About Ziana

About Ziana
Chapter 138



Mobil yang dikendarai Lyan berhenti didepan sebuah rumah minimalis bercat putih milik salah satu teman lamanya. Lyan turun dari mobil, kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut.


Tok..tok..tok..


Lyan mengetuk pintu kayu tersebut dan tidak lama seorang pria yang seumuran dengannya membukakan pintu "eehh.. udah datang Yan" sapa orang tersebut keduanya pun terlihat bersalaman ala pria setelah itu dia mengajak Lyan untuk segera masuk.


"silahkan masuk" ajak orang tersebut mempersilahkan Lyan masuk, Lyan pun tanpa sungkan segera melangkahkan kakinya memasuki rumah temannya itu.


Sesampainya didalam Lyan mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan tersebut. Rumah itu sangat nyaman, jika dilihat dari luar, rumah itu terlihat sangat minimalis namun setelah sampai didalam ternyata ruangannya begitu luas.


"duduk dulu bro, gue kebelakang bentar" ucap temannya sambil menunjuk kearah belakang menggunakan jempol tangannya. Belum sempat Lyan membalas ucapannya pria itu sudah melesak masuk, sedangkan Lyan memilih untuk kembali menatap rumah temannya itu dengan tatapan kagum yang kentara.


Tidak berapa lama, teman Lyan kembali dengan nampan di tangannya yang berisi 2 gelas minuman dingin dan satu toples makanan ringan.


"sorry adanya cuma ini, dirumah lagi gak ada siapa-siapa soalnya" ucap pria itu yang diketahui bernama Sammy.


"gapapa, lo harusnya gak usah repot-repot gini" jawab Lyan sungkan "apa sih Yan kayak ama siapa aja lo" celetuk Sammy seraya tertawa kecil.


"oh iya emang orang dirumah pada kemana?" tanya Lyan yang sudah penasaran sejak tadi, karena Sammy sudah beristri dan pria itu juga telah mempunyai 2 orang anak perempuan.


"mereka lagi pergi"


"kok lo gak ikut?" kata Lyan "yeee.. kalo gue ikut siapa yang mau ngejamu elo disini dodol" ujar Sammy yang langsung membuat Lyan tersedak minuman yang sedang diminumnya.


"oh iya btw gue penasaran, lo tumben banget mampir, ada apa?" tanya Sammy setelah meneguk minumannya sendiri.


"gue butuh bantuan lo"


"bantuan?" tanya Sammy heran.


Lyan pun menceritakan tentang kasus yang sedang ingin dia pecahkan kepada Sammy. oh iya bercerita tentang Sammy sedikit, dia adalah seorang detektif yang sudah banyak mengungkap kasus-kasus berbahaya. Sammy juga merupakan teman masa sekolah Lyan.


Sammy mendengarkan cerita Lyan dengan seksama dan mencatat beberapa point penting. Lyan juga memberikan foto yang ditemukan Ziana di mobil yang digunakan pelaku, dan juga rekaman cctv saat kecelakaan itu terjadi.


Oh iya foto tersebut Ziana kirimkan pagi tadi, saat dirinya tiba di apartemen, menggunakan jasa kurir.


"baik gue akan bantu sebisa mungkin" ujar Sammy. "thanks ya Sam sorry gue ngerepotin elo" kata Lyan yang merasa tidak enak.


"heii bung.. anda lupa bahwa ini memang pekerjaan ku" ujar Sammy dengan nada bercanda, membuat keduanya tertawa bersama.


Setelah itu Lyan pun pamit pulang, karena masih ada hal yang harus dia urus.




Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan kini waktu yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya tiba. Pernikahan antara 2 orang penguasa bisnis di kota itu pun akan digelar hari ini tanggal 31 Desember 20xx.



Sejak pagi tadi hotel yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara sudah ramai oleh lalu-lalang para tamu yang ingin menyaksikan secara langsung pernikahan yang digadang-gadang akan menjadi pernikahan termegah tahun ini.



Meskipun Ziana belum memperkenalkan dirinya kepada masyarakat luas, namun seluruh masyarakat sudah mengetahui bahwa kedua calon mempelai merupakan penguasa bisnis, namun hanya itu yang mereka ketahui, karena hingga detik ini belum ada yang pernah melihat wajah dari pemilik perusahaan nomor 1 itu, karena selama ini hanya sekertarisnya Dita lah yang selalu menghadiri acara yang diselenggarakan oleh rekan bisnisnya.



Bahkan Arnan yang merupakan calon mertuanya pun baru mengetahui semalam, bahwa Ziana, yang kini berstatus sebagai calon menantunya itu merupakan pemilik dari perusahaan Callista Group.




Gemuruh para keluarga dan sahabat menggema setelah Arash berhasil mengucapkan Ijab Kabul dengan lantang dalam sekali tarikan nafas, dan kata SAH pun terucap.



Setelah pembacaan doa dan penandatanganan buku nikah, mereka pun kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak, karena nanti malam akan menjadi malam resepsi yang pastinya akan menguras tenaga.



Sesampainya di hotel Arash melakukan protes karena kamarnya dengan Ziana masih harus di pisah, sedangkan mereka telah sah beberapa menit yang lalu.



"ck.. udah sana masuk kamar, kamu tuh malu-maluin mama aja, udah bangkotan juga" celetuk mama Arianna yang kesal melihat tingkah anaknya yang kekanakan.



Perkataan mama Arianna barusan sukses mengundang tawa semua orang yang mendengarnya, apalagi Lucas. Calon ayah itu tertawa hingga mengeluarkan air matanya.



Karena malu telah menjadi bahan tertawaan, Arash pun pergi dari sana dengan wajah yang memerah. Setelah kepergian Arash, Ziana pun pamit untuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat, sehingga satu-persatu dari mereka pun meninggalkan perkumpulan itu.



Sesampainya dikamar, Ziana langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Acara hari ini benar-benar menguras tenaga perempuan itu, hingga tanpa sadar Ziana tertidur dengan kaki yang masih menjuntai ke lantai.



Beberapa saat setelah Ziana tidur, pintu kamarnya yang memang tidak terkunci itu terlihat terbuka dari luar.



Pelakunya adalah Arash.



Laki-laki itu kembali menutup pintu dengan pelan, kemudian menguncinya dari dalam. Setelah itu Arash melangkahkan kakinya menuju ranjang, dimana Ziana sedang terlelap. Arash memperhatikan gaya tidur Ziana seraya tersenyum tipis.



Arash lalu mengangkat perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu dan membenarkan posisi tidurnya. Setelah itu Arash pun membaringkan tubuhnya disebelah Ziana, kemudian tangannya bergerak untuk memeluk perempuan itu.



Ziana yang merasa nyaman dalam pelukan Arash pun mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap kearah Arash, kemudian dia menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Arash seraya membalas pelukan suaminya tersebut.



Arash tersenyum dengan respon Ziana



Akhirnya siang itu mereka lalui dengan tidur siang dalam keadaan saling memeluk. Hanya pelukan, tidak ada yang lain.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...