
Keesokan harinya di kediaman Wijaya, Ziana baru saja terbangun dari tidurnya.
Perempuan itu terlihat kebingungan karena berada di tempat yang tidak di kenalnya.
Setelah beberapa saat barulah Ziana mengingat kejadian semalam. Perempuan itu menoleh kesamping kanannya dan tersenyum saat mendapati Attar masih tertidur di sebelahnya sambil memeluk perutnya.
Ziana menghadap ke arah Attar dan berusaha membangunkan bocah laki-laki itu dengan cara mengusap-usap pipinya dan sesekali Ziana menarik hidung bocah tersebut.
Attar menggeliat dan perlahan membuka matanya.
"morning sayang" sapa Ziana saat kelopak mata Attar terbuka.
"morning aunty Zi" jawab Attar kemudian bocah itu semakin mengeratkan pelukannya kepada Ziana.
"Sudah pagi ayo bangun" bujuk Ziana
"Lima menit lagi Aunty, Attar masih ngantuk" rengeknya.
"baiklah lima menit, setelah itu kau harus mandi dan berganti pakaian"
"iyaa aunty"
Ziana meraih ponselnya diatas nakas dan mengaktifkannya, perempuan itu sedikit heran, karena banyak sekali panggilan dan chat masuk dari Dita.
Karena penasaran akhirnya Ziana mengirim pesan balik kepada Dita. Tidak sampai 3 detik sahabat sekaligus sekertarisnya itu langsung menelpon.
Belum sempat Ziana berkata halo namun diseberang sana Dita sudah memberondongnya dengan pertanyaan.
'ya ampun kak lo tuh kemana aja sih? gue panik tau gak dari semalem lo gak ada kabar, dan ini sekarang lagi dimana? biar gue jemput, lo inget kan kalo pagi ini kita meeting" cerocos Dita tanpa memberi kesempatan kepada Ziana untuk bersuara.
Ziana menghela nafas "udah? kalo udah gue tutup, pusing gue denger lo ngoceh" setelah berucap demikian perempuan benar-benar mematikan sambungan teleponnya.
Sedangkan di seberang sana tepatnya di kota B, Dita sudah mencak-mencak karena kelakuan Ziana yang seenak jidatnya langsung mematikan panggilan secara sepihak.
Ziana tiba-tiba bersin "ini pasti Dita lagi ngomongin gue dibelakang" tebak Ziana
Perempuan itu hanya menggeleng kemudian mengecek jam di ponselnya.
"Attar.. udah hampir jam 7 loh sayang, bangun yuk" ucap Ziana kembali menepuk-nepuk pipi Attar.
"iya Aunty" Attar langsung bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas masuk kedalam kamar mandi. namun belum sampai di depan pintu kamar mandi, bocah itu kembali ke kasurnya dan tiba-tiba saja mengecup pipi Ziana kemudian kembali melanjutkan niatnya yang sempat tertunda.
Ziana bukannya marah, perempuan itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala karena kelakuan Attar yang menurutnya sangat menggemaskan.
Terdengar suara ketukan pintu, Ziana bangkit dan membukakan pintu, dan ternyata itu adalah Arianna.
"Pagi nak, ini baju ganti buat kamu, Tante tidak tahu ukuran kamu, semoga ini muat ya" Sapa Arianna sembari menyodorkan sebuah paper bag yang berisi baju ganti untuk Ziana.
"pagi Tante, terimakasih dan maaf sudah ngerepotin" ucap Ziana tidak enak kepada sang pemilik rumah.
"tidak nak.. saya sama sekali tidak merasa direpotkan, oh iya gimana dengan Attar?" balas Arianna sumringah, sembari bertanya tentang keadaan sang cucu.
"Attar sudah tidak apa-apa Tante, ayo silahkan masuk" ujar Ziana membuka lebar daun pintu.
"tidak perlu nak, kalian cepatlah bersiap dan segera turun untuk sarapan bersama" kata Arianna setelah itu wanita paruh baya itu meninggalkan Ziana.
Setelah Attar selesai dengan ritual mandinya Ziana pun bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Selang beberapa saat keduanya telah selesai dan kini mereka berjalan beriringan untuk sarapan bersama.
******
Happy Reading 💞💞💞