About Ziana

About Ziana
Chapter 182



Waktu terus berjalan, banyak hal yang telah terjadi. Suka, duka telah dilalui keluarga kecil Ziana. Meskipun banyak ngeluhnya, mereka juga banyak belajarnya. Belajar menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, lebih kuat, lebih mandiri. Tanpa adanya orangtua, supir, bahkan asisten rumah tangga yang membantu mereka.


Saat ini, usia kandungan Ziana sudah memasuki bulan ke-tujuh.


Mama Arianna dan Bunda Claudia begitu antusias menyiapkan acara tujuh bulanan yang akan dilaksanakan di kediaman keluarga Wijaya, besok pagi.


Setelah proses bujuk membujuk yang alot, akhirnya Ziana, sang pemeran utama dalam acara yang akan diselenggarakan, akhirnya setuju untuk mengadakan acara tujuh bulanan. Dengan syarat, diadakan di rumah. Terserah di rumah mama atau bunda, yang penting acaranya sederhana dan yang di undang hanya orang-orang terdekat saja.


Saat ini Ziana sedang menidurkan Attar.


"Momzi..." panggilnya tiba-tiba sambil membuka matanya lagi.


"Hem.. katanya mau bobo?"


Attar yang tadinya memunggungi Ziana kini berbalik badan. Anak laki-laki itu memeluk Ziana erat "Attar mau sama-sama Momzi terus. Momzi janji ya, jangan pernah pergi?"


Ziana diam, mencerna ucapan Attar yang tiba-tiba. Namun tak urung, ia tetap mengangguk "iya sayang. Sekarang bobo ya udah malam"


Attar menggeleng "no, mom. Janji dulu"


"Momzi gak bisa janji, tapi Momzi akan berusaha untuk selalu bersama kalian" wanita itu menangkup kedua pipi Attar, menatap mata polos anak laki-lakinya lama sebelum mendaratkan satu kecupan di kening


Cup


"good night sayang"


"night mom"


Attar kembali ke posisi semula, berbaring memunggungi Ziana yang sedang mengusap-usap bahunya, salah satu kebiasaan Attar saat mau tidur.


Ziana bukan tipikal orang yang suka mengumbar janji, bahkan kepada anak kecil sekalipun. Ziana tidak ingin memberikan harapan semu, yang mana dirinya sendiri belum tahu akan seperti apa endingnya nanti.


___________________________


Hari yang ditunggu pun tiba.


Satu persatu keluarga, dan para sahabat Arash dan Ziana telah datang. Mereka turut mendoakan Ziana dan calon anak yang berada dalam kandungan Ziana.


Semua datang dengan menggandeng pasangan masing-masing, kecuali Regan. Sebab istrinya yang tinggal menghitung hari lagi akan melahirkan anak kembar mereka. Regan sangat menjaga setiap pergerakan sang istri.


Tak terasa rangkaian demi rangkaian selesai dilaksanakan dengan lancar.


Sore harinya para laki-laki duduk bersama di ruang tamu. Mereka berbincang-bincang sembari menyaksikan lalu-lalang para pekerja yang sedang membersihkan sisa-sisa acara. Sementara para perempuan tengah berkumpul di kamar milik Ziana.


Di dalam kamar, terlihat Ziana asyik bermain dengan Baby Liora, putri pertama Lucas dan Valerie.


Baby Liora sedang aktif aktifnya merangkak, membuat Ziana sangat gemas dengan tingkahnya yang tidak bisa diam. Persis seperti bapaknya batin Ziana tertawa dalam hati.


Valerie hanya duduk tenang memperhatikan putrinya yang anteng, meski dioper ke kiri dan ke kanan.


Ziana, Jennifer, Dian, hingga Naysilla rela antri hanya untuk bisa menggendong Baby Liora yang sangat lucu dan menggemaskan. Sedangkan Giana, pacar Fero masih terlihat malu-malu. Padahal dalam hati menjerit ingin menggendong Baby Liora juga.


Para orangtua sendiri lebih memilih untuk bersantai di taman belakang. Menikmati secangkir teh hangat, sembari berbincang-bincang yang tak kalah hangat, sekaligus mengawasi Attar dan Zoey yang tampak bermain bersama.


Attar berlari menghampiri sang Oma


"capek?" tanya mama Arianna yang hanya dijawab anggukan kepala oleh sang cucu.


"Zoey juga capek Oma" keluh gadis kecil itu ikut menyenderkan tubuh gempalnya pada mama Arianna.


"yasudah kalo begitu ayo kalian masuk mandi kemudian istirahat" ajak mama Arianna


"biar saya aja mbak" sela bunda Claudia cepat.


"gapapa Cla, kamu disini saja. Lagian saya sudah lama tidak mengurus anak kecil" ucap Mama Arianna sambil terkekeh


Semenjak Arash dan Ziana memilih untuk pisah rumah, waktu temunya dengan sang cucu berkurang. Jadi wajar saja jika mama Arianna sedikit merindukan kebersamaan dengan cucunya.


"mungkin di kamarnya, emangnya Zoey mau dimandiin sama kak Zi?"


Zoey mengangguk cepat


"gak mau sama Oma aja?" tanya mama Arianna lagi.


Zoey menggeleng


Mama Arianna nampak kecewa dengan gelengan Zoey, namun wanita paruh baya itu tetap mengantarkan kedua bocah tersebut ke kamar Ziana, setelah itu ia kembali ke taman.


"anak-anak sudah tidur?" tanya papa Arnan begitu melihat istrinya kembali


"mereka gak mau sama mama, maunya sama Zi" jawabnya sambil mendaratkan bokongnya di kursi samping papa Arnan.


"Zi emang dari dulu kayaknya punya daya pikat tersendiri yang membuat orang-orang ingin dekat dengan dia.." ucap Claudia meletakkan cangkir teh yang baru di teguknya.


"oh ya?" Respon mama Arianna


"iya mbak. tapi emang dasar Zi nya aja yang dingin dan cuek, jadi mereka yang mau dekat jadi mundur alon-alon.." candanya di akhir kalimat.


Topik para orang tua itu kini berganti sepenuhnya tentang Ziana dan masa kecilnya.


Sementara yang menjadi bahan pembicaraan terlihat baru saja selesai memandikan Zoey, sedangkan Attar memilih untuk mandi sendiri di kamarnya yang dulu.


Saat ini mereka hanya tinggal berdua di kamar, Valerie sedang menyusui baby Liora di kamar tamu. Sementara yang lainnya bergabung dengan para pria di bawah.


"Zoey mau bobo?" Ziana bertanya karena melihat adiknya menguap sejak tadi.


"hu'um.. tapi bobonya sama kak Zi boleh?"


Ziana tersenyum, sembari mengacak-acak rambut sang adik yang setengah kering setelah keramas "boleh dong sayang. Kangen ya sama kakak?" tanyanya iseng.


"kangeeeeeeennn banget" sahutnya heboh.


Ziana tertawa melihat Zoey yang terlihat lucu ketika merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Keduanya lalu naik keatas ranjang. Mengambil posisi dan bersiap untuk tidur.


"ayo tutup matanya"


"nunggu Abang dulu. Lama banget sih" Zoey menggembungkan pipinya kesal, karena yang ditunggu tidak datang-datang.


Ziana tersenyum sembari mengusap kepala adik kecilnya "kan Abang bobo di kamarnya sendiri" beritahunya.


"emang iya?" Zoey bertanya seraya mengedipkan matanya lucu.


"heeemmm" jawab Ziana singkat, membuat Zoey manyun seketika "kenapa sich ndak bobo sini aja sama Zoey" gerutunya yang disambut tawa oleh Ziana.


"kan Abang cowok jadi bobonya harus sendiri"


Zoey nampak diam, mencerna ucapan Ziana sebelum dia kembali berceletuk "tapi papa juga cowok tapi bobonya ditemani bunda"


Ziana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya dia sudah salah bicara "kan papa sama bunda sudah nikah" jawabnya yang apa adanya.


"emang harus nikah dulu ya, baru boleh bobo bareng?" tanyanya penasaran.


"iya Zoey. Udah ya sekarang bobo"


"kalau gitu nanti kalo udah gede Zoey mau nikah sama Abang" Zoey berucap sambil bertepuk tangan, seakan dirinya telah menemukan solusi yang tepat.


Ziana tidak menanggapi lagi celotehan adiknya. wanita itu agaknya sedikit kewalahan menghadapi pemikiran kritis sang adik.


*******