About Ziana

About Ziana
Chapter 66



Sementara itu di kediaman Abian, Robin sudah menunggu tuannya di ruang tamu di temani dengan secangkir kopi yang telah di hidangkan oleh art dirumah tersebut.


"permisi pak Robin, tuan berpesan bahwa anda diminta langsung ke ruang kerja beliau saja" ujar seorang pembantu yang diminta Abian untuk memanggilkan Robin.


"baik" ucap Robin singkat setelah itu segera menuju keruang kerja tuannya.


tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu pria itu langsung masuk "permisi tuan"


"hemm.. masuklah dan duduk" ujar Abian.


"katakan" titah Abian ketika Robin telah duduk di single sofa yang berada didepannya.


Robin pun menceritakan tentang teman-teman Ziana yang mengintai markas barunya Scorpion dan bahkan mereka menggunakan sebuah robot mini untuk mendengarkan percakapan dari anggota Scorpion.


Abian terlihat mengangguk-angguk "ada lagi?" tanyanya kemudian.


"maaf tuan tapi hanya informasi itu yang saya dapatkan" jawab Robin menunduk.


Abian memperhatikan wajah Robin "kenapa dengan wajahmu?" tanya Abian.


Robin terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan tuannya. "ini kemarin karena saya berkelahi dengan begal tuan" Jawab Robin penuh kebohongan.


"hemm..yasudah kau boleh keluar, tapi terus awasi mereka" titah Abian yang percaya begitu saja dengan kebohongan sang asisten.


"baik tuan saya permisi" pamit Robin.


Pria itu menghembuskan nafas lega setelah keluar dari ruangan tuan Abian.


...--------------------...


Sementara itu diruang makan dikediaman Wijaya, Aruna sudah heboh ketika melihat Ziana dan Attar muncul sambil bergandengan tangan.


Gadis cantik yang selalu ceria itu berdiri menyambut kedatangan Ziana dan sang keponakan tercinta.


Setelah Ziana mendekat Aruna menghampiri perempuan itu dan merangkul lengannya kemudian menuntunnya untuk duduk di sebelah Arash kakaknya.


Ziana duduk ditengah diantara Aruna dan juga Arash, sementara Attar duduk di depan Ziana bersama dengan Arianna disebelahnya.


"ayo makan, tidak perlu sungkan anggap saja rumah sendiri" ucap Arianna tersenyum hangat.


"Pa.. Ziana ini loh yang waktu itu nolongin mama saat mama tiba-tiba pusing di toilet restoran waktu itu" celetuk Arianna lagi mengingat kejadian waktu di restoran.


"oh ya? wah makasih loh sudah menolong istri saya ini" kata Arnan menatap istrinya kemudian beralih menatap Ziana lalu berterima kasih.


"sama-sama om" jawab Ziana.


Arnan mengangguk sembari tersenyum "ayo.. silahkan di lanjut makannya malah pada ngobrol" seloroh pria paruh baya itu.


Acara sarapan pagi itu pun berlangsung dengan obrolan ringan seputar kesibukan sehari-hari Ziana dan awal mula kedekatannya dengan Attar.


Sedangkan Arash hanya memperhatikan perempuan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ziana pun juga sepertinya cuek saja dengan kehadiran Arash.


Selesai sarapan Ziana pun berpamitan karena dirinya harus kembali ke kota B untuk menghadiri rapat.


Meskipun ada perasaan tidak rela dari Attar namun bocah itu tidak ingin mengganggu pekerjaan aunty Zi nya.


Sebelum pergi tidak lupa Ziana memberikan kado yang sudah disiapkan untuk Attar namun karena semalam tidak sempat memberikannya, jadilah Ziana memberikan kado itu pagi ini.


Sementara itu pagi-pagi sekali Lucas sudah berada dirumah sakit dimana Ziana dulu dirawat pasca penembakan itu.


Bukan tanpa alasan lelaki tinggi dan putih bersih itu kerumah sakit sepagi ini, maksud kedatangannya adalah untuk melakukan pdkt dengan salah satu dokter yang bekerja juga disana.


Yap, dokter itu adalah dokter Valerie, dokter cantik dan masih muda yang juga merupakan anggota dari Bloody Rose.


Lucas sudah mengagumi sang dokter saat pertama kali bertemu. Lelaki itu bertekad untuk menaklukkan hati dokter Valerie, bahkan lelaki itu telah berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti menjadi Playboy jika berhasil mendapatkan dokter Valerie.


Wajah tampan Lucas terlihat berseri-seri saat berjalan di lorong rumah sakit menuju ruangan dokter Valerie. Namun senyum itu langsung luntur saat menyaksikan sang pujaan hati tengah tertawa bahagia dengan seorang dokter laki-laki yang juga tidak kalah tampannya.


Bunga yang digenggamnya jatuh, lelaki itu memegangi bagian dadanya yang terasa berdenyut sakit.


Lucas pergi begitu saja sambil terus memegangi dadanya tanpa memperdulikan bunganya yang sudah teronggok di lantai.


*****


Happy Reading 💞💞 💞