
Keesokkan harinya Ziana kembali menjalani aktifitasnya seperti biasa.
Semua berjalan dengan lancar hari itu, hingga pada sore harinya sebuah panggilan masuk dari Aruna membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Kakinya terasa lemas, dan tidak lagi mampu menopang tubuhnya, dia luruh kelantai dengan air mata yang ikut luruh.
Aruna mengatakan bahwa Arash mengalami kecelakaan saat akan kembali ke kota A.
Seminggu yang lalu Ziana sempat menanyakan tentang Arash kepada Aruna, dan gadis itu mengatakan bahwa kakaknya sedang ditugaskan oleh sang papa untuk mengurus anak perusahaan yang sedang mengalami musibah dan berada jauh dari pusat kota.
Tentu saja semua itu adalah rencana Arash, agar pujaan hatinya tidak akan marah padanya sekembalinya ia nanti menjalankan misi rahasia dari calon mertua.
Dan ternyata benar, setelah mengetahui hal tersebut entah kenapa semua perasaan marah dan kesalnya kepada Arash menguap begitu saja.
2 hari setelah mengetahui hal tersebut, Ziana memutuskan bertolak ke kota B semata hanya untuk merefresh otaknya agar tidak terus memikirkan laki-laki itu.
Tapi sepertinya usaha Ziana gagal, karena nyatanya kemanapun kakinya melangkah tetap saja dirinya tidak bisa lepas dari bayang-bayang laki-laki yang dijulukinya sebagai laki-laki kurang ajar itu, bahkan hingga kedalam mimpi sekalipun.
Sungguh kuat pesona duda beranak 1 itu kepada seorang perempuan yang tidak pernah mengenal cinta sebelumnya.
Ternyata benar kata orang, bahwa ketika jatuh cinta semua akan terasa indah. Namun hari ini, semua perasaan itu berubah menjadi sedih dan takut.
Sedih karena terlambat menyadari perasaannya kepada laki-laki itu, dan takut terjadi apa-apa dengan Arash, Ziana pernah kehilangan seseorang yang sangat dicintainya, yaitu ibu kandungnya yang pergi bersama pria lain, meninggalkan dirinya dan papa Bagas.
Dan kini, ia tidak ingin merasakan kehilangan seperti dulu lagi.
Ziana bangkit lalu menghapus air matanya dengan kasar, dengan perasaan kacau perempuan itu pergi meninggalkan ruang kerjanya yang mana masih ada manager Jeffrey didalamnya.
Manager Jeffrey merasa bingung dengan sikap bosnya yang berubah-ubah hari ini, namun ia mengesampingkan itu, dan memilih mengejar Ziana karena, dia merasa khawatir dengan keselamatan bosnya itu.
"nona..nona Ziana tunggu.." Jeffrey berhasil menahan pintu mobil Ziana ketika perempuan itu hendak masuk kedalam mobilnya.
"Saya harus pergi, jadi jangan halangi saya manager Jeff.." desis Ziana menatap tajam.
Jujur saja Jeffrey merasa takut melihat tatapan Ziana kali ini, entah kenapa hari ini bosnya itu merasa aneh, fikir Jeffrey.
"saya tidak bisa membiarkan Anda pergi dalam keadaan kacau seperti ini" ucap Jeffrey dengan suara bergetar, takut Ziana akan tambah marah.
"tapi saya harus pergi kesana.." Ziana berjongkok dan menangis, sungguh baru kali ini dia menunjukkan sisi lemahnya kepada orang lain.
"baiklah anda boleh pergi, tapi biarkan saya yang menyetir" kata Jeffrey.
Ziana mengangguk, karena jujur dirinya sedang merasa tidak baik-baik saja.
"tapi pekerjaan kamu..."
"nona tenang saja, masalah itu bisa diurus oleh asisten saya"
Setelah berkata demikian, manager Jeff kembali berlari memasuki resort "tunggu sebentar nona.."
Tidak lama kemudian manager tersebut sudah kembali dengan membawa sebotol air mineral ditangannya.
"sebaiknya anda minum dulu nona.." ucap manager tersebut menyodorkan botol yang berisi air.
Ziana meraih botol tesebut dan meneguknya hingga hanya tersisa setengahnya.
Setelah itu, manager Jeff membantu Ziana masuk kedalam mobil, setelah itu barulah dirinya juga ikut masuk dan duduk di belakang kemudi.
Didalam perjalanan Ziana kembali menghubungi Aruna, namun nomor gadis itu tidak bisa tersambung.
Hal itu membuat Ziana kian khawatir dan meminta manager Jeff untuk mempercepat laju mobilnya.
🌹🌹🌹
Sementara itu di kota A, seluruh anggota Bloody Rose dan The Braves sedang berkumpul di suatu tempat, mereka sedang berpesta.
Lucas dan dokter Valerie telah kembali dari bulan madunya, dan mereka membawa berita baik.
Telah tumbuh sebuah janin yang akan membuat kedua geng mafia itu terus terjalin, karena itulah mereka merayakannya secara kecil-kecilan.
Regan sangat antusias karena salah satu temannya telah menjadi calon ayah sama seperti dirinya.
"selamat ya bro, bentar lagi jadi ayah" ucap Regan.
"thanks calon ayah senior" jawab Lucas dengan candaan.
Regan dan semua yang ada di meja itu tertawa kecil karena candaan Lucas.
"Siap-siap aja bro, tunggu bini lo ngidam" celetuk Regan.
"emangnya kenapa bang kalo ngidam?" bukan Lucas yang bertanya melainkan Fero.
"nikah aja dulu, baru ntar lo rasain sendiri" celetuk Tristan.
"sialan lo, kayak udah nikah aja" balas Fero membuat semua orang tersedak dengan ucapan laki-laki itu, kecuali Bryan.
"eh ngomong-ngomong ntar malam kalian semua datang nggak?" tanya Regan mengalihkan topik pembicaraan.
"gue sih datang, sohib gue tuh" ucap Lucas dan diangguki oleh Bryan.
"Dateng lah kan banyak makanan" kompak Fero dan Tristan membuat semua orang geleng-geleng kepala karena tingkah absurd keduanya.
"gue juga datang nanti" ucap Jessica.
"saya tidak" ucap Dian.
"yah kenapa? gue gak punya temen dong" balas Jessica.
"kakak saya pasti ada disana, dan saya tidak ingin dia curiga"
"yah gue sendirian dong" kata Jessica dengan nada sedih.
"kan ada gue" ucap Valerie
"elo mah udah ada pawangnya" jawab Jessica.
"sama gue aja" celetuk Tristan menaik turunkan alisnya.
"enak aja, lo kan sama gue" timpal Fero sambil merangkul lengan Tristan manja.
"apaan sih anjir jijik gue" Tristan berusaha melepaskan diri dari Fero, membuat semua orang kembali tertawa karena kelakuan absurd mereka.
****
Happy Reading 💞💞 💞