
Sesampainya di rumah sakit Attar langsung di tangani oleh tim dokter.
Arash yang masih terlihat sangat panik itu bahkan lupa untuk memberitahu mama Ariana dan juga papanya.
Aruna mendekat dan mengusap lengan kakaknya, gadis itu mencoba menenangkan sang kakak.
"Attar pasti akan baik-baik saja kak, dia itu anak yang kuat" tutur Aruna masih mengusap lengan Arash.
Arash mengangguk, sambil menghembuskan nafasnya kasar, lelaki itu berusaha berfikir positif.
Melihat sang kakak yang sudah mulai tenang, tidak gelisah lagi seperti tadi, Aruna mulai membuka suaranya. "Kakak udah kabarin mama sama papa?" tanyanya dan di jawab gelengan oleh laki-laki itu.
"ini sudah larut malam, sebaiknya kita kabari mereka besok pagi saja" putus Arash yang memang tidak ingin membebani kedua orangtuanya, apalagi papa yang baru beberapa hari ini bisa kembali beraktifitas lagi pasca serangan jantung yang dialaminya beberapa waktu yang lalu.
Mendengar keputusan kakaknya itu, Aruna pun membenarkan, akhirnya gadis itu hanya menghubungi asisten rumah tangga yang bekerja dirumahnya saja untuk memberitahu kedua orangtuanya besok.
Selang beberapa menit dokter yang tadi memeriksa Attar telah keluar.
Cklek
"gimana keadaaan anak saya dok?" tanya Arash cepat.
"anak anda baik-baik saja tuan, dia hanya demam, dan itu biasa terjadi pada anak-anak " tutur dokter itu sopan.
Arash bernafas lega mendengar penuturan dari dokter tersebut.
"apa saya sudah boleh menemui anak saya dok?" tanya Arash lagi.
"tentu.. tapi setelah anak anda di pindahkan keruang perawatan" jawab dokter sambil tersenyum.
"baik dokter terimakasih" ucap Arash menjabat tangan dokter yang hampir seumuran dengannya.
"sama-sama tuan itu sudah menjadi kewajiban kami. kalau begitu saya permisi dulu" kata sang dokter tidak kalah ramahnya.
"silahkan" ujar Arash.
kini tibalah mereka di ruangan VVIP yang di tempati oleh Attar.
Sekarang jam sudah menunjukkan angka 3 namun Arash sama sekali belum mengantuk. laki-laki itu masih setia mendampingi anaknya di pinggiran tempat tidur.
Berbeda dengan Aruna yang sudah tertidur di sofa panjang beberapa saat yang lalu.
Selain karena khawatir dengan Attar, Arash pun terus memikirkan perempuan yang tadi menyelamatkan nyawanya.
Arash mengernyit mendengar lenguhan sang anak, bahkan ketika sakit pun anaknya itu masih sempatnya memanggil nama perempuan itu.
perempuan yang sama sekali tidak Arash ketahui tentang siapa dan bagaimana latar belakangnya.
"aunty Zi.." kembali anak itu melenguh.
"tidurlah boy, dad disini bersamamu" bisik Arash tepat ke telinga anaknya, sambil mengusap kening Attar yang terlihat berkerut dengan tangan besarnya.
Setelah anaknya tenang, Arash bangkit dari kursinya, lelaki itu berjalan kearah lemari yang ada di pojok, Arash mengambil sebuah selimut yang memang telah di siapkan pihak rumah sakit untuk pasien jika ada yang ingin mengganti selimutnya.
Arash kemudian menyelimuti tubuh Aruna yang tidur meringkuk di sofa.
Setelahnya laki-laki itu keluar dari ruangan Attar, berniat untuk mencari kopi di kantin yang buka 24 jam.
Namun dirinya tidak sengaja berpapasan dengan Regan yang juga baru saja dari kantin.
"ternyata lo belum pulang?" tanya Regan lebih dulu.
Arash menggeleng "anak saya di rawat disini"
"di sebelah mana? sakit apa?" tanya Regan beruntun.
"kata dokter hanya demam" jawab Arash sambil tangannya menunjuk ruangan sang anak, yang kebetulan bersebelahan dengan ruangan yang di tempati oleh Ziana.
"bagaimana keadaannya?" gantian Arash yang bertanya.
"lo gak perlu khawatir, dia wanita yang kuat. lo fokus aja dulu ke anak lo" ucap Regan menenangkan.
Arash mengangguk "thanks ya".
"ya udah gue duluan ya, queen sendirian didalam" pamit Regan sambil menepuk bahu Arash, dan di jawab Anggukan oleh Arash.
Setelah punggung Regan sudah masuk sepenuhnya kedalam ruangan Ziana, barulah Arash melanjutkan tujuan awalnya yaitu kantin.
******
Jangan lupa tinggalin jejak kalian biar othor tambah semangat ngehalu nya😂
Happy Reading 💕💕💕