
Agra mulai membuka amplop coklat tersebut dengan penuh tanda tanya, sementara Melissa terlihat sudah kembali duduk di kursinya dengan tenang.
"siapa dia..?" tanya Agra ketika membuka amplop dan terlihat banyak foto seorang perempuan muda yang tidak dikenalnya.
Melissa nampak tenang meneguk cangkir tehnya dengan anggun sebelum menjawab pertanyaan dari Agra.
"Dia adalah cucu angkat papamu.." mendengar ucapan Melissa mau tak mau membuat Agra mengernyit heran "lalu apa hubungannya denganku?" tanyanya tidak mengerti.
"jelas ada hubungannya, karena semua harta kekayaan papamu akan jatuh ke tangannya, karena anakmu yang bodoh itu tidak menginginkan kekayaan" ucap Melissa dengan nada yang terdengar mulai emosi
Agra tertawa sinis mendengar ucapan Melissa "dan asal mama tahu, aku pun tidak perduli dengan harta itu" ucapnya sembari memasukkan foto-foto itu kembali kedalam amplop dan melemparnya ke atas meja yang berada dihadapan Melissa, lalu melangkahkan kakinya bersiap pergi.
"Agra tunggu.." cegah Melissa saat melihat Agra telah menjauh beberapa langkah darinya. Pria itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh "ada apa lagi?"
"Mama punya penawaran.."
"aku tidak ingin, karena aku tidak punya hak atas harta kekayaan itu" kata Agra yang teguh dengan pendiriannya.
Melissa sedikit tersentak mendengar perkataan Agra, namun sebisa mungkin ia mencoba untuk tetap tenang. Melissa berdiri dan mulai berjalan kearah Agra "apa maksudmu" ucapnya ingin tahu.
Agra tersenyum kecut "aku bukan papa yang bisa mama bodohi" kata Agra sinis
"apa yang kamu ketahui?" tanya Melissa yang masih terlihat tenang, namun Agra tahu jika mamanya itu sudah mulai panik, terbukti dari suaranya yang terdengar sedikit bergetar.
"apa mama yakin ingin aku mengatakannya?" tanya Agra balik, yang membuat Melissa terdiam, namun sedetik kemudian wanita itu lalu mengangguk pelan "katakan.."
"baiklah karena mama yang meminta.."
Agra membalikkan badannya, kini ia dan Melissa saling berhadapan "jangan mama kira aku tidak tahu semuanya.." ucapnya menatap Melissa dengan pandangan mata yang sulit diartikan.
"aku tahu bahwa sebenarnya aku bukanlah Agra Himawan melainkan Agra Wibowo, dan aku" sambil menunjuk dirinya sendiri "aku adalah anak dari hasil hubungan mama dengan Arya Wibowo, namun karena laki-laki bre**s*k itu tidak ingin mengakui bahwa bayi yang mama kandung adalah benihnya, akhirnya mama menjebak papa Abi dan merebut papa dari keluarganya dan mama menjadi penghancur hubungan mereka" ucap Agra dengan menggebu.
Melissa sedikit limbung mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Agra, yang mengatakan suatu kebenaran yang selama ini ia tutup rapat-rapat, tanpa seorang pun yang tahu. Namun entah dari mana anaknya tahu
"dan aku kembali kesini, ke kota ini untuk menghabisi pria itu" kata Agra lagi sebelum pergi tanpa perduli dengan ucapan sang mama yang sudah terduduk di tanah, berurai air mata.
"Agra tunggu.. Agra..Agraa.." jerit Melissa, namun tidak berhasil menghentikan langkah seorang Agra. Laki-laki itu terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan Melissa yang menggema memenuhi taman.
Tanpa sepengetahuan Melissa, Robin sejak tadi berada dibalik pohon yang tidak jauh dari tempat mereka, dan pria itu mendengarkan semuanya, dari awal.
Siang harinya satu persatu dari semua keluarga dan para sahabat meninggalkan hotel Alister, tinggallah Ziana dan Arash berdua, karena Attar akan ikut jalan-jalan dengan Oma, Opa dan Aunty Aruna. Sedangkan Zoey juga sudah pulang bersama mama Claudia dan papa Bagas, meskipun sempat ada drama karena gadis kecil itu tidak ingin berpisah dengan Attar. Namun setelah diberikan pengertian dan sedikit sogokan berupa mainan kesukaannya, akhirnya ia bersedia pulang bersama kedua orangtuanya.
Terlihat Ziana mulai mengemas barang-barangnya dan juga barang-barang milik Arash, karena rencananya mereka akan melakukan honeymoon.
"sudah selesai?" tanya Arash yang tiba-tiba muncul di belakang Ziana.
"Sudah kok" jawab Ziana seraya berdiri setelah selesai dengan kopernya. "gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Arash lagi untuk memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal.
Ziana menggeleng
"yaudah yuk" ajak Arash sambil meraih kopernya dan juga milik Ziana.
Ziana menggeleng "gak usah, aku masih bisa" tolak Ziana
Arash menghela nafas pasrah karena terlihat Ziana masih membuat jarak dengannya, perempuan itu belum sepenuhnya menerima dia sebagai suami. Arash hanya bisa sabar, laki-laki itu sudah bertekad untuk membuat Ziana membuka hati sepenuhnya untuk dirinya.
"yaudah kalo gitu.. yuk.." ucap Arash dengan senyum di bibirnya, dan tangannya yang bebas menggenggam satu tangan Ziana.
Ziana sempat terlonjak kaget, namun ia sadar bahwa status mereka telah berganti, mereka kini telah resmi menjadi pasangan suami istri, jadi tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak sentuhan tangan Arash.
Sementara Arash tersenyum tipis karena Ziana tidak menolak ketika tangannya ia genggam.
Sementara itu Bryan yang niat awalnya ingin mengantar Naysilla pulang, sebagai bentuk pertanggungjawaban karena ia yang telah mengajak gadis itu pergi, urung setelah sang mama menelpon dan memintanya untuk mengantar Naysilla ke rumah, karena ingin ditemani jalan-jalan dan berbelanja dengan sang calon menantu.
"kenapa pak?" tanya Naysilla karena melihat bos dinginnya hanya diam setelah berbicara ditelpon.
"mama saya meminta buat bawa kamu kerumah" jawabnya pelan, tanpa menatap lawan bicaranya karena fokus mengemudi.
"lah.. kok saya pak." seru Naysilla heran, seraya menunjuk dirinya sendiri.
"ck.. ya kamulah siapa lagi, kan mereka tahunya kamu pacar saya"
"ah bapak sih, pake ngaku-ngaku kalau kita pacaran" keluh Naysilla sambil memanyunkan bibirnya. "lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya lagi sambil menoleh kepada Bryan.
Bryan tidak menjawab, pria itu hanya menoleh sejenak setelah itu kembali menatap kedepan.
"pak.." seru Naysilla sedikit mengeraskan suaranya "ck.. tidak usah teriak saya belum tuli" ucap Bryan berdecak kesal, membuat Naysilla menunduk takut setelah sadar dengan sikap kurang ajarnya.
"loh.. ini kan bukan arah rumah saya pak" seru Naysilla lagi setelah sadar bahwa jalur yang mereka lewati bukanlah jalur menuju rumah kontrakannya.
"kan tadi sudah saya bilang kalau mama saya minta kamu untuk datang kerumah, apa sekarang kamu yang tuli"
"tapi saya harus kerumah sakit untuk menemani ibu saya pak" kata Naysilla karena ia memang ingin kerumah sakit untuk menemani ibunya yang sudah 2 hari tidak ditemuinya, karena harus menemani bos dinginnya ke acara pernikahan sahabatnya.
"setelah pulang dari rumah, saya akan mengantar kamu ke rumah sakit"
"tapi pak.." baru saja Naysilla ingin protes, Bryan tiba-tiba menghentikan mobilnya, hingga membuat Naysilla tidak jadi protes.
Laki-laki itu menoleh dan menatap Naysilla dengan tajam "apa uang yang kemarin tidak cukup?" tanyanya dengan emosi
"tidak pak bukan seperti itu.."
"baik, kalau begitu saya akan bayar 100 juta setiap kali kamu datang kerumah" ucap Bryan emosi.
"tapi pak.."
"kenapa? apa masih kurang? katakan berapa yang harus saya bayar" ucap Bryan beruntun dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Naysilla selalu menunduk setiap kali melihat Bryan melotot tajam seperti itu "tidak pak.." ucap gadis itu pelan, dengan suara bergetar karena menahan tangis.
Bryan berdecak kemudian kembali menghidupkan mesin mobilnya dan segera tancap gas menuju rumahnya.
...****************...