
"Dokter.. dokter tolong.. dia tertembak" teriakan Regan menggema, membuat semua orang menatap kearah mereka.
Beberapa suster kemudian berlari sambil mendorong sebuah brankar, dengan cepat Regan meletakkan Ziana keatas brankar tersebut dan ikut mendorong Ziana sampai kedalam ruang IGD namun suster menghalau Regan, dan memintanya untuk menunggu di luar saja.
Regan terlihat sangat terpukul dengan keadaan Ziana, perempuan yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.
'zi.. kamu harus bertahan, aku tau kamu orang yang kuat. aku gak akan bisa maafin diri aku sendiri kalau sampai kamu kenapa-kenapa zi' batin laki-laki tersebut.
Sementara Arash yang melihat keadaan perempuan yang telah menyelamatkan nyawanya dari timah panas itu, terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
Laki-laki itu pun menghampiri Regan dan meminta maaf kepada lelaki yang 3 tahun lebih tua darinya itu. Arash duduk dilantai dan bersimpuh di depan Regan.
Regan tidak ingin menyalahkan siapapun, karena dia tahu alasan Ziana melakukan semua ini.
"bangun, ini semua bukan salah elo" tutur Regan membantu Arash untuk bangun dan mendudukkan laki-laki yang tengah di landa rasa bersalah itu.
"kalo aja dia gak melindungi gue, pasti dia akan baik-baik aja sekarang" ucap Arash penuh sesal.
"dan biarin kamu mati tertembak di hadapannya?" sela Regan menggeleng kecil.
"gue yakin dia pasti bahagia karena berhasil ngelindungin elo" kata Regan lagi tersenyum getir.
"tapi dia harus ngelewatin ini semua karena gue, dan gue gak akan maafin diri gue sendiri kalo sampai terjadi apa-apa sama perempuan itu"
"Ziana, namanya Ziana" ujar Regan memberitahu nama asli Ziana.
Hening selama beberapa saat, semuanya larut dalam pikiran masing-masing.
2 jam telah berlalu, akhirnya pintu yang dari tadi tertutup rapat, kini terbuka.
Hampir 10 orang yang menunggu diluar termasuk Jessica dan jangan lupakan Dita yang baru saja bangun dari tidurnya, ikut menunggu tanpa tahu apa yang terjadi dan siapa yang sedang mereka tunggu.
"bagaimana dok keadaannya? dia baik-baik saja kan?" bukan Regan tapi Arash lah yang dengan cepat memberondong dokter dengan pertanyaannya.
Dokter muda tersebut terlihat menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Queen baik-baik saja, beliau sudah melewati masa kritisnya, beruntung peluru itu tidak terlalu dalam, jadi tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan, tapi.."
"tapi apa dokter" sela Arash memotong ucapan sang dokter.
Lucas yang berdiri di belakang laki-laki itu dengan kurang ajarnya menoyor kepala sahabatnya, namun sang pemilik kepala tidak ingin ambil pusing.
"diem dulu, biarkan dokter cantik menyelesaikan ucapannya." ujar Lucas.
"silahkan di lanjut dokter cantik" lanjutnya lagi mengedipkan sebelah matanya. sempat-sempatnya lelaki buaya itu menggoda dokter muda tersebut di situasi genting seperti ini.
Bryan hanya berdecak kesal melihat kelakuan sahabat playboy nya itu.
Sementara sang dokter yang di goda malah memutar kedua bola matanya jengah.
'kalo bukan teman-temannya queen udah aku usir dari sini' batin dokter tersebut.
"Queen akan segera di pindahkan ke kamar VVIP dan saya sudah menyuntikkan obat tidur kepada queen, jadi untuk sementara jangan ada yang mengganggunya, biarkan beliau beristirahat terlebih dahulu" jelas dokter tersebut.
Arash dan yang lainnya mengangguk.
"baik, terimakasih Val" ucap Regan, akhirnya lelaki itu bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari dokter Valerie.
"kalian udah saling kenal?" celetuk Lucas menatap Regan dan dokter cantik yang kini hanya terlihat punggungnya saja.
"hemm" hanya di balas deheman oleh Regan.
"tunggu.. sebenarnya ini ada apa sih? dan anda.." ujar Dita tiba-tiba sembari jari telunjuknya kini menunjuk ke arah Arash.
"Anda tuan Arash Wijaya kan?" lanjut Dita dan diakhiri dengan sebuah pertanyaan.
yang di tanya hanya bisa mengangguk, laki-laki itu pun juga merasa bingung, bagaimana bisa rekan bisnisnya itu berada disini sekarang.
karena merasa belum puas dengan jawaban laki-laki tersebut Dita kembali buka suara "ada yang bisa jelaskan ini sebenarnya ada apa?"
"Jess." Regan memberi kode kepada Jessica agar wanita itu menjelaskan kepada Dita, yang di ketahui Regan adalah sekertaris sekaligus sahabat dari Ziana.
"baik bang" Jessica menunduk patuh kemudian wanita itu menarik lengan Dita.
"ayo..saya antar pulang, sambil saya jelaskan di mobil" ajaknya dan mau tidak mau akhirnya Dita menuruti wanita yang baru dikenalnya itu sebagai orang kepercayaan Ziana.
Setelah kepergian kedua perempuan tersebut kini hanya tinggal Regan, Arash, Lucas, Bryan, dan juga Tristan yang merupakan rekan Regan.
Mereka semua sudah berada di dalam kamar VVIP tempat Ziana dirawat.
"kalian semua juga pulanglah, biar saya yang akan menjaga queen disini" Kata Regan kepada keempat laki-laki yang masih berada di ruangan tersebut.
Bryan dan Lucas pun pamit terlebih dahulu karena memang malam sudah larut. Begitupun dengan Tristan yang juga ikut pamit.
kini tinggallah Regan dan juga Arash di dalam ruangan tersebut.
"lo juga sebaiknya pulanglah" ujar Regan.
"tapi gue belum ngucapin makasih sama dia" tunjuk Arash dengan ekor matanya kepada Ziana.
"lo gak denger tadi apa kata dokter? Ziana gak akan bangun malam ini, jadi sebaiknya lo pulang dulu, besok pagi baru kesini lagi" tutur Regan berusaha memberikan pengertian kepada Arash.
akhirnya lelaki itu pun mengangguk.
"baiklah, saya pulang dulu" ucapnya Arash kemudian.
Lelaki itupun bangkit dari duduknya, namun sebelum pergi, Arash menyempatkan diri untuk mendekat ke ranjang Ziana.
'terimakasih telah menyelamatkanku, ku mohon cepatlah bangun, aku janji akan membalas kebaikan kamu' batin laki-laki itu sebelum meninggalkan ruangan tersebut
******
Double update 🥳
Jangan lupa tinggalin 👣
dengan cara Like
Happy Reading 💞💞