About Ziana

About Ziana
Chapter 35



"saya sudah melaksanakan sesuai yang anda perintahkan tuan" lapor seorang laki-laki yang bertubuh besar.


"kamu yakin, kalau si tua bodoh itu akan memakannya"


"saya sangat yakin tuan karena saya mengatasnamakan istrinya"


"kerja bagus terus pantau perkembangannya dan laporkan pada saya" ujar lelaki dengan bekas luka bakar di bagian wajahnya. Lelaki itu tampak menyunggingkan senyumnya dengan tatapan mata yang sangat tajam.


"baik tuan kalau begitu saya permisi" pamit laki-laki yang melapor tadi.


"heemm"


"Hahaha" tawa puas laki-laki tadi yang bernama Agler ketika asisten pribadinya pamit keluar.


Hari ini laki-laki itu merasa sangat bahagia sebab semua berjalan sesuai rencananya. balas dendamnya akan segera terbalaskan.


______________________________________________


Sementara itu Ziana baru saja sampai dirumah sakit tempat pak Agus dirawat. disana sudah ada 2 orang polisi dan juga seorang dokter yang menunggu.


"Selamat siang pak. bagaimana keadaannya sekarang?" Dita bertanya entah kepada siapa diantara ketiga orang yang berdiri disana.


"Siang. pasien masih kritis, racun yang di konsumsinya sangat berbahaya, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin" ujar dokter yang menangani pak Agus menjelaskan.


"baik dok terimakasih" ucap Dita sementara Ziana hanya mendengarkan tanpa mengucap sepatah kata pun.


"sama-sama, kalau begitu saya permisi" pamit sang dokter dengan wajah lelahnya. dijawab anggukan oleh semua orang yang berada disana.


Setelah dokter itu pergi polisi pun menjelaskan kronologi kejadian bagaimana pak Agus keracunan.


Menurut penjelasan polisi tadi ternyata ada seseorang yang mengantarkan makanan dan mengatasnamakan istri dari pak Agus. dengan hati bahagia karena mengira jika istrinya telah di temukan, pak Agus memakan makanan itu dengan lahap tanpa curiga sedikitpun.


Namun belum sempat menghabiskan makanan tersebut pak Agus sudah jatuh tak sadarkan diri.


Setelah menejelaskan kedua polisi itu pun pamit karena masih banyak hal yang harus mereka urus.


"Dit, lo urus semua administrasi dan keperluan pak Agus, setelah itu lo boleh pulang" titah Ziana sembari menyodorkan kartu kreditnya kepada Dita.


"lah terus lo gimana?" ujar Dita bingung. namun tangannya tetap menggapai kartu tersebut.


"gue masih ada urusan yang harus gue selesai in disini"


"gue ikut, lo pergi sama gue jadi pulang juga harus sama gue" bantah Dita dengan nada tegas.


Ziana memutar bola matanya malas, Dita dengan keras kepalanya sangat susah untuk di pisahkan.


"kalo lo tetap disini, siapa yang akan mengurus perusahaan?"


"Kan ada Yuni yang biasa mengurus kantor kalo kita lagi keluar kota" celoteh Dita tidak ingin kalah dari Ziana. perempuan itu tidak ingin sahabatnya sampai kenapa-kenapa jadi dia akan melakukan apapun untuk ikut kemana Ziana pergi.


Sungguh sahabat yang sangat setia sekali Dita ini.


"ok terserah" Ziana sedang tidak ingin berdebat, jadi perempuan itu memilih menyerah dengan keras kepalanya Dita.


"nah gitu kek dari tadi" Dita tersenyum lebar karena berhasil menang dari sahabatnya.


"ya udah ayo" Ziana menarik paksa tangan Dita. namun sebelum pergi mereka terlebih dahulu mengurus administrasi pak Agus.


di perjalanan Ziana mengabari timnya untuk bertemu di tempat yang sudah Ziana tentukan, tempat itu sangat rahasia bahkan Dita pun belum pernah ke sana sama sekali.


Setelah perjalanan hampir satu jam mereka sampai di sebuah rumah sederhana dengan warna cat yang sudah mulai pudar, tanda bahwa rumah tersebut sudah lama tidak di urus oleh sang pemilik.


Ziana turun terlebih dahulu kemudian di susul oleh Dita. di teras rumah itu terlihat sudah duduk 2 orang laki-laki dan seorang perempuan dengan pakaian serba hitam yang mereka kenakan.


Melihat kedatangan Ziana ketiga orang itupun langsung berdiri dan menunduk hormat kearah pimpinan mereka.


******