
Regan duduk seorang diri di dekat pusara yang masih basah.
Pada batu nisan bertuliskan sebuah nama indah yang telah di persiapkan oleh Regan dan Gretha, yaitu Giandra Eshan Aulian dengan harapan kelak sang putra akan menjadi seorang pemimpin yang hidup sentosa, pintar dan selalu dalam kasih sayang Tuhan.
Orang tua mana yang tidak sakit jika seorang anak yang begitu di nanti-nantikan kelahirannya harus di renggut paksa dari pelukan?
Regan menangisi takdirnya yang selalu
saja kehilangan orang-orang yang disayanginya dari dunia.
Pertama adalah ibunya, yang meninggal setelah melahirkannya, kemudian semua anggota keluarganya akibat kecelakaan dan sekarang adalah anaknya yang bahkan belum sempat melihat dunia ini.
Gretha mengalami pendarahan hebat ketika ia dilarikan kerumah sakit, dan saat dalam perjalanan menuju rumah sakit bayi dalam kandungannya memang sudah tidak
bergerak lagi.
Sementara Regan yang terus menyalahkan diri sendiri, Gretha masih terbaring tak berdaya pasca pingsan setelah mengetahui bahwa bayinya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Para sahabat dengan setia menunggui Gretha di depan ruangannya, setelah sebelumnya mereka menghadiri acara pemakaman dari baby Giandra.
Mereka menunggu dalam hening, tanpa ada yang berbicara sedikit pun.
Duka masih menyelimuti mereka.
Sementara itu sekertaris Jhon baru saja menerima sebuah foto dari anak buahnya yang membuat pria itu tercengang.
Bagaimana tidak, di dalam foto tersebut terlihat para teman dari bosnya yaitu Arash Wijaya, tengah berkumpul di sebuah pemakaman.
Bahkan sekertaris Dita, yang notabene adalah sekertaris dari istri bosnya pun nampak hadir disana.
"apa ini yang di maksud oleh tuan Arash memintaku untuk mencari tahu tentang istri dari kedua sahabatnya?" ujar Jhon bertanya-tanya.
"tapi siapa yang meninggal.." ucap pria itu lagi dengan bingung, sebab anak buahnya hanya memotret dari jauh.
Karena ingin memastikan sendiri, sekertaris Jhon pun mendatangi alamat yang sudah diberitahu oleh anak buahnya.
Tidak butuh waktu lama, sekertaris Jhon tiba ditempat pemakaman.
Didalam sana sudah nampak sepi, hanya ada seorang laki-laki yang nampak kacau sedang terduduk sambil menatap batu nisan yang bertuliskan nama dari pemilik makam tersebut.
Laki-laki yang sedang dalam keadaan kacau itu tidak lain dan tidak bukan adalah Regan Aulian.
Laki-laki yang sering sekertaris Jhon lihat selalu berkumpul dengan bosnya jika sedang ada acara.
Dengan inisiatifnya, sekertaris Jhon memotret Regan dari arah samping, hingga wajah laki-laki itu terpampang jelas di dalam kamera ponselnya.
Setelah mendapatkan foto yang diinginkan, sekertaris Jhon pun menyingkir dari sana, setelah merasa cukup aman, ia lalu mengirimkan foto tersebut kepada bosnya.
Arash yang sedang berjalan-jalan bersama Ziana pun menghentikan langkahnya ketika ponsel yang berada disaku celananya bergetar "sebentar sayang.." ucapnya kepada sang istri.
Ziana hanya mengangguk, memberikan waktu kepada Arash, 'mungkin saja itu penting' pikirnya.
Arash tidak bergeming setelah melihat 2 buah foto yang dikirimkan oleh sekertarisnya, disertai dengan keterangannya.
Foto pertama adalah gambar yang diambil oleh anak buah Jhon, dan foto kedua merupakan gambar yang diambil sendiri oleh sekertaris Jhon.
"ada apa?" pertanyaan dan sentuhan Ziana di lengannya menyadarkan Arash dari lamunannya.
"ah.. sayang kau mengagetkanku.." ujar Arash
"maaf.. aku tidak sengaja" ucap Ziana meminta maaf.
"it's ok sayang, tapi ada sesuatu yang harus kamu lihat.." kata Arash dengan nada pelan.
Ziana menatap mata Arash yang juga menatapnya, laki-laki itu nampak begitu serius, membuatnya langsung menganggukkan kepalanya.
"Tapi kamu harus tetap tenang.."
"ayo, kita bicara disana.." tunjuk Arash pada sebuah bangku yang tidak jauh dari mereka berdiri, seraya menggenggam tangan Ziana.
Sementara Ziana hanya mengangguk mengikuti kemana Arash membawanya.
"duduklah.." ucap Arash.
Arash tahu seperti apa hubungan antara Regan dan istrinya, laki-laki itu sudah siap jika Ziana meminta untuk pulang setelah mengetahui tentang musibah yang dialami oleh Regan.
"lihatlah.." ucap Arash lagi seraya menyodorkan ponselnya kepada Ziana.
Karena sudah sangat penasaran, sehingga tanpa ba bi bu Ziana meraih benda pipih tersebut dan melihat isi dari ponsel tersebut.
*Prang*
Ponsel yang berada di tangan Ziana jatuh.
"ma..maaf.." ucapnya, dengan tangan gemetar Ziana berusaha mengambil ponsel milik Arash yang sudah tergeletak di tanah.
Namun dengan cepat Arash menghentikannya, laki-laki itu menarik Ziana kedalam pelukannya, ia mendekap Ziana yang masih nampak shock.
"tenangkan dirimu sayang.." bisik Arash lembut, seraya mengusap punggung dan kepala sang istri secara bergantian.
"kita harus pulang.. sebelum semuanya terlambat.." kata Ziana setelah dia sedikit tenang.
"iya sayang.. aku akan meminta sekertaris Jhon untuk memesan tiket.."
Beberapa jam kemudian Arash dan Ziana sudah berada di dalam pesawat.
Ziana terlihat begitu gelisah seperti sedang mencemaskan sesuatu, sementara Arash yang dengan setia berada disampingnya.
"Regan akan baik-baik saja, percayalah padaku.." ucap Arash menarik kepala Ziana untuk bersandar di bahunya "tidurlah sayang.. kamu butuh istirahat.." bisik Arash begitu lembut.
Dan bagai mendapat sebuah mantra, dalam hitungan menit saja wanita itu sudah tertidur lelap dalam rengkuhan Arash.
Setelah melihat Ziana tertidur, Arash lalu menghubungi Jhon dan meminta sekertarisnya itu untuk mengawasi Regan, jangan sampai dia melakukan hal-hal yang akan membahayakan dirinya sendiri.
Usai berbicara dengan sekertaris Jhon, Arash kemudian menyusul Ziana ke alam mimpi, sebab masih ada waktu sekitar 5 jam lagi untuk mereka sampai ke tempat tujuan.
Sementara itu Bryan yang juga sedang berada diluar kota pun memutuskan untuk langsung kembali setelah mendapat kabar dari Lucas tentang musibah yang menimpa sahabat mereka.
Dengan ditemani Naysilla yang sekarang sudah menjadi sekertaris resmi, setelah sebelumnya gadis itu berhasil lolos dari semua tugas yang diberikan kepadanya, Bryan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Bryan adalah sosok pria yang paling setia kawan jika dibandingkan dengan Arash dan Lucas, jadi tidak heran jika ia memaksa untuk tetap pulang setelah mengetahui tentang musibah yang baru saja menimpa Regan yang telah dia anggap sebagai sahabat, seperti Arash dan juga Lucas.
Naysilla yang sudah kelelahan setelah seharian menemani bosnya menemui beberapa klien di tempat berbeda tanpa
sadar tertidur.
Kepala gadis itu terjatuh dan mendarat di bahu kokoh bos dinginnya. Mungkin saking lelapnya tidur dari gadis itu, hingga dia tidak menyadari apa yang sedang terjadi, malahan dia terlihat menikmati momen itu, terbukti dari suara dengkur yang dikeluarkannya.
Bryan ingin protes karena merasa terganggu dengan bunyi dengkur Naysilla, namun melihat wajah lelah itu entah kenapa dia merasa tidak tega.
Akhirnya pria dingin itu membiarkan saja perjalanannya ditemani dengan suara dengkuran yang berasal dari sekertarisnya.
*****