
Di sisi lain terlihat Dian mengendarai motor sport yang selalu Dian pakai jika ada misi yang mengharuskannya berpindah-pindah tempat
Dian telah mendapatkan alamat orang tua kandungnya melalui Fero dan Tristan. Oleh sebab itulah Dian nekat pergi tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Jessica yang sudah menganggap Dian sebagai adiknya sendiri.
Bukan Dian tidak membutuhkan bantuan Jessica dan yang lain, namun gadis itu tidak ingin terus-menerus merepotkan kakak-kakaknya yang selama ini sudah
begitu baik kepadanya dan sering membantunya.
Tadi sepulang sekolah Dian langsung berangkat, setelah meminta izin kepada Ibu Dewi dengan alasan ingin menginap di rumah teman karena ada tugas kelompok yang harus mereka selesaikan.
Dian sengaja berbohong demi kesehatan sang ibu yang selama ini sudah begitu baik kepadanya.
Dian khawatir ibu akan mencemaskan dirinya jika berkata jujur ingin mencari kedua orang tua kandungnya diluar kota.
Sekitar pukul 7 malam barulah Diandra tiba di kota B akibat terhalang macet.
Dian menepikan motornya di dekat sebuah kedai pinggir jalan untuk mengisi perutnya yang sejak tadi berbunyi meminta diisi
Dian berjalan memasuki kedai tersebut dengan santai tanpa memperdulikan tatapan dari segerombolan pria yang sedang nongkrong tidak jauh dari kedai tersebut.
Setelah Dian mendudukkan dirinya pada sebuah kursi plastik, seorang ibu-ibu yang berusia sekitar 30 an tahun menghampirinya dan bertanya dengan sopan dan ramah.
"Mau pesan apa neng?"
"Nasi pecel 1 ya Bu" sahut Dian
"Kalo minumnya apa Neng?" Tanya ibu-ibu itu lagi, yang Dian yakini adalah pemilik kedai tersebut.
"Es teh manis ada Bu?" Tanya Dian balik dengan nada sopan.
Ibu tersebut tersenyum sebelum menjawab "ada Neng.."
"Ya udah es teh manisnya 1, sama air mineralnya juga 1 ya Bu" pinta Dian sopan
"Siap Neng.." ujar ibu-ibu tersebut kemudian pamit kebelakang untuk mengambilkan pesanan Dian
Selama menunggu pesanannya datang Dian hanya diam sambil melamun memikirkan akan seperti apa pertemuan pertamanya nanti dengan orang tua kandungnya.
Hingga tanpa sadar salah satu dari gerombolan pria yang tadi memperhatikannya telah duduk di kursi yang berada tepat didepan Dian.
"Hai Neng sendirian aja nih, mau Abang temenin gak?" Goda Pria itu langsung mengeluarkan rayuannya begitu duduk di sana hingga membuat Dian terlonjak kaget.
"Maaf saya tidak kenal dengan anda, jadi sebaiknya anda pergi dari sini" ucap Dian dengan nada dingin
"Wahh.. Eneng cantik-cantik galak juga ternyata, bikin Abang tambah suka" goda pria itu lagi sambil terus menatap Dian dengan tatapan mes*mnya
Dian yang merasa terganggu berusaha untuk tetap sabar dan menahan diri untuk tidak terpancing emosi, jangan sampai dia lupa dengan tujuannya datang ke kota tersebut.
"Anda sebaiknya pergi dari sini selagi saya masih bicara baik-baik dengan Anda" kata Dian dengan datar
Ibu-ibu yang tadi membuatkan pesanan Dian, gemetar ketakutan saat melihat keberadaan Bang Johan sedang duduk di hadapan pelanggannya.
Dengan langkah pelan, ibu-ibu pemilik kedai itu berjalan mengantarkan pesanan Dian.
"P..pe..permisi Neng ini pesanannya" ucap ibu-ibu tersebut tergagap sambil meletakkan nampan berisi pesanan Dian seraya menunduk ketakutan, tidak seceria saat pertama melayani Dian.
Dian merasa aneh dengan perubahan ibu-ibu itu. Namun karena tidak ingin ikut campur, Dian memilih untuk cuek "terimakasih Bu" ucap Dian seraya tersenyum tipis.
Tanpa membalas ucapan Dian, ibu-ibu tersebut langsung berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan tergesa-gesa.
Namun baru beberapa langkah pria yang berada didepan Dian tiba-tiba memanggilnya "Hei.. sini kamu" teriak bang Johan lantang
sehingga mau tidak mau ibu-ibu itu pun berhenti dan kembali menghadap kepada pria tersebut.
Pria yang bernama bang Johan itu merupakan seorang bos preman yang terkenal sangat kejam dan tidak kenal ampun kepada siapapun yang berani menentang keinginannya.
Semua orang di daerah itu tunduk dan tidak ada yang berani berurusan dengan Bang Johan karena nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya.
"Ii..iya Bang.." lirih ibu tersebut setelah berdiri dan menunduk dihadapan Bang Johan.
"Bawakan makanan seperti yang dipesan oleh kekasihku" pintanya sambil menunjuk pesanan Dian yang sudah tersaji di atas meja
Baru saja Dian ingin melahap makanannya namun urung saat ia mendengar pria itu mengklaim dirinya sebagai kekasih.
Dian memicingkan matanya, perkataan pria itu nyatanya sukses memancing kemarahan yang sejak tadi sudah Dian tahan.
Niat hati tidak ingin berurusan dengan pria itu namun karena tindakan dan perkataannya yang sudah diluar batas sehingga membuat Dian tidak tahan lagi untuk tidak menghajar mulut kurang ajar dari pria itu.
"Hei.. kenapa masih berdiri disitu, cepat bawakan makanan, gua lapar" bentak Bang Johan karena ibu pemilik kedai itu tidak mengindahkan permintaannya.
"Berani lo ngebantah perintah gua? cepat!!! Atau lo mau kedai jelek ini gua hancurin!!" Bentak Bang Johan seraya berdiri dan menatap ibu pemilik kedai tersebut dengan tatapan tajam
Ibu tersebut pun tidak ada pilihan selain menuruti perintah bang Johan. Ibu tersebut tidak ingin kedai yang menjadi sumber penghasilannya sampai dihancurkan.
Ibu itu segera berbalik untuk kebelakang dan membuatkan pesanan Bang Johan sebelum pria itu benar-benar menghancurkan kedai miliknya.
Namun langkahnya terhenti "tunggu Bu.." teriak Dian yang masih duduk dengan tenang di kursinya.
Ibu pemilik kedai tersebut kembali menghadap kearah Dian dengan wajah bingung.
"Ibu tidak perlu kemana-mana, disini saja temani saya makan" pinta Dian dengan santai
Namun pria yang masih berdiri didepannya yang tidak santai mendengar perkataan Dian.
"Ta..tapi Neng.." lirih ibu tersebut menatap Dian takut bercampur khawatir 'kasihan sekali gadis cantik ini sudah salah mencari lawan' batin ibu-ibu tersebut.
Dian berdiri dan menghampiri ibu tersebut "lain kali kalau ada yang mau ngutang lagi jangan diladeni Bu, bikin rugi" celetuk Dian seraya menuntun ibu terus sambil matanya melirik bang Johan yang terlihat mengepalkan kedua tangannya.
Dian tersenyum smirk 'kena kau' batinnya
"Apa maksud lo? Jangan mentang-mentang karena lo cantik, jadi gue akan diam saja, Tidak" sungut Bang Johan penuh emosi
Namun Dian yang melihat itu hanya tersenyum miring, berbeda dengan pemilik kedai tersebut yang sudah gemetar sedari tadi karena tahu bahwa Bang Johan tidak akan melepaskan siapapun yang sudah mengusiknya.
"Anak-anak.." teriaknya memanggil anak buahnya yang berjumlah 4 orang.
Keempat pria berandalan yang tadi dipanggil pun terlihat berlari kearah bang Johan.
"Ada apa nih Bang, tumben ada cewek cakep manggil-manggil kita" celetuk salah satu dari mereka.
"Tangkap perempuan itu dan bawa dia ke markas" titahnya sambil menunjuk Dian yang tidak bergeming dari posisinya berdiri.
Sedangkan Ibu-ibu tadi sudah berlari masuk dan bersembunyi atas perintah Dian.
"Beres bos, serahkan semuanya sama kita" ucap salah satu anak buahnya yang terdengar angkuh.
Dian tersenyum lebar saat melihat hanya ada 2 orang anak buah Bang Johan yang maju.
Dian segera memasang kuda-kuda dan menghitung langkah kaki keduanya dalam hati. Gadis itu menyeringai, kemudian dengan cepat dia berlari dan melompat kearah kedua berandalan itu.
Bagh..Bugh..
Kedua pria itu terjatuh setelah menerima tendangan telak dari Dian yang tepat mengenai dadanya.
Semua orang melongo tak percaya melihat atraksi yang diperlihatkan oleh Dian.
Bang Johan naik pitam melihat kedua anak buahnya tumbang secepat itu "bod*h kenapa kalian diam saja, cepat tangkap perempuan itu!!!" perintahnya dengan suara keras
Kedua anak buahnya yang lain segera maju, perkelahian pun tak terelakkan.
Di sisi lain terlihat Ziana sedang membantu membaringkan Arash di atas ranjang perawatan setelah Bryan, Lucas, Valerie dan Dita pamit pulang karena sudah larut malam.
"sayang kamu mau kemana?" tanya Arash seraya menarik tangan Ziana, saat melihat istrinya itu beranjak setelah membantunya berbaring.
"aku mau ke kamar mandi, kamu mau ikut?" ujar Ziana jengah dengan tingkah Arash yang semakin hari semakin manja saja
"he he he gak sayang" Arash tertawa hambar ketika menatap ekspresi Ziana.
Ziana memutar bola matanya malas sebelum meninggalkan bayi besarnya yang manjanya melebihi Attar.
\*\*\*\*\*