
Ziana mengendarai mobilnya menuju ke lokasi yang sebelumnya telah dikirimkan oleh Dian.
Dian memberi tahu bahwa dirinya bersama dengan Aruna dan Leon di sekap oleh kumpulan orang yang belum mereka ketahui siapa dan apa tujuannya.
Sebenarnya bisa saja Dian melawan orang-orang itu, tapi mengingat dirinya sedang bersama dengan Aruna dan Leon jadi dia memutuskan untuk mengikuti saja permainan orang-orang yang menyekapnya itu.
Saat merasa keadaan sedikit aman Dian menghubungi Ziana melalui jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sekitar 48 menit Ziana tiba di alamat yang telah dikirimkan oleh Dian, dia datang bersamaan dengan Jessica yang juga telah dihubungi oleh Dian sebelumnya.
"kamu disini juga?" tanya Ziana ketika Jessica sudah memberi salam hormat kepadanya.
"iya queen, Dian menghubungi saya dan mengatakan bahwa dirinya butuh bantuan, makanya saya segera datang kemari" jawab Jessica.
"begitu ya.. tapi apa benar ini alamatnya?" ucap Ziana meneliti keadaan rumah didepannya yang masih terlihat sangat terawat.
Jessica mendekat kearah rumah yang diduga menjadi tempat penyekapan Dian.
"benar queen, alamat ini sesuai dengan yang dikirimkan oleh Dian" ucap Jessica setelah membandingkan alamat rumah tersebut dan alamat yang dikirimkan oleh Dian.
"kalau begitu kita harus berhati-hati, kita tidak tahu seperti apa situasi didalam" kata Ziana mengingatkan dan di balas anggukan oleh Jessica.
🌹🌹🌹
Bryan baru saja mendaratkan bokongnya di kasur miliknya yang telah dia tinggalkan selama beberapa hari ini.
Namun tiba-tiba panggilan masuk dari sang pengantin baru yang sedang menikmati bulan madunya, siapa lagi jika bukan Lucas, membuatnya terpaksa harus menunda niatnya untuk beristirahat.
Bryan melangkah kearah balkon, yang disana bisa langsung melihat pemandangan kolam ikan dan hamparan taman yang luas dihiasi oleh berbagai macam jenis tanaman bunga yang ditata dengan cantik dan rapi.
Tempat itu adalah tempat favorit Bryan jika ingin mencari ketenangan.
"Halo" sapa Bryan.
("halo Bry lagi dimana?") tanya Lucas to the point.
"di balkon, kenapa?" balik bertanya.
("Lo ada masalah?") bukannya menjawab Lucas kembali bertanya.
Tidak ada lagi rahasia diantara mereka, karena sekeras apapun kamu menutupi rahasia dari seorang sahabat, pasti cepat atau lambat sahabatmu akan mengetahuinya. Begitulah persahabatan yang terjalin antara Lucas dan Bryan.
"nanti gue cerita.." jeda Bryan.
"kenapa lo nelpon gue malem-malem gini? oh iya disana masih sore ya" lanjut Bryan setelah menjeda ucapannya.
"Aruna dalam bahaya" ucap Lucas kembali fokus dengan tujuan awalnya menghubungi Bryan.
"apa?" kaget Bryan langsung menegakkan tubuhnya.
Bagi mereka Aruna bukan hanya adiknya Arash, namun Aruna sudah mereka anggap sebagai adik mereka sendiri. Dan tanpa sepengetahuan Arash mereka berdua memasang sebuah alat pelacak pada kalung pemberian Arash yang selalu Aruna gunakan.
Ponsel Lucas akan berbunyi apabila Aruna keluar dari zona aman yang sudah Lucas tentukan. Dan baru saja ponselnya berbunyi menandakan bahwa Aruna sedang berada di luar zona aman, yang bisa disimpulkan oleh Lucas bahwa gadis ceriwis itu sedang dalam bahaya.
"lo udah hubungin Arash?" tanya Bryan dengan nada paniknya.
"dia kan lagi diluar negeri" beritahu Lucas.
"apa? keluar negeri?" Lagi Bryan dibuat terkejut.
"dia kesana karena misi penting untuk menentukan masa depannya nanti" papar Lucas.
"aku mengerti, sekarang kirim posisi Aruna biar gue kesana untuk mengeceknya secara langsung"
"sudah gue kirim" jawab Lucas.
"oke, gue kesana sekarang juga, lo gak perlu khawatir tentang Aruna, gue pasti akan jagain adik kita" Bryan meyakinkan.
"gue percaya sama lo, terus kabarin gue" kata Lucas sebelum mematikan sambungan teleponnya setelah Bryan berkata iya.
Selesai berbicara di telepon, Bryan mengganti pakaian kemudian menyambar jaket dan kunci motornya, entah kenapa hari ini Bryan ingin menggunakan motor.
Bryan berkendara dengan kecepatan tinggi, khawatir Aruna kenapa-kenapa jika benar bahwa gadis itu dalam bahaya.
****
Happy Reading 💞💞 💞