About Ziana

About Ziana
Chapter 30



"aku kayaknya udah nggak bisa mimpin Bloody Rose ini lagi" ujar Ziana menunduk.


"maksud kamu?" Regan mengernyit.


"aku pernah gagal, dan aku gak mau kejadian itu terulang lagi" Ziana semakin menunduk.


"semua manusia pasti pernah gagal Zi, tapi mereka tidak menjadikan kegagalan itu sebagai alasan untuk terpuruk, tapi justru sebaliknya,mereka menjadikan kegagalan itu sebagai pacuan untuk lebih baik lagi" ujar Regan bijak.


"dan itu juga yang harus kamu lakukan" lanjut Regan.


Ziana tersenyum getir.


Kemudian wanita itu menggeleng.


"aku gak mau ada korban lagi karena kecerobohanku" setetes air mata jatuh di pipi Ziana.


Pria itu menghampiri Ziana dan memegang kedua bahu wanita itu.


Ziana melepaskan tangan Regan dari bahunya, kemudian berdiri dari duduknya, wanita itu mengambil tasnya dan bersiap pergi dari sana.


Regan menghela nafas, wanita di hadapannya itu memang sangat keras kepala.


"kamu bukannya gagal, tapi ada seseorang yang sudah menyabotase rencana kita dan menggagalkan semuanya" ucap Regan menghentikan langkah Ziana.


Ziana tersenyum sinis.


pandangannya lurus ke depan.


"itulah kesalahanku, karena aku ceroboh nyawa seseorang yang menjadi taruhannya, bahkan kini kakek juga masih koma"


"Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri, kakek koma bukan karena kamu"


"tapi karena aku cucunya meninggal" Ziana menoleh menatap Regan.


"itu gak bisa di jadikan alasan" Regan benar-benar tidak habis pikir dengan Ziana.


Ziana Kembali menatap ke depan dan berjalan ke arah pintu.


"mau kemana?" sergah Regan.


"balik" ucap Ziana singkat.


"Zi, tolong pikirkan ini lagi" ucap Regan dengan nada sedikit memohon.


Wanita itu hanya diam, sambil terus melangkah.


Regan menghela nafasnya kasar.


"ok fine kalo kamu gak mau kembali memimpin gak apa-apa, tapi kali ini aja tolong bantuin aku" teriak Regan dengan nada memelas.


Selama ini pria itu tidak pernah meminta tolong kepada siapapun, tapi kali ini Ziana melihat pria itu memelas kepadanya.


Ziana menurunkan sedikit ego nya.


Wanita itu menghentikan langkahnya dan menoleh.


"setelah berfikir, aku rasa gak ada salahnya kita melakukan aliansi dengan anggota the Braves, aku sudah menyelidikinya, mereka geng mafia yang sama seperti kita, mereka tidak akan menyakiti atau membunuh orang yang tidak pantas untuk di bunuh" ucap Regan panjang lebar.


"lalu, apa yang harus aku bantu?" tanya Ziana masih tetap di posisinya.


"aku hanya ingin kamu menggantikanku sementara, seenggaknya sampai pernikahanku selesai"


Ziana mengangguk pelan "baiklah, tapi ingat hanya sampai pernikahanmu selesai" ujarnya kemudian.


gantian Regan yang mengangguk.


"oh iya, satu lagi, selama aku mempersiapkan pernikahan, aku minta kamu sering-seringlah kesini" Regan kini duduk di sofa.


Ziana mengernyit mendengar ucapan Regan.


"sebenarnya aku sudah mengira bahwa kamu akan menolak untuk kembali memimpin, jadi aku sudah mempersiapkan kandidat yang akan menggantikan ku nantinya" kata Regan.


"lalu jika kau sudah mengetahui jawabanku, kenapa kau masih saja memaksaku, kenapa tidak langsung meminta orang itu" sarkas Ziana.


wanita itu memilih ikut bergabung bersama Regan dan duduk tepat di depan Regan.


"tidak segampang itu, dia masih sekolah, meskipun berbakat, namun belum cukup berpengalaman"


Regan menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.


"jadi aku minta tolong ke kamu untuk melatih dan membimbingnya selama aku tidak ada"


"jangan gila Re, kenapa harus aku, kan masih banyak yang lain.." protes Ziana.


"karena kalian sama sama perempuan, jadi aku rasa kamu bisa melatihnya" sela Regan tidak ingin di bantah.


"ya ya ya terserah mu sajalah" Ziana sedang tidak ingin berdebat.


Regan tersenyum puas, lalu pria itu bangkit.


" tunggulah disini, aku akan memanggilnya kemari" ujarnya kemudian berjalan menuju pintu.


selepas kepergian Regan, handphone Ziana bergetar tanda panggilan masuk.


"Halo Dit kenapa" ucap Ziana tanpa basa-basi.


"halo lo dimana?" tanya Dita di seberang.


"kenapa? apa ada masalah?" Ziana balas bertanya.


"ada kabar baik kak, Pak Agus sudah bersedia untuk memberikan kesaksian, dan barusan pihak kepolisian menelpon gue, untuk meminta kita ke sana hari ini juga" ucap Dita menjelaskan.


"oke oke gue ke sana sekarang"


Tut


Ziana mengakhiri panggilan secara sepihak tanpa menunggu jawaban sekertaris sekaligus sahabatnya tersebut.


******