
Arash sampai di rumahnya saat jam telah menunjuk angka 1 dan semua orang telah tidur, beruntung laki-laki itu membawa kunci cadangan jadi tidak perlu menganggu tidur nyenyak dari orang rumah.
Setelah masuk ke kamarnya, Arash langsung saja membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.
Namun baru saja laki-laki itu membaringkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, perutnya tiba-tiba saja berbunyi.
Arash memang belum sempat makan malam tadi, jadi wajar saja jika perutnya berbunyi di jam segini.
Arash pun memutuskan turun ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan.
"loh Aruna kamu ngapain disini?" tanya Arash saat mendapati sang adik tengah berada di dapur.
"laper, kakak sendiri ngapain? baru pulang?" jawab Aruna dan balik bertanya.
"sama, heemm ya gitulah" jawab Arash singkat.
"masak apa sih?" Arash mendekat ke arah sang adik sambil memegang perut six pack miliknya yang tertutup oleh kaos oblong berwarna putih yang dikenakannya.
"mie, kakak mau?"
"boleh deh satu"
"yasudah kakak tunggu di sana aja" ucap Aruna menunjuk ke arah meja makan.
Arash pun dengan patuh mengikuti arahan sang adik tanpa membantah sama sekali.
Laki-laki yang biasanya cerewet dan usil kepada adiknya itu terlihat berbeda sekali malam ini, tapi bukan cuma Arash yang berbeda, Aruna pun nampak berbeda.
Gadis itu yang biasanya tidak pernah akur dengan Arash dan sangat suka sekali membantah keinginan sang kakak, tapi malam ini dengan baik hatinya gadis itu menawarkan seporsi mie instan untuk Arash.
"makasih ya" ucap Arash saat Aruna meletakkan semangkuk mie di hadapannya dan hanya di balas anggukan oleh sang adik.
Keduanya pun makan tanpa ada yang bersuara, keduanya larut dalam pikirannya masing-masing.
beberapa menit kemudian Arash yang sudah menyelesaikan makannya pun berdiri "aku udah selesai" ucapnya kemudian berjalan untuk menaruh mangkuk bekasnya di tempat cuci piring.
"duluan ya" ucap Arash lagi sambil mengusap pelan kepala sang adik yang masih menikmati mie nya, kemudian laki-laki itu mencium kepala Aruna sebelum berlalu meninggalkan adiknya itu.
Sebelum masuk ke kamarnya, laki-laki itu menyempatkan diri untuk mengecek keadaan putranya terlebih dahulu di kamarnya.
kamar putranya itu sangat gelap, dengan langkah perlahan Arash mendekati ranjang sang anak, tidak lupa laki-laki itu menghidupkan lampu tidur milik sang anak, kemudian mengambil posisi duduk di pinggiran tempat tidur.
Arash mengusap pelan kepala anaknya, namun betapa kagetnya laki-laki itu ketika mendapati tubuh sang anak yang amat sangat panas.
Arash panik, dirinya menyesal telah mengabaikan sang anak dan hanya fokus ke pekerjaannya. Mereka memang seorang ayah dan anak, namun itu hanya status, sebab tidak ada kedekatan yang terjalin di antara keduanya. Seperti seorang ayah dan anak pada umumnya.
"Attar kenapa kak?" tanya Aruna ketika mereka berpapasan di tangga.
"dia demam, badannya panas banget, kakak mau membawanya kerumah sakit" jawab Arash masih sambil berjalan.
"Aruna ikut ya kak" ucap Aruna sambil mengikuti langkah lebar kakaknya.
Arash hanya mengangguk, keduanya pun membawa Attar menggunakan mobil Arash, sementara Aruna duduk di kursi belakang sambil memangku sang keponakan.
________________________________________
Ditempat lain, di sebuah rumah sakit, nampak seorang cowok tengah tertidur sambil menelungkupkan kepalanya pada sebuah bed hospital.
Sementara seorang wanita paruh baya yang bernama Lani, tengah terbaring lemah di atas bed hospital tesebut, terlihat Lani mengusap-usap pelan kepala cowok yang tengah tertidur itu.
Cowok itu merupakan anak bungsunya yang sudah beberapa hari ini merawatnya di rumah sakit, dan sekaligus membiayai rumah sakitnya.
Sementara anak sulungnya menghilang entah kemana, bahkan anak sulungnya tersebut pergi meninggalkan seorang istri yang sedang hamil besar.
Istri dari anak sulungnya itulah yang bergantian dengan anak bungsunya untuk merawatnya di rumah sakit.
"eenghh" erangan kecil cowok tersebut membuat Lani berhenti dengan aktifitasnya.
"maaf ibu mengganggu tidur mu" ucap Lani menarik tangannya.
Cowok itu menggeleng kemudian meraih tangan Lani dan memperlihatkan senyumnya "ibu kenapa belum tidur?" tanyanya dengan sangat lembut.
"tadi ibu kebangun" jawab Lani.
Cowok itu mencium tangan Lani lama, setelah itu kembali menelungkupkan kepalanya, dan meletakkan kembali tangan ibunya ke atas kepalanya seperti tadi.
"sekarang ibu tidurlah lagi, Leon akan disini menemani ibu" ucapnya tersenyum.
Lani mengangguk kemudian memejamkan matanya, Leon pun membenarkan posisinya dan ikut memejamkan mata, dengan tangan Lani yang masih berada di atas kepalanya.
******
mohon dukungannya dengan cara tinggalkan jejak.
Like
Komen
Happy Reading 💕💕💕