
Ziana tiba di hotel tempat diadakannya acara pernikahan Regan.
Semua mata tertuju padanya ketika perempuan itu menginjakkan kakinya di aula.
Mereka semua berdecak melihat kecantikan Ziana, meskipun seorang CEO namun tidak banyak yang mengetahui tentang siapa sebenarnya seorang Ziana, sebab sekertaris Dita lah yang selalu menghadiri acara-acara perjamuan yang diadakan oleh rekan bisnisnya.
Arash yang berada di sana pun ikut terpesona melihat kecantikan dan keanggunan seorang Ziana, hingga laki-laki itu tanpa sadar membuka mulutnya, beruntung Bryan yang berada di dekatnya langsung menyenggol lengannya, jika tidak, mau ditaruh di mana mukanya jika ada yang melihat kejadian memalukan itu.
Lucas yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu mendapat ide gila dalam kepalanya.
Dia pun mendekat kepada Arash dengan kamera ponsel yang menyala.
"cantik ya bro" bisik Lucas kepada Arash.
Arash yang seperti terbius akan kecantikan Ziana pun hanya mengangguk-angguk "cantik banget" gumamnya.
"lo suka kan bro sama dia?" Lucas kembali berucap dengan nada berbisik.
sedangkan yang ditanya hanya mengangguk.
Lucas terus saja melakukan aksinya hingga Bryan menjadi jengah melihat keusilan Lucas dan kebodohan Arash.
Laki-laki dingin itu pun merebut paksa ponsel Lucas yang kameranya masih menyala.
"yahh.. Bry jangan diambil ponsel gue" Lucas terkejut dan berusaha mengambil kembali ponselnya dari tangan Bryan.
"jangan buat ulah" peringat Bryan.
Keributan yang dilakukan oleh Lucas dan Bryan membuat Arash tersadar dari tampang bodohnya.
"ck..kalian berdua bisa diem gak, malu tau diliatin orang, dimana wibawa kalian" maki Arash kepada kedua sahabatnya.
'cih ngomongin wibawa sendirinya gak ada wibawanya, liatin cewe ampe mangap' dengus Lucas dalam hatinya.
Selepas itu mereka berdua langsung terdiam saat menyadari bahwa ternyata benar, semua mata tertuju pada mereka berdua.
Kembali kepada Ziana, perempuan itu terlihat cuek dan terus berjalan hingga sebuah suara membuatnya berhenti dan menoleh ke asal suara itu.
"kak Zizi..."
Ziana yang merasa tidak asing dengan suara itu langsung menoleh, dan ternyata dugaannya benar, itu adalah suara Zoey adik kecilnya.
Perempuan itu pun berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya menyambut sang adik.
Zoey berlari menghampiri Ziana dan langsung berhambur kedalam dekapan sang kakak.
"Zoey kangen banget cama kak Zizi" ucap anak kecil itu sembari menangis didalam dekapan hangat Ziana.
"loh..kok princess nya kakak nangis" ujar Ziana mengusap punggung adik kecilnya yang bergetar.
Ziana merasa bersalah, karena selalu membuat sang adik menangis ketika mereka bertemu.
Selang beberapa menit Ziana melerai pelukannya ketika merasa Zoey telah berhenti dari tangis pilunya.
Ziana lalu menghapus jejak air mata yang masih menempel di pipi si kecil Zoey.
Pemandangan itu tidak luput dari pandangan semua orang, termasuk Arash. Ziana sepertinya memang memiliki magnet untuk merebut perhatian anak kecil pikir Arash.
"Zoey kesini sama siapa sayang?" tanya Ziana.
"cama Mama tuh" Zoey menunjuk Claudia dengan tangan mungilnya.
Claudia yang hanya memperhatikan keduanya dari jauh, akhirnya mendekat dan menyapa Ziana.
"Mama Cla" Sapa Ziana, perempuan itu berdiri dan menyalami tangan Claudia mama sambungnya.
"kamu dari mana saja Zi, kamu tahu? Regan sedari tadi cemas nungguin kamu" ucap Claudia.
"benarkah? tadi aku ada urusan sebentar" ujar Ziana sedikit berbohong.
"yasudah sebaiknya kamu temui Regan, kasian dia malah mencemaskan mu dihari bahagianya" kata Claudia memberi arahan.
"iya Ma, kalau begitu aku temui Regan dulu" izin Ziana diangguki Claudia.
"Zoey, kakak kesana dulu ya, kamu tunggu disini oke" pamit Ziana.
"oke kak" jawab Zoey.
Dari tempatnya di pelaminan Regan bernafas lega melihat kedatangan Ziana dan Dita yang mengikuti dibelakangnya.
Pria itu langsung berdiri dan menghampiri Ziana, tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan aneh.
"Kau ini dari mana saja hah?" maki Regan.
"kau tau betapa cemasnya aku, jangan buat aku khawatir seperti ini lagi" Regan langsung memeluk tubuh Ziana.
Ziana merasa terharu dengan perlakuan Regan, pria dewasa itu benar-benar totalitas sekali menganggapnya seperti adik.
Namun Ziana tidak ingin Regan melihatnya, jadi perempuan itu pura-pura memutar bola matanya. "kau ini lebay sekali" ejeknya tanpa membalas rengkuhan Regan.
Regan langsung melepas pelukannya dan menarik telinga Ziana dan membuat sang empunya mengadu kesakitan.
Semua orang semakin menatap aneh kepada mereka berdua termasuk mempelai wanitanya. Sedangkan Claudia yang melihat itu hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Sudah lama sekali dia tidak melihat pemandangan seperti itu dari anak sambungnya.
Sedangkan Arash merasa tidak senang melihat pandangan orang-orang termasuk keluarga pengantin wanita yang menatap Ziana seperti seorang pengganggu bagi pernikahan putrinya.
******
Happy Reading 💞💞 💞