About Ziana

About Ziana
Chapter 127



Sudah 3 hari berlalu pasca Attar dirawat, kini bocah laki-laki itu sudah mulai masuk sekolah lagi pagi ini.


Pagi ini Arash yang akan mengantarkan sang putra untuk ke sekolah karena ada beberapa hal yang akan dia urus disekolah Attar nantinya.


Mereka berangkat pagi-pagi sekali karena pagi ini Arash ingin mampir ke apartemen Ziana. Sebenarnya mereka tidak ada janji sebelumnya, namun karena masih canggung dengan Attar yang masih terus memasang wajah jutek padanya, membuat Arash mengambil opsi ini.


Hanya Ziana yang bisa menjinakkan anaknya itu yang lebih galak darinya jika sedang marah.


Arash memarkirkan mobilnya di halaman apartemen Ziana. Namun sebelum turun, laki-laki itu menghubungi Ziana terlebih dahulu melalui pesan singkat di sebuah aplikasi yang berlogo warna hijau.


Attar sebenarnya penasaran untuk apa mereka kesini, dan siapa yang mereka tunggu, namun karena masih marah kepada daddy-nya itu, jadilah dia hanya diam saja.


Sebenarnya waktu itu Attar pernah ke apartemen Ziana namun entah karna sudah agak lama jadi dia mungkin sudah lupa.


Sementara itu Ziana yang baru selesai mandi di dalam sana mendumel sendiri setelah membaca pesan yang dikirimkan Arash 2 menit yang lalu.


Tanpa membalas pesan laki-laki itu Ziana mulai bersiap karena ingin segera bertemu Attar.


Sudah 2 hari ini dia tidak bertemu dengan Attar karena harus ke luar negeri untuk melihat kondisi kakek Abian, namun sayangnya orang yang dicarinya sudah tidak berada disana lagi.


menurut informasi yang dia terima, kakek Abian sudah sehat dan telah kembali ke negara asalnya beberapa Minggu yang lalu.


Selesai mengoleskan lipstik warna peach ke bibir seksinya, Ziana berdiri lalu merapikan penampilannya kemudian meraih tas tangan miliknya dan segera turun.


Saat sedang di lift Ziana menyempatkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada sekertaris Dita dan mengatakan bahwa tidak perlu menjemputnya karena sudah ada Arash.


"selamat pagi.." sapa Ziana saat sudah memasuki mobil Arash.


"pagi" jawab Arash melemparkan senyum manisnya, sementara Attar sudah menempel di pelukan Ziana.


"kok duduk di belakang sih?" protes Arash yang baru tersadar ternyata Ziana duduk di kursi belakang.


"Zi.. pindah kedepan" titah Arash namun Ziana menggeleng, karena saat ini ia sangat merindukan Attar.


Baru saja Arash ingin protes lagi karena Ziana tidak mengindahkan perintahnya, namun urung karena Ziana sudah lebih dahulu melotot tajam kearahnya.


Ingatkan Arash untuk tidak membuat Ziana marah, atau tidak mantan pemimpin geng mafia itu akan mengamuk.


"Aunty kemana aja? kenapa kemarin Attar tunggu-tungguin dak datang?" pertanyaan beruntun itu dilontarkan oleh Attar.


"maafin aunty ya sayang, kemarin ada kerjaan" sesal Ziana dengan posisi yang masih saling memeluk.


Attar melepas pelukannya "no problem aunty, yang penting sekarang aunty disini" ucap Attar seraya tersenyum manis memperlihatkan deretan giginya.


Ziana di buat gemas dengan tingkah Attar, dikecupnya kedua pipi Attar secara bergantian membuat bocah itu amat senang, berbeda dengan daddy nya yang merasa cemburu karena hanya Attar yang dapat ciuman sedangkan dirinya tidak.


"ekhemm" Arash pura-pura batuk, namun tidak dihiraukan oleh kedua orang yang sedang melepas rindu itu.


Ziana sebenarnya mengetahui itu namun dia hanya menertawakan Arash dalam hati.


Sekitar 20 menit mereka sampai di depan sekolah Attar "kamu tunggu disini sebentar, aku ada urusan dulu dengan kepala sekolah" ucap Arash setelah Attar masuk kedalam.


Ziana mengangguk "baiklah" katanya.


Semua mata para guru tertuju kepada Arash yang terlihat gagah dengan tampilannya yang rapi pagi ini, namun laki-laki itu tidak terlalu memperdulikan tatapan para perempuan itu, karena dia hanya perlu dengan kepala sekolah.


"permisi pak, maaf anda cari siapa ya?" tegur seorang guru muda yang sedari tadi menatap Arash.


"saya ingin bertemu dengan kepala sekolah kalian" jawab Arash dingin, membuat guru muda itu mengurungkan niatnya untuk mendekati Arash.


"owhh... kalau begitu anda tunggu disini dulu biar saya panggilkan pak.."


"mohon maaf atas ketidaknyamanan nya pak Arash, mari silahkan masuk" ucapnya sopan.


"heemm" Arash hanya berdehem lalu mengikuti pria itu.


"silahkan duduk"


Setelah duduk, Arash pun menyampaikan maksud kedatangannya, dia ingin meminta bantuan dari pihak sekolah untuk ikut mengawasi Attar, jika perlu penjagaan sekolah diperketat.


Dia tidak ingin sampai kecolongan lagi, karena Tamara bisa datang sewaktu-waktu untuk menemui Attar.


Bukan Arash bermaksud jahat karena telah menjauhkan Attar dari ibu kandungnya, namun ini yang terbaik untuk anaknya.


Arash tidak ingin berlama-lama karena masih ada Ziana yang menunggunya di dalam mobil, setelah menyelesaikan urusannya dengan kepala sekolah Arash pun pamit.


"maaf sudah membuatmu menunggu" ujar Arash merasa bersalah, setelah masuk kedalam mobilnya.


"tidak masalah" sahut Ziana yang kini sudah pindah duduk didepan.


Arash tersenyum "kamu sudah sarapan?" tanyanya sambil fokus mengemudi.


"belum" jawab Ziana singkat. "bagaimana kalau kita sarapan dulu?" usul Arash.


"emangnya kamu juga belum sarapan?" tanya Ziana, karena setahunya keluarga Wijaya selalu melakukan sarapan bersama.


"sudah sih, tapi masih lapar" ujar Arash tersenyum lucu membuat Ziana ikut tersenyum melihatnya.


"tadi aku buru-buru jadi hanya makan sedikit"


"baiklah kita cari sarapan dulu, tapi kamu tidak ada kerjaan penting kan pagi ini?" tanya Ziana memastikan.


"ti..dak kok, kenapa?" dustanya, karena sebenarnya pagi ini dia ada rapat dengan para ketua divisi, namun demi bersama Ziana lebih lama, ia akan meminta sekertaris Jhon untuk menggantikannya saja.


"selesai sarapan, apa kamu bisa mengantarkan aku ke rumah kakek?" tanya Ziana penuh harap.


"tentu saja" sahut Arash cepat. "terimakasih banyak" ucap Ziana tulus.


"sama-sama" balas Arash seraya mengusap-usap kepala Ziana dengan penuh kasih sayang, menggunakan sebelah tangannya yang bebas.


Diperlakukan semanis itu membuat seorang Ziana merasa begitu dicintai oleh Arash.


Ziana yang tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari laki-laki termasuk papanya pun menerima semua perhatian yang diberikan oleh Arash dengan tangan terbuka.


Perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu Arash "terimakasih sudah hadir di kehidupan aku" gumamnya namun masih bisa didengar oleh Arash.


Arash menepikan mobilnya lalu merangkul Ziana, tanpa mengucap apapun ia mencium pucuk kepala Ziana.


"kok berhenti sih?" tanya Ziana menjauhkan kepalanya dari bahu Arash.


"udah sampai sayang" beritahu Arash. Laki-laki itu pun turun lebih dulu kemudian memutari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Ziana.


"terimakasih" ucap Ziana tersenyum, Arash balas tersenyum tanpa menjawab ucapan Ziana.


Keduanya pun masuk kedalam restoran pilihan Arash, sambil bergandengan tangan.


Bersambung~~~


Happy Reading 💞💞 💞