
Pagi harinya ketika dirumah sakit, Ziana dan Dian bergantian untuk kembali ke penginapan untuk mandi dan berganti pakaian.
Karena semalam tidak membawa ponsel alhasil setelah sampai di tempat penginapan Ziana baru mengeceknya dan kaget saat mendapati banyak panggilan tak terjawab dari Lucas.
Saat ingin menghubungi balik ponselnya tiba-tiba mati karena sedari kemarin lupa di charge.
Alhasil perempuan itu mencharge ponselnya terlebih dahulu kemudian membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket akibat keringat.
20 menit kemudian Ziana sudah selesai mandi dan mengenakan pakaiannya. Perempuan itu lalu mengambil ponselnya yang sudah terisi setengah, untuk menghubungi Lucas balik.
Nomor lelaki itu terhubung namun tidak diangkat, akhirnya Ziana menghubungi Tristan dan Fero namun hasilnya tetap sama, aktif namun tidak diangkat.
"ck.. pada kemana sih" gerutu Ziana sebelum menghubungi Dian untuk memintanya mencari tahu posisi ketiga laki-laki itu karena dia takut ada sesuatu yang terjadi kepada mereka bertiga.
Di rumah sakit, Dian langsung mencari tahu sesuai instruksi yang diberikan oleh Ziana.
Tidak sulit menemukan keberadaan mereka, hanya butuh waktu 1 menit Dian sudah kembali menghubungi Ziana dan mengirimkan titik lokasi ketiganya, yang ternyata sedang berada di gedung tua itu.
Ziana memiliki perasaan buruk, perempuan itu pun menghubungi Dian dan mereka pergi ke gedung tua tersebut secara terpisah.
Sementara itu pasukan Alex telah sampai dan berhasil mengalahkan Lucas dan kedua rekannya meskipun bersusah payah.
"Kita apakan para penyusup ini bos?" tanya anak buah Alex.
"lakukan seperti yang kita lakukan kepada si penghianat itu" ujar Alex memegang rahang kokoh milik Lucas.
"jauhkan tangan anda dari wajah saya" desis Lucas tak suka.
Alex Fernandez tersenyum miring "lihat posisimu anak muda, tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang" ejeknya.
Lucas menyeringai dan tanpa aba-aba langsung saja lelaki itu meludahi wajah seorang Alex Fernandez.
"brengsek.." marahnya, emosi Alex memuncak mendapatkan perlakuan seperti itu.
Pria yang hampir setengah baya itu lalu memukul Lucas secara membabi-buta. Sementara Lucas tidak bisa melawan karena kedua tangannya ditahan oleh dua orang pria yang bertubuh besar, begitupun dengan Tristan dan Fero.
Di luar gedung tanpa mereka ketahui Ziana dan Dian telah sampai dengan senjata yang telah mereka persiapkan.
Tidak lupa kedua perempuan itu menggunakan cadar, agar tidak dikenali oleh pihak musuh. "Siap?" tanya Ziana dan diangguki oleh Dian, tanpa membuang waktu mereka berdua pun langsung saja masuk kedalam sambil mengendap-endap.
Sementara itu di kota A terlihat Arash dan Bryan tengah berada di markas Bloody Rose atas permintaan Regan.
Regan merasa khawatir dengan Lucas, Tristan dan Fero karena sejak tadi mereka bertiga tidak ada yang memberi kabar.
Bahkan Ziana yang memberikan perintah kepada Tristan dan Fero pun sekarang tidak berada di apartemennya bahkan nomornya pun sedari semalam tidak bisa dihubungi, membuat Regan mencemaskan perempuan itu yang sering bergerak seorang diri.
Arash dan Bryan yang baru mengetahui tentang kepergian Lucas ke kota S ikut mengkhawatirkan sahabatnya itu.
Saat tengah asik mengobrol sebuah notifikasi pesan singkat dari Dian masuk. Gadis itu mengirimkan lokasi bangunan tua yang menjadi tempat penyekapan Lyan. Didalam pesan itu pun terdapat kata urgent yang disinyalir sebagai kode.
Ternyata sebelum berangkat ke gedung tua, Dian sudah terlebih dahulu memanggil bala bantuan.
Mereka pun bergerak cepat untuk menyusul ke kota S. Jessica yang kebetulan mendengar sekilas pembicaraan mereka pun mengajukan diri untuk ikut serta.
Jessica juga menyarankan untuk membawa Valerie ikut serta untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi.
Selesai bersiap mereka pun langsung kerumah sakit guna menjemput dokter Valerie yang telah di kabari oleh Jessica sebelumnya.
Kembali ke kota S, dengan gerakan cepat satu persatu anak buah Alex jatuh pingsan akibat pukulan di bagian bawah telinga dan belakang kepala secara bersamaan yang dilakukan oleh Ziana dan Dian tanpa suara.
Lucas yang sadar akan kedatangan kedua orang yang melumpuhkan anak buah Alex memanjatkan puji syukur.
"Tuan ada penyusup lagi" lapor salah seorang anak buah Alex yang kebetulan menoleh kebelakang dan melihat dua orang bertubuh kecil memukul teman-temannya hingga jatuh pingsan.
Ziana dan Dian mengangkat senjata dan mengarahkan kearah lawan. "Lepaskan mereka bertiga, atau kalian semua akan mati" ancam Ziana dengan nada dingin.
Membuat mereka semua berhenti dan mundur secara perlahan membuat Alex geram.
"dasar bodoh, kenapa kalian mundur ayo serang" perintah Alex namun tidak ada yang berani maju.
"dasar payah, mereka itu hanya berdua" teriak Alex penuh emosi membuat semua anak buahnya maju secara bersamaan.
Perkelahian pun tak terhindarkan, kini posisi Ziana dan Dian berada di tengah dengan semua musuh yang melingkari mereka.
Dian yang melihat Ziana menarik pelatuknya pun mengikutinya. Tanpa rasa takut gadis muda itu menembak beberapa anak buah Alex hingga mereka berjatuhan.
Ditempatnya berdiri Lucas, Tristan dan Fero bergidik ngeri melihat aksi pembantaian yang dilakukan oleh kedua perempuan bercadar itu yang diyakini Lucas bahwa salah satu dari mereka adalah Ziana.
Meskipun hanya berdua namun Ziana dan Dian sanggup membalikkan keadaan, anak buah Alex memang masih unggul namun diantara mereka tidak ada yang berani maju, setelah melihat teman-teman mereka dibantai. Hal itu membuat Alex tidak bisa berbuat apa-apa.
Pria itu sadar bahwa dirinya sudah kalah, dan mau memohon seperti apapun dua orang itu tidak akan mungkin mengampuninya.
Alex menyeringai saat menyadari bahwa pistol yang tadi dijatuhkannya ternyata tidak jauh darinya.
Saat melihat Ziana mengalihkan pandangannya begitupun Dian, Alex langsung bergerak cepat mengambil pistolnya dan..
*Dor*
*Dor*
Bukan hanya satu tapi dua tembakan berhasil pria setengah baya itu lepaskan dan bersarang di perut dan lengan kiri Lucas, membuat lelaki itu langsung terduduk lemas dilantai.
Alex tertawa puas melihat hasil tembakannya berhasil melukai lawan, meskipun meleset karena yang dibidiknya adalah jantung Lucas tapi malah mengenai lengannya.
Ziana yang tidak memprediksi akan hal itu pun merasa bersalah kepada Lucas, lalu tanpa aba-aba perempuan itu langsung menembak kearah Alex dan mengenai bahu kanannya.
Seolah tidak puas, Ziana masih ingin menarik pelatuknya namun beruntung Dian dengan cepat menghentikan aksi brutal Ziana, jika tidak entah apa yang akan terjadi kepada seorang Alex Fernandez.
Fero dan Tristan berlari menghampiri Lucas yang sudah terduduk dilantai dengan bersimbah darah. Sementara Dian berusaha menenangkan Ziana yang sudah diliputi oleh amarah.
Gadis itu sangat tahu tentang Ziana yang tidak akan terkendali jika salah satu rekannya terluka parah di dalam pertempuran.
Anak buah Alex yang melihat situasi memungkinkan untuk kabur tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Namun sayang, didepan ternyata sudah ada Regan dan yang lainnya.
Mereka akhirnya kembali ketempat semula karena tidak punya pilihan lain lagi selain hanya pasrah sambil berdoa semoga mereka akan diampuni.
***Nb*** : ***Pukulan belakang kepala dan di bagian bawah telinga secara bersamaan yang bisa membuat orng pingsan namanya Vital Points dan*** ***othor lihat dari channel youtubenya Om Deddy Corbuzier yaa teman-teman***.
Happy Reading 💞💞 💞