About Ziana

About Ziana
chapter 111



"kenapa kau malah pergi dan tidak menemuinya?" tanya Luis saat telah masuk kedalam mobil bersama dengan Zara.


"ini bukan waktu yang tepat, aku tidak ingin mengacaukan semuanya" jawab Zara menunduk.


"kau tau sendiri kan, kesalahan apa yang sudah kulakukan? pasti sulit baginya untuk memaafkan dan menerimaku kembali" Zara mulai terisak.


"oke, aku mengerti perasaanmu, tapi mau sampai kapan kau akan terus menunda pertemuan kalian?"


Zara hanya mengangkat kedua bahunya, dirinya pun tidak tahu sampai kapan.


Zara takut kalau Ziana akan menatapnya dengan pandangan benci, Zara tidak sanggup dengan itu.


"aku terlalu pengecut untuk menghadapi putriku sendiri" ujar Zara setelah isak tangisnya mulai sedikit mereda.


Luis menghela nafasnya "yasudah, ayo kita kerumah sakit bukankah hari ini kau ada jadwal check up?"


Zara menoleh kearah Luis sambil mengangguk dengan wajah memerah setelah menangis.


Luis meraih tissue dan menyodorkannya kedepan Zara "sebelum kita pergi hapus dulu air matamu itu, aku tidak ingin di cap sebagai pria yang suka membuat wanita menangis" ucapnya.


Zara tertawa kemudian meraih tissue tersebut "terimakasih" ujarnya tulus.


Luis tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Zara, membuat Zara salah tingkah.


🌹🌹🌹


Sementara itu di kantor Wijaya Group seorang perempuan yang terlihat anggun baru saja turun dari mobil dan berjalan kearah lobby.


"saya ingin bertemu pak Arash Wijaya, apa dia ada di ruangannya?" tanya perempuan itu setelah sampai di depan meja resepsionis.


"maaf apa anda sudah ada janji sebelumnya?" tanya penjaga resepsionis dengan sopan.


"harus ada janji ya? aduh mana saya kesini secara mendadak lagi"


"apa tidak bisa bertemu sebentar saja mba" perempuan itu berusaha bernegosiasi.


"maaf Bu, tapi itu sudah menjadi peraturan dari pak Arash sendiri"


"baiklah aku mengerti, tapi apa saya boleh menunggu disana sampai pak Arash keluar? ada hal penting yang harus saya bicarakan dengannya" kata perempuan itu menunjuk kursi tunggu yang berada di pojok kiri.


"boleh Bu silahkan"


"baik terimakasih"


Perempuan itu pun akhirnya memilih untuk duduk dan menunggu sampai Arash keluar.


Sementara itu didalam ruangannya Arash sedang telponan dengan Ziana.


Hari ini mereka janjian untuk melakukan fitting baju, dan Ziana sudah ada di jalan dan sedang menuju ke perusahaannya.


Arash tidak bisa menjemput karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan sebelum mereka pergi, jadilah Ziana mengambil inisiatif untuk mendatanginya.


setelah panggilan mereka terputus, Arash beralih menghubungi resepsionis untuk mengabari bahwa jika ada perempuan yang bernama Ziana yang ingin menemuinya langsung saja suruh naik ke ruangannya.


Resepsionis itu pun mengira bahwa perempuan yang dimaksud adalah perempuan yang sedari tadi duduk di kursi tunggu.


"benarkah?" tanya perempuan itu tidak percaya.


"iya Bu, barusan beliau menelpon dan meminta anda untuk langsung ke ruangannya saja"


"baiklah kalau begitu, terimakasih ya mba" ucap perempuan itu kemudian meraih tasnya dan bergegas naik sesuai arahan sang resepsionis.


Baru saja perempuan itu naik, perempuan lain kembali datang dan menanyakan ruangan Arash.


"maaf apa anda sudah ada janji dengan pak Arash sebelumnya?" tanya resepsionis itu.


"sudah, baru aja saya selesai menelponnya" kata perempuan itu yang tidak lain adalah Ziana.


"apa anda yang bernama nona Ziana?" tanya resepsionis itu harap-harap cemas.


"iya saya Ziana" jawab Ziana cuek, sedangkan resepsionis itu sudah pucat mendengar jawaban perempuan yang berdiri di hadapannya.


"mba..mba apa saya bisa bertemu pak Arash?" tanya Ziana menyadarkan sang resepsionis.


"oohh.. ii..iyaa bu bisa, ruangan pak Arash ada di lantai 10" jawab resepsionis itu gugup.


"baik terimakasih"


Setelah mengetahui ruangan Arash, Ziana pun langsung menuju lift dan memencet angka 10 sesuai yang diberitahu oleh resepsionis didepan.


🌹🌹🌹


tok


tok


tok


Pintu ruangan Arash diketuk dari luar.


Arash yang mengira bahwa itu adalah Ziana pun langsung saja menyuruhnya masuk.


Arash masih fokus dengan berkas-berkas di depannya tanpa menoleh kearah orang yang tadi mengetuk.


Merasa tidak ada pergerakan dari orang yang dikiranya Ziana, Arash berucap "kenapa masih berdiri disana sayang, ayo masuk dan duduklah, tunggu aku menyelesaikan ini dulu" Arash terus berucap tanpa melihat kearah orang tersebut.


Perempuan itu pun berjalan masuk secara perlahan dengan dada yang berdegup kencang karena Arash memanggilnya dengan panggilan sayang untuk pertama kalinya.


saking gugupnya perempuan itu lupa untuk menutup pintu.


Jantung Ziana bergemuruh mendengar Arash memanggil perempuan lain dengan panggilan sayang.


Tanpa mengucapkan apapun Ziana berbalik arah dan pergi dari sana dengan perasaan kecewa.


***


Happy Reading 💞💞 💞