
Mama Arianna tersadar dari pingsannya saat matahari sudah terbenam, ia membuka matanya dan kosong. Tidak ada siapa-siapa di kamarnya.
Mama Arianna mencoba untuk bangun, namun kepalanya terasa berat. Jadilah wanita itu kembali berbaring dan memejamkan matanya lagi.
Cklek
Mendengar pintu kamarnya terbuka disusul dengan derap langkah yang tidak hanya satu, tetapi ada beberapa yang mama Arianna yakin itu adalah suami, kedua anaknya beserta menantunya pun turut datang.
Tidak ingin membahas masalah tentang Abian Ravindra dulu, membuat mama Arianna memilih untuk berpura-pura tidur.
"sepertinya mama sudah tidur" itu adalah suara Arash "selamat malam, Ma" ucap suara itu lagi, disusul dengan sebuah kecupan di kepala mama Arianna.
"sebaiknya kalian juga istirahat, ini sudah larut. biar masalah ini kita bahas besok saja" mama Arianna merasa lega mendengar ucapan suaminya.
"kalau begitu kami permisi, Pa. Selamat malam"
"malam"
Setelah percakapan singkat itu, dan bunyi pintu yang tertutup, tidak terdengar suara apa-apa lagi. Mama Arianna pun membuka matanya dan alangkah terkejutnya wanita itu melihat semua orang menatap kearahnya.
"ka..kalian kok masih disini?"
"mama kok udah sadar?" mama Arianna tidak bisa berkutik mendengar pertanyaan suaminya yang terdengar sarkas.
"Ma...papa tau ini tidak mudah. Tapi, menurut papa, tidak ada salahnya untuk memaafkan beliau. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pernah membuat kesalahan baik itu besar ataupun kecil" disaat-saat tertentu papa Arnan bisa menjadi kepala keluarga yang baik dan berwibawa.
Ziana dibuat kagum dengan sikap papa mertuanya yang tidak pernah dia lihat dalam diri papa kandungnya, yaitu Bagaskara "biasa aja yang liatnya, masih ganteng-an suami kamu daripada pria tua itu" Arash berbisik, merasa cemburu melihat tatapan kagum sang istri yang ditujukan terhadap papanya.
"apaan sih, mas" Ziana berdecak kesal dengan pikiran Arash. Bisa-bisanya laki-laki itu cemburu kepada papa kandungnya sendiri. Ziana tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya yang diluar nalar.
"kamu kelihatan kagum banget sama papa, gimana mas gak cemburu coba?"
Ziana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak tahu lagi harus dengan cara dan bahasa apa untuk membuat laki-laki yang menjadi suaminya itu tidak berulah sehariiii.. aja.
"terserah kamulah mas"
Satu kata yang bisa membuat Arash diam adalah kata 'terserah' yang keluar dari mulut Ziana langsung.
"sayang aku cuma bercanda, maafin aku ya..ya..ya.." tanpa rasa malu Arash membujuk sang istri dihadapan semua orang, semata agar wanita itu mau memaafkannya.
"kalian berdua bisa diam nggak? ini papa lagi ngomong serius sama mama!!" bentakan dari papa Arnan membuat Arash terpaku ditempatnya "maaf pa, silahkan di lanjutin" ujar Arash mempersilahkan sang papa dengan sangat sopan.
Papa Arnan menghela nafas panjang kemudian kembali fokus kepada sang istri
Mama Arianna terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi dia ingin memaafkan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa rasa sakit yang selama ini ia alami akibat ketidak hadiran sosok papa membuat wanita itu berat untuk memaafkan.
Melihat sang mama terdiam, Aruna mengambil inisiatif untuk mendekat. Gadis itu meraih tangan sang mama sambil berkata "Ma.. Aruna tahu, pasti tidak mudah bagi Mama untuk memaafkan kakek setelah apa yang kakek berbuat selama ini. tapi Aruna berharap mama mau maafin kakek."
"kita semua di sini mengerti perasaan mama, tapi kami berharap mama mau mengikhlaskan apa yang telah terjadi dan membuka pintu maaf selebar-lebarnya untuk beliau" timpal Arash.
Rasanya Mama Arianna ingin menangis, kedua anak dan suaminya memiliki pemikiran yang begitu dewasa, hanya dirinya saja yang tidak. "mama akan coba" mama Arianna tidak bisa menjanjikan yang lebih dari itu, untuk saat ini.
Aruna langsung memeluk sang mama, disusul oleh Arash, lalu papa Arnan yang juga turut bergabung.
Ziana tersenyum melihat kekompakan keluarga Ar itu dalam menyelesaikan suatu masalah.
~
~
~
Keesokan harinya Robin kembali datang ke kediaman keluarga Wijaya, membuat seluruh anggota keluarga Wijaya berkumpul di ruang tengah termasuk Mama Arianna.
"tidak masalah, Tuan. Kami tahu bahwa anda adalah orang yang sangat sibuk, bukan begitu?"
Robin tertawa hambar "Anda terlalu berlebihan Tuan. Oh iya, panggil saja saya Robin, tanpa embel-embel tuan. Saya merasa tidak pantas dengan panggilan tersebut, karena disini saya hanyalah bawahan dari tuan Abian Ravindra"
Jujur saja Robin merasa terbebani dengan panggilan tuan yang papa Arnan berikan untuknya yang hanyalah seorang pesuruh.
Papa Arnan mengangguk "baik, jika itu yang anda inginkan"
"Terimakasih Tuan Arnan Wijaya. Baiklah tanpa menunda-nunda waktu lagi, saya akan langsung ke intinya."
Robin mengalihkan tatapannya kepada semua anggota keluarga yang hadir, kemudian berhenti pada Mama Arianna "bagaimana, apa nyonya sudah bersedia untuk melakukan tanda tangan?" Tanyanya tanpa basa-basi.
Lama mama Arianna terdiam, pada akhirnya ia mengangguk juga "tapi sebelum saya tanda tangan, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, bagaimana?"
Tanpa banyak berpikir Robin berkata "Silahkan, saya akan menjawab semampunya"
"Kenapa semua harta warisan hanya diberikan kepadaku, bukannya dia memiliki anak yang lain selain saya?" Pertanyaan yang sejak semalam ingin ia tanyakan akhirnya akan segera terjawab.
"Pertanyaan yang bagus nyonya" Robin terlihat sangat antusias untuk menjawab pertanyaan dari mama Arianna tersebut "karena yang berhak menerima hanyalah anak kandung dari Tuan Abian, dan Tuan Agra menolak karena merasa tidak berhak" jawabnya lugas.
"Apa maksudnya paman?" Bukan mama Arianna, melainkan Ziana. Wanita itu begitu terkejut dengan fakta yang baru ia ketahui.
"Anda pasti bisa menebaknya nona"
"Jadi paman Agra bukan anak kandung kakek?"
Robin mengangguk "tepat sekali nona"
"Apa kakek sudah tahu?" Karena setahu Ziana kakek Abian sangat menyayangi Agra.
Kembali Robin mengangguk "dan tidak lama setelah mengetahuinya, beliau mulai sakit-sakitan" Robin pun menceritakan tentang kesehatan kakek Abian yang semakin menurun setelah mengetahui bahwa selama bertahun-tahun dirinya hidup dalam kebohongan yang diciptakan oleh Melissa.
Robin juga menceritakan tentang penyesalan kakek Abian yang telah gagal mempertahankan rumah tangganya bersama Rianty (ibu kandung dari mama Arianna) wanita yang selalu ia cintai hingga akhir hayatnya, karena ulah Melissa. Dan karena kelicikan Melissa juga, kakek Abian sampai kehilangan jejak dari istri pertama dan anaknya.
Tak terasa mama Arianna meneteskan air mata mendengar cerita yang disampaikan oleh Robin.
"Apa karena itu kakek mendonorkan darahnya untukku?" Aruna ikut menimpali pembicaraan yang didominasi oleh Robin dan Ziana.
"Mungkin salah satunya nona, tapi setahu saya, golongan darah anda dan tuan itu terbilang susah untuk mendapatkan pendonor. Jadi mungkin karena itulah tuan mau mengambil resiko, supaya nyawa anda bisa tertolong."
Aruna sempat berpikir negatif kepada sang kakek, namun setelah mendengar penjelasan Robin pikiran negatif itu pun menguar, berganti dengan rasa sedih dengan apa yang telah kakeknya lalui.
Triiing..triiiing..
Bunyi ponsel Robin menginterupsi mereka.
Robin meminta ijin untuk mengangkat panggilan tersebut yang berasal dari salah satu orang kepercayaannya.
Beberapa menit kemudian sang asisten tersebut kembali "mohon maaf tuan, Nyonya, dan semuanya saya harus segera pergi. Jadi, bisa anda anda tangan sekarang juga?"
"Baik, dimana saya harus tanda tangan?"
Robin menyodorkan berkas-berkas pengalihan perusahaan dan aset lainnya, tersebut kepada mama Arianna untuk segera dibubuhi tanda tangan oleh sang pewaris satu-satunya dari kekayaan Ravindra.
"Terimakasih nyonya. Kalau begitu, saya permisi semuanya"
*****
Happy Reading 💞💞