About Ziana

About Ziana
Chapter 150



Usai melakukan panggilan video kemudian mandi, kini Arash dan Ziana sedang menikmati sarapan yang tertunda, dimana harusnya mereka sarapan jam 7 pagi namun karena telat bangun jadilah mereka melakukan sarapan pada pukul 10 : 45


Ziana menghabiskan sarapannya dengan tidak bernafsu. Perempuan itu kesal kepada Arash yang sudah membuatnya susah berjalan, sehingga ia tidak bisa keluar kamar untuk sekedar menikmati pemandangan di tempat tersebut.


"sayang kenapa tidak di habiskan? apa makanannya tidak enak? apa mau pesan yang lain?" tanya Arash menatap kepada Ziana dengan tatapan bingung, sementara yang ditatap hanya menjawab dengan acuh.


"udah kenyang" ucap Ziana datar.


Setelah berkata demikian, Ziana berdiri dan berjalan tertatih ketempat tidurnya semula.


Arash yang melihat perubahan sikap Ziana sempat bingung, namun setelah melihat istrinya itu berjalan dengan cara aneh, ia mendadak merasa bersalah karena telah membuat istrinya kesakitan hingga harus berjalan aneh seperti itu. Namun mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi, menyesal pun percuma karena Arash pun sangat menikmatinya semalam, sehingga ia terus meminta berulang-ulang.


"biar ku bantu" seru Arash ikut bangkit dan menghentikan langkah Ziana.


"berhenti.. aku bisa.." ucap Ziana cepat seraya mengangkat satu tangannya, membuat Arash terdiam ditempatnya dan berubah menjadi murung karena penolakan yang ia berikan.


Ziana tahu akan itu namun dia tetap melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Arash yang memperlihatkan ekspresi murungnya, karena dirinya yang masih kesal.


Jika saja Arash tidak melakukannya selama berjam-jam, mungkin dirinya tidak akan merasakan sakit dan ngilu pada bagian bawahnya, mungkin dirinya bisa jalan-jalan dan menikmati pemandangan disini, tidak hanya berdiam diri dikamar seperti saat ini.


Akhirnya Ziana berhasil sampai di ranjang dan mendaratkan bokongnya diatas sana setelah berjalan dengan tertatih karena menahan sakit dan perih dibawah sana.


Wanita itu lalu meraih ponselnya dan mulai sibuk dengan ponsel pintarnya tanpa menghiraukan Arash yang terus menatap kearahnya dengan pandangan bersalah yang tercetak jelas di kedua bola mata coklat itu.



Sore harinya Arash keluar kamar setelah melihat Ziana tertidur di atas ranjang. Arash ingin mempersiapkan sesuatu yang spesial untuk sang istri sebagai bentuk permintaan maafnya karena telah membuat perempuan itu menanggung rasa sakit akibat ulahnya, ralat ulah juniornya.



Sementara Arash sibuk dengan urusannya, Ziana terbangun setelah beberapa saat laki-laki itu pergi.



Ziana menatap ke segala arah namun tidak melihat keberadaan suaminya. Namun bukannya panik, Ziana malah merasa lega karena akhirnya dia jadi memiliki kesempatan untuk menghubungi Jessica.



Jessica yang kebetulan sedang tidak sibuk pun langsung menerima panggilan dari Ziana pada dering pertama ponselnya berbunyi.



"Halo queen.." sapanya lebih dahulu.



("......")



"jangan khawatir, saya pasti akan terus mengawasi mereka" ucap Jessica dengan tegas dan lugas.



("......")



"baik queen..."



Tut..



Jessica menarik nafas lega setelah Ziana memutuskan sambungan teleponnya.



"kenapa lo.?" tanya Fero yang tiba-tiba muncul setelah tadi pamit ke toilet.



"ck.. bisa gak sih gak usah ngagetin" ucap Jessica menatap Fero dengan pandangan kesal dan sinis andalannya.



"biasa aja napa natapnya, sinis amat sama orang ganteng" celetuk Fero yang mulai kambuh lagi sifat narsisnya.




Sedangkan Tristan yang baru datang melihat kejadian itu, langsung berlari dan langsung menghalau benda itu agar tidak sampai mengenai sang pujaan hati. (Babang Tristan lebay.. padahal mah bungkus rokok doang๐Ÿ˜‚)



"wiihhh pangeran berkuda putih lo datang" celetuk Fero melirik Jessica sambil menghisap rokoknya dengan santai disaat mata Tristan sudah menatapnya dengan tatapan tajam.



"ck.. lo tuh kebiasaan banget suka lempar-lemparin bungkus rokok sembarangan" omelnya kepada Fero



"iyee..iyee maaf gue refleks" sahut Fero yang langsung meminta maaf setelah menghembuskan asap rokoknya ke udara, sementara Tristan masih menatapnya tajam.



Jessica menatap jengah kearah Tristan yang akhir-akhir ini selalu mempermasalahkan hal-hal sepele.



'ck.. kemarin masalah kaleng minuman, hari ini bungkus rokok besok apa lagi..' batin Jessica kesal, seraya bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan keduanya. Niatnya untuk berdiskusi dengan kedua laki-laki itu menguap karena sikap Tristan yang menurutnya kekanak-kanakan.



"loh.. mau kemana?" tanya Tristan saat melihat kepergian Jessica.



"gue mau pulang.." sahut Jessica cuek tanpa menoleh kebelakang dimana kedua laki-laki itu berada, perempuan itu malah semakin mempercepat langkahnya setelah menjawab pertanyaan Tristan.



Tristan langsung lesu mendengar dan melihat sikap cuek yang diberikan oleh Jessica.



"sabar bro.." ucap Fero seraya menepuk bahu Tristan yang sedang menatap kepergian Jessica dengan sorot matanya yang sedih.



"jalan yuk.." ucap Fero lagi mencoba untuk menghibur sahabatnya yang sedang galau itu. Namun dengan teganya Tristan menolak ajakan tersebut "ogah, emang gue cowok apaan" ucapnya sambil berdiri.



"gue juga mau pulang.." ucap Tristan sebelum pergi meninggalkan Fero seorang diri di area outdoor cafe tersebut.



"ck..ck..ck.. gak temen cewek gak cowok semua sama aja, sama-sama suka ninggalin" ucap Fero menggeleng-gelengkan kepalanya melihat punggung sahabatnya yang semakin menjauh. Fero lalu meraih cangkir yang berada didepannya lalu meneguk kopi yang sudah mulai dingin itu sebelum bangkit dan meninggalkan cafe tersebut mengikuti jejak kedua temannya.



Sementara itu disisi lain, terlihat Robin mondar-mandir didepan pintu ruang kerja kakek Abian.


Robin bingung harus melakukan apa. Jika dia memberitahukan tentang apa yang tadi ia dengar di taman, dia khawatir akan kesehatan dari kakek Abian, namun dirinya juga tidak ingin merahasiakan kebenaran yang didengarnya tersebut, karena Abian berhak mengetahui kebenaran tersebut.


Cklek


Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dan terlihat kakek Abian keluar dari dalam sana dan mendapati Robin yang sedang mondar-mandir di depan ruangannya.


'ada apa dengannya? tidak biasanya dia nampak gelisah seperti ini' batin Abian menatap Robin yang masih belum menyadari keberadaannya.


"Robin.."


Mendengar suara tuannya membuat pria yang 10 tahun lebih muda dari kakek Abian itu refleks mematung di tempatnya.


"kenapa kamu seperti gelisah? apa ada hal yang ingin kamu sampaikan?" tanya Abian yang kini sudah berdiri di belakang Robin.


Robin memutar tubuhnya secara perlahan dan kini menghadap kearah Abian sambil menunduk, tidak berani menatap kakek Abian.


"tuan...."


...****************...