About Ziana

About Ziana
Chapter 22



Sementara itu di kota B Ziana baru saja sampai di hotel.


Ziana memilih menginap di salah satu hotel yang ada disana karena memang malam sudah larut ketika perempuan itu baru selesai dengan urusannya.


setelah hari yang panjang akhirnya Ziana bisa sedikit beristirahat.


perempuan yang sudah akan berumur 28 tahun pada penghujung tahun nanti itu membaringkan sejenak tubuhnya yang lelah ke atas ranjang.


setelah dirasa cukup, Ziana memutuskan untuk mandi kemudian tidur.


Selesai mandi dan berganti pakaian yang memang sudah disiapkan oleh Dita untuk berjaga-jaga, Ziana kemudian naik keatas ranjang bersiap untuk tidur.


Namun sebelum tidur Ziana terlebih dahulu mengaktifkan hp nya.


Banyak sekali notifikasi yang masuk di akun WhatsApp nya namun ada satu nama yang mencuri perhatiannya, yaitu pesan dari Aruna.


Dengan cepat Ziana membuka pesan yang dikirimkan oleh Aruna.


"Assalamualaikum kak"


"Kakak sibuk nggak?"


"Maaf mengganggu waktu kakak, Aruna cuma mau nyampein kalo Attar sakit, dan nanyain kak Ziana terus.


itulah sederet pesan masuk yang di baca oleh Ziana, selebihnya sudah tidak dipedulikan lagi sebab pikirannya sudah di penuhi oleh Attar si bocah yang akhir-akhir ini selalu bertukar kabar dengannya.


setelah mempertimbangkan untuk membalas atau tidak karena waktu yang sudah sangat larut, namun karena terlalu khawatir akhirnya Ziana membalas pesan Tersebut.


"Wa'alaikumsalam..


"Maaf tadi saya lagi ada kerjaan."


"gimana keadaan Attar sekarang?"


Setelah beberapa menit pesan yang dikirimnya akhirnya centang biru.


kemudian diikuti oleh panggilan video masuk yang di lakukan oleh Aruna.


Ziana menggeser tombol hijau di layar handphonenya dan tampaklah wajah pucat Attar disana bersama dengan Aruna.


"Assalamualaikum anak ganteng" Sapa Ziana pertama kali.


"Wa'alaikumsalam Aunty" balas Attar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"gimana kabarnya sayang? sudah minum obat belum?" tanya Ziana beruntun.


anak kecil itu mengangguk sambil terus memperhatikan Ziana.


"kenapa kok belum bobo jam segini?" tanya Ziana lagi.


"udah tadi" jawab Attar masih memandang Ziana lekat.


"kebangun ya"


Attar lagi-lagi hanya mengangguk namun matanya tak lepas menatap Ziana.


"kenapa liatin Aunty kayak gitu sayang?" tanya Ziana lembut balas menatap Attar lekat.


"Attar kangen" ucap anak kecil itu setelah beberapa saat terdiam, dengan suara serak ingin menangis.


Attar menunduk kemudian terdengar suara isakan dari bibir bocah laki-laki itu.


"hey kenapa menangis" tanya Ziana panik.


"maaf ya aunty gak bisa kesana jengukin Attar" ucap Ziana.


Attar mendongak, bocah itu menyadari bahwa tempat Ziana kini berbeda dengan tempat biasanya ketika mereka melakukan panggilan video.


"aunty dimana?" tanya Attar setelah selesai menghapus air matanya.


"aunty sedang berada di kota B sayang" jawab Ziana lembut.


"aunty sama siapa?"


"sendiri" Ziana menggerakkan hp nya memperlihatkan keseluruhan ruangannya kepada Attar.


"bobo yuk udah malem loh ini" aja Ziana.


"temenin" pintanya manja.


"iya sayang, Aunty Aruna nya mana?"


mendengar namanya di sebut cewek itu mengarahkan kepalanya kearah handphone.


"iya kenapa kak"


"tolong letakin hpnya di meja ya" pinta Ziana.


"oke" setelah meletakkan handphone tersebut Aruna pamit untuk mengambil sesuatu di kamarnya.


"nah.. sekarang Attar bobo ya, aunty juga udah ngantuk" ucap Ziana menutup mulutnya karena menguap.


"iya aunty selamat bobo"


"selamat bobo anak ganteng, lekas sembuh"


kemudian keduanya menutup mata secara bersamaan.


Hanya dalam waktu singkat keduanya sudah tidur, meski hanya melalui panggilan video namun Attar benar-benar seperti merasakan kehadiran Ziana di dekatnya, sehingga bocah laki-laki itu bisa tidur dengan cepat.


sedangkan Ziana yang memang sudah sangat lelah pun bisa tertidur dengan cepat.


Aruna yang baru kembali dari kamarnya hanya geleng-geleng kepala melihat keponakannya itu sudah tertidur dengan sangat lelap.


Bukan cuma Attar namun juga Ziana pun sudah tertidur, nampak di dalam layar handphone tersebut.


"kak Ziana benar-benar ajaib" ucap Aruna pelan pada diri sendiri sambil tersenyum.


Kemudian Aruna berinisiatif untuk memotret kelakuan keduanya dan mengirimkannya kepada sang Mama yang masih berada dirumah sakit bersama papa Arnan.


Setelah itu cewek itu pun ikut naik ketempat tidur Attar tanpa berniat mematikan sambungan vidio call itu.


'biarlah nanti juga mati sendiri' pikir Aruna.


beberapa menit terlewat Aruna pun ikut masuk ke alam mimpinya


*****