About Ziana

About Ziana
Chapter 33



"Regan?" ucap Ziana ketika menoleh dan mendapati Regan yang berdiri disana.


Sebenarnya Regan sudah sedari tadi berdiri disana menonton perkelahian Ziana. Dirinya sengaja tidak ikut membantu sebab Regan tahu bahwa Ziana mampu menangani anak-anak muda tadi. Sudah lama juga pria itu tidak melihat Ziana bertarung.


"ngapain disitu?"


"abis nonton live show" ucapnya tertawa pelan.


"sialan" dengus Ziana meninggalkan Regan untuk melihat pemuda yang tadi ditolongnya.


Regan yang masih tertawa mengikuti langkah Ziana.


"lo gapapa kan?" tanya Ziana kepada cowok yang sedang berjongkok itu.


di sampingnya ada seorang gadis yang menyembunyikan kepalanya.


"saya tidak apa-apa kak, terimakasih sudah menolong saya" balas cowok itu menengadah menatap perempuan yang menolongnya.


Ziana mengangguk dan ikut berjongkok "pacar kamu?"


cowok itu terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "iya kak" ucapnya malu-malu.


"bocah" decak Regan yang berdiri tepat di belakang Ziana. membuat Ziana menahan tawanya.


Suara isak tangis gadis itu terdengar, "pulaang" ucapnya di sela isakannya.


Ziana merasa tidak asing dengan suara itu, perlahan Ziana mendekati gadis tersebut dan memegang bahunya yang bergetar.


Gadis itu mendongak.


"loh Aruna" ujar Ziana kaget.


"kakak" Aruna menghambur memeluk Ziana erat, kini tangisannya semakin keras.


"aku takut kak" ucapnya ketika tangisnya mulai sedikit reda.


"udah jangan nangis, kamu udah aman" Ziana mengusap-usap punggung Aruna.


Merasa sudah tenang perlahan Ziana melerai pelukannya kemudian menatap gadis tersebut.


"mereka tadi itu siapa?" sesi tanya jawab dimulai oleh Ziana. dan di jawab oleh Aruna.


Aruna menjelaskan tentang Gerald dan gengnya kepada Ziana. sedangkan Ziana hanya manggut-manggut.


"terus ngapain malam-malam masih disini?" tanya Ziana lagi.


"sebenarnya tadi abis ada acara sekolah kak, ini udah mau pulang tapi di hadang oleh Gerald dan gengnya" jelas Aruna panjang lebar.


"eh iya" Ziana ikut mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"lo pulang bareng Regan, motor lu nanti biar Regan yang urus" kata Ziana menatap pemuda yang di ketahui adalah pacar Aruna.


"lahh kok aku?" Regan menunjuk dirinya sendiri dan di hadiahi tatapan tajam dari Ziana sehingga mau tidak mau pria itu pun mengangguk.


"tapi kak..." Leon menyela sambil menatap Aruna.


Ziana mengerti bahwa pemuda itu mengkhawatirkan kekasihnya sekarang.


"Aruna sama saya, gak usah khawatir" ujarnya.


Alhasil Leon pun mengangguk.


"yaudah yuk, udah ngantuk banget nih, mana besok masih ada jadwal prewed" Regan mengajak Leon untuk pulang. bahkan pria itu berjalan lebih dulu tanpa membantu Leon yang sedang terluka.


Sebelum pergi, Leon menatap Aruna dengan tatapan merasa bersalah dan menyesal.


"ayoo" teriak Regan sudah masuk kedalam mobilnya.


setelah mobil Regan meninggalkan tempat itu barulah Ziana bergegas untuk mengantar Aruna.


"makasih ya kak, maaf udah ngerepotin" ucap Aruna ketika sampai di depan rumahnya.


"gapapa lain kali lebih hati-hati aja" pesan Ziana.


"btw tadi kakak keren banget, aku mau dong diajarin berantem biar bisa kayak kakak" ucap Aruna lagi menggebu-gebu.


Ziana tertawa pelan.


"iya nanti kalau ada waktu saya ajarin"


"beneran kak?" antusias Aruna.


"heemmm"


"yeeaayy" sorak Aruna, gadis itu kini telah melupakan ketakutannya saking senangnya ingin belajar bela diri.


"yaudah sana masuk" ujar Ziana sembari menutup mulutnya karena menguap.


"iya kak sekali lagi makasih" kata Aruna dan di balas anggukan singkat oleh Ziana.


Setelah memastikan Aruna masuk kedalam rumahnya barulah Ziana meninggalkan tempat tersebut dan membelah jalanan malam itu.


*****