduk tanpa berani mengangkat kepalanya.
"mana yang harus saya tandatangani" ucap Arash yang sudah berdiri tegap di samping sekertarisnya yang masih setia menunduk itu.
"apa lantai itu yang mengajakmu berbicara" ucap Arash sarkasme.
"maaf tuan" jawab John masih sambil menunduk, membuat Arash berdecak kesal.
"cepat, atau kamu mau saya pecat" ucap Arash tegas setengah membentak.
"ampun tuan jangan pecat saya, istri saya tengah mengandung" ucap John memelas, sambil memberikan beberapa berkas yang harus di tandatangani oleh Arash.
Arash hanya memutar bola matanya lalu kemudian menandatangani berkas tersebut, setelah itu meninggalkan ruangannya sambil membanting pintu cukup keras, membuat John yang masih berada didalam terlonjak kaget.
Sang sekertaris itu hanya bisa mengusap dadanya menghadapi seorang Arash Wijaya yang moodnya sering sekali berubah akhir-akhir ini.
Sementara itu Arash yang baru saja sampai diparkiran dan berniat untuk kembali kerumah sakit, mengurungkan niatnya setelah mendapat telepon dari Bryan.
Bryan mengatakan bahwa Agler berhasil kabur dari tempat penyekapan, dan memintanya untuk berkumpul di markas.
Arash pun langsung berbelok arah ke markas The Braves, untuk membahas masalah Agler bersama dengan Bryan dan Lucas.
****
Happy Reading 💞💞 💞