About Ziana

About Ziana
Chapter 141 Ibu dan Anak



Saat ketiga laki-laki beda generasi itu terdiam, Zara mengangkat kepalanya. wanita itu kemudian mendekatkan kursi rodanya kearah Ziana berdiri. Setelah dirasa jaraknya pas, Zara berseru "Maaf.. ini bukan salah mereka, tapi semua ini adalah permintaan saya"


Ziana menoleh ke asal suara dengan ekspresi yang sulit dibaca. Baru saja ia ingin berdamai dengan masa lalunya yang kelam dengan wanita yang berada di hadapannya, namun lagi-lagi wanita yang disebut 'mama' itu kembali menghancurkan perasaannya.


Zara menatap kedalam mata Ziana, pandangan kedua pasang anak dan ibu itu bertemu untuk pertama kalinya, namun hanya beberapa menit saja, setelah itu keduanya secara bersamaan membuang pandangan kearah lain.


Canggung, Itulah yang mereka rasakan.


Bagaimana tidak, Ini adalah pertemuan pertama mereka dalam keadaan sadar, setelah berpisah selama bertahun-tahun, dan pertemuan itu pun disaksikan oleh banyak pasang mata yang penasaran tentang siapa dan apa yang sedang terjadi diantara ke-lima manusia di atas pelaminan.


para sahabat yang paham akan situasi yang tengah terjadi langsung mengambil alih, agar masalah keluarga sahabatnya tidak sampai menjadi tontonan gratis bagi para tamu undangan. Kemudian meminta kedua mempelai untuk beristirahat di belakang.




"tunggu.." seru Zara menghentikan langkah Ziana yang telah bersiap untuk meninggalkan keempat manusia yang seperti enggan untuk buka suara.



Zara lalu menceritakan semua yang menjadi pertanyaan di benak Ziana.



***FLASH BACK*** ***ON***



"Nenek, panggil aku nenek" ujar Zara meminta Attar untuk memanggilnya dengan sebutan Nenek.



"Nenek.."



Zara mengangguk, wanita itu merentangkan kedua tangannya meminta bocah laki-laki itu untuk memeluknya. Dengan senang hati Attar langsung menghambur masuk kedalam pelukan wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Nenek tersebut.



Saat mereka asik berbicara sambil berbisik-bisik tanpa sadar Arash dan Luis sedari tadi memperhatikan keduanya dalam diam.



"Hem.." Luis (pura-pura batuk)



Tanpa sadar Luis sudah berdiri di samping brankar Zara sambil berpura-pura batuk, diikuti Arash dibelakangnya



Zara dan Attar menoleh bersamaan dengan ekspresi kaget.



"kalian.. kalian disini" ucap Zara terbata "kenapa?" tanya Luis menatap wanita itu dengan tatapan datar.



"Daddy.." lirih Attar tidak berani menatap kearah sang Daddy yang terlihat menatapnya dengan datar pula.



"maaf" ucap sepasang cucu dan nenek yang baru bertemu itu dengan kompak.



"Arash.. saya yang meminta Attar untuk tidak memberi tahu kalian, jadi aku mohon jangan menyalahkan dia" seru Zara, sementara Arash masih tetap dalam mode diam.



"sejak kapan Ra? kenapa kamu tega lakuin ini? kamu tidak tahu seberapa khawatirnya kami?" Luis memberondong Zara dengan pertanyaan sehingga membuat wanita itu hanya terdiam seraya menunduk tidak berani menatap lawan bicaranya yang terus menatap tajam kearahnya.



Zara takut, ini adalah pertama kalinya dia melihat Luis se-marah itu kepadanya.



"maaf.." hanya kata itu yang mampu dia ucapkan, karena ia sadar bahwa dirinya salah tidak jujur sedari awal bahwa dia telah sadar.




Bagaimana tidak, beberapa hari ini pria itu seperti kehilangan dunianya saat mendapati wanita yang menjadi pujaannya sedang terbaring koma di atas brankar rumah sakit. Hatinya hancur, Luis merasa tidak berguna, ia telah gagal melindungi wanitanya. Hanya ada kata 'seandainya' terus berdatangan didalam otaknya. 'seandainya ia tidak membiarkan Zara pergi sendiri, seandainya dia tidak terlambat menyusul zara, seandainya.. seandainya dan seandainya' lainnya terus ada dan bergentayangan di otak Luis.



"aku belum siap.." seru Zara seraya menunduk, wanita itu tidak memiliki keberanian, bahkan untuk sekedar menatap lawan bicaranya.



"mau sampai kapan?" seru Luis dengan nada putus asa.



Zara masih terus menunduk, bingung harus mengatakan apa hingga sebuah ide tiba-tiba muncul didalam otaknya "sampai hari pernikahan Ziana tiba.." ujarnya tiba-tiba yang langsung mendapat tatapan tak percaya dari kedua pria berbeda generasi itu.



"aku janji akan hadir dihari pernikahan kalian" ucap Zara yang kini menatap Arash.



Terlihat Luis menarik nafas kemudian menghembuskan nya seraya melirik kepada Arash yang berdiri disebelahnya. Arash terlihat mengangguk, membuat Luis kembali menarik nafas panjang "baiklah.." ujarnya pasrah dengan keputusan Zara.



***FLASH BACK OFF***



"Begitulah ceritanya.." Kata Zara menyelesaikan ceritanya, sementara Ziana tidak bergeming.



Zara melirik Luis, memberi kode untuk membawanya pergi dari sana.



Luis mengangguk, pria itu lalu menghampiri Zara dan bersiap untuk mendorong kursi rodanya.



"Ma..ma.." ucap Ziana terbata, membuat Luis yang sedang mendorong kursi roda milik Zara menghentikan langkahnya. Ziana lalu menghampiri Zara dan berjongkok dihadapan wanita yang telah melahirkannya.



Wanita itu menangis, namun bukan tangisan sedih melainkan tangisan haru karena Ziana sudah mau memanggilnya dengan panggilan 'Mama' seperti yang dulu.



Ziana meraih kedua tangan Zara "jangan tinggalin Zii lagi.." ujarnya menatap mata sang ibu.



Air mata Zara luruh tanpa bisa dibendung lagi. Diraihnya Ziana untuk masuk kedalam pelukannya.



Keduanya berpelukan cukup lama, menunaikan rindu yang telah lama menumpuk di dalam hati masing-masing.



"maafin mama Zi... maaf" lirih Zara tanpa melepaskan pelukannya kepada sang anak. pelan, Ziana melerai pelukan mereka lalu menatap wanita paruh baya yang sedari dulu ia rindukan seraya menggeleng "Zii.. udah maafin mama, jadi berhentilah menangis" ucapnya tersenyum, sambil tangannya menghapus air mata yang membasahi wajah sang mama yang tidak berubah, cantik seperti dulu.



Zara tersenyum dalam tangisnya, diraihnya tangan Ziana yang bertengger diwajahnya. "terimakasih Nak.." ucapnya sambil mencium tangan Ziana berkali-kali.



Luis dan Arash ikut merasa haru, tanpa sadar air mata mereka ikut menetes melihat adegan itu, begitu pula dengan Bagas dan Claudia yang sejak tadi berdiri dibelakang, ikut menyaksikan adegan haru itu.



*Pada dasarnya seorang anak dan ibu tidak pernah benar-benar berpisah, meskipun keduanya berpisah dengan jarak, tetapi hati mereka tidak. Meskipun ikatan mereka tidak terlihat, namun antara seorang ibu dan anak selalu memiliki ikatan khusus di hati* *mereka*..



\*\*\*\*