
Seorang kakek yang hampir berusia 70 tahun itu menatap gerak-gerik Robin dengan penuh tanda tanya. Pasalnya selama 20 tahun Robin mengikutinya, baru kali ini dia melihat asistennya itu sangat gelisah, seperti sedang ada sesuatu hal yang terjadi.
Pria yang masih terlihat gagah diusianya yang tidak lagi muda itu memegang kedua bahu Robin dan menatapnya dengan pandangan hangat, seperti tatapan seorang ayah
kepada anaknya.
"Kalau kamu ada masalah, jangan pernah sungkan untuk cerita kepada saya" ucap kakek Abian tulus.
Robin mengangkat kepalanya dan melihat kepada tuannya, yaitu kakek Abian, sosok pria yang menjadi panutan baginya setelah ayah kandungnya, dan juga selalu memperlakukan dirinya seperti seorang anak, bukan bawahan "terimakasih tuan, tapi saya sedang tidak
ada masalah apapun"
hanya kalimat itu yang bisa Robin ucapkan, dia tidak sanggup untuk menyampaikan suatu kebenaran kepada pria tua itu, mengingat bahwa kesehatan dari kakek Abian yang tidak terlalu baik sekarang.
Kakek Abian tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Robin pelan.
"ingatlah satu hal, kapanpun kamu butuh datanglah kepadaku. Kamu bukan hanya
anak Rohit sahabatku, tapi kamu juga sudah ku anggap sebagai anakku" ucap Abian sebelum melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Robin tidak bergeming dari tempatnya berdiri, dengan tangan yang terkepal erat. Hati pria berusia 43 tahun itu terasa berdenyut nyeri mendengar ucapan kakek Abian yang terdengar begitu tulus, namun ia malah membalasnya dengan sebuah kebohongan.
'apa yang harus kulakukan?' batinnya bertanya kepada dirinya sendiri.
Sementara itu ditempat lain, Jessica baru saja memasuki sebuah ruangan bawah tanah dimana ia menyekap kedua pria berbadan besar, atas perintah queen-nya.
Tadi setelah selesai berbicara dengan Ziana, ia langsung pergi dari cafe meninggalkan kedua sahabat lucknutnya.
Melihat kedatangan Jessica, kedua pria berbadan besar itu langsung menutup matanya. Entah mereka pura-pura tidur, atau pingsan Jessica tidak perduli.
Perempuan itu berjalan dengan santai menuju sofa yang tersedia disana dan mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu.
Jessica tahu bahwa kedua pria itu sedang bersandiwara namun ia hanya diam dan membiarkan mereka saja. Karena tugasnya sekarang hanya untuk mengawasi agar jangan sampai mereka kabur, sebelum Ziana
datang untuk menginterogasi mereka
secara langsung.
Membayangkan diinterogasi oleh Ziana membuat perempuan itu bergidik. Pasalnya dia pernah beberapa kali menyaksikan queen-nya itu menginterogasi orang dengan cara yang sangat kejam, apabila mereka tidak ingin buka mulut.
"kalo gue sih mendingan jujur dari sekarang" gumam Jessica menatap kedua pria yang menjadi tawanannya.
Malam harinya
Terdengar pintu kamar Ziana diketuk seseorang dari arah luar.
*tok...
tok..
tok*..
Dengan langkah pelan wanita itu berjalan menuju pintu, untuk melihat siapa gerangan yang datang. Namun saat sampai, dia tidak melihat siapapun, hanya ada sebuah paper bag yang tergeletak dilantai depan kamarnya.
Ziana bingung karena tiba-tiba menerima sebuah paper bag yang berisi sebuah gaun berwarna putih yang terlihat simpel namun juga elegan.
Dan di dalam paper bag itu terdapat sebuah kertas kecil persegi yang berisi note dari
sang pengirim.
*Gaun yang cantik untuk wanita yang special*.
I love you*..
*your husband* *Arash*.❤️
Kedua sudut bibir Ziana tertarik keatas melihat note kecil yang ditulis oleh Arash.
Wanita itu kembali menutup pintu kemudian berjalan menuju cermin besar seraya membawa paper bag tadi bersamanya.
Dia mengambil isi dari paper bag tersebut kemudian menempelkannya didepan tubuhnya, untuk melihat apakah cocok atau tidak dengannya.
Senyum itu semakin merekah saat melihat pantulan dirinya dalam cermin tersebut, gaun pilihan Arash ternyata sangat pas dan cocok untuknya.
Dimasukkannya kembali gaun tersebut kedalam paper bag, lalu kemudian meraih handuk dan berjalan menuju kamar mandi.
Meskipun bagian bawahnya masih terasa sakit saat berjalan, namun Ziana memaksa untuk tetap berjalan, walau terlihat sedikit aneh, wanita itu tidak perduli, toh tidak ada siapa-siapa dikamar ini selain dirinya.
Tidak ingin membuat Arash menunggu terlalu lama, Ziana segera mandi dan bersiap untuk ke lokasi yang disebutkan oleh sang suami.
"terimakasih tuhan, akhirnya gue bisa keluar dari Vila ini dan menghirup udara segar" gumam Ziana dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya.
Ziana tiba ditempat yang disebutkan oleh suaminya.
Wanita itu berjalan pelan, menyusuri jalanan yang terlihat indah dengan taburan kelopak bunga mawar yang merupakan bunga favoritnya.
Dan diujung sana terlihat sang suami telah berdiri dengan gagah dan menyambutnya dengan senyum lembut yang terus menghiasi wajah tampannya yang semakin tampan.
Ziana membalas senyuman Arash dengan tersenyum kecil seperti yang sering ia lakukan selama ini.
Arash mengulurkan tangannya dan menuntun Ziana untuk duduk disebuah kursi yang telah disediakan, lengkap dengan meja dimana diatasnya penuh dengan berbagai makanan yang sebagian besar adalah makanan favorit Ziana.
"kamu yang nyiapin semua ini?" tanya Ziana setelah duduk.
Arash mengangguk
"gimana? apa kamu suka?" tanyanya balik.
Ziana menatap ke sekeliling arah yang juga telah dihias oleh lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip.
"lumayan.." ujarnya.
Arash menghela nafas, padahal dirinya sudah susah payah menghias tempat itu seorang diri, namun Ziana hanya mengatakan lumayan. 'sungguh sulit membuat wanita itu takjub' pikirnya.
"tapi aku suka bunga mawarnya.." ujar Ziana lagi dengan senyum yang mengembang, membuat Arash ikut menarik sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan senyum.
Akhirnya makan malam romantis itu pun berjalan dengan lancar, dan Ziana tampak sangat menikmati makanannya, sehingga membuat Arash menarik nafas lega.
Setelah dinner, mereka tidak langsung kembali ke vila, melainkan memilih untuk menghabiskan waktu mereka untuk sekedar bercerita dan bertukar pikiran.
...****************...