About Ziana

About Ziana
Chapter 133



Seminggu berlalu namun tidak ada tanda-tanda bahwa Zara akan terbangun.


Setelah operasi waktu itu, Zara sempat sadar, namun hanya beberapa menit sebelum akhirnya mata itu tertutup dan tidak pernah terbuka lagi hingga saat ini.


Zara koma


Ziana amat terpukul dengan keadaan wanita itu. Ziana merasa bersalah atas kejadian ini, jika saja wanita itu tidak datang dan menyelamatkannya mungkin keadaan Zara tidak akan seperti ini. Meskipun Ziana membencinya namun jauh didalam lubuk hati, jujur Ziana sebenarnya merindukannya.


Seperti pepatah yang mengatakan bahwa 'darah lebih kental daripada air' terbukti memang benar adanya. Meskipun ribuan kali Ziana mengucap bahwa dirinya membenci wanita itu, namun tetap ikatan darah tidak bisa dipisahkan dengan cara apapun, karena ikatan kekeluargaan akan selalu kuat dari hubungan lainnya.


kembali ke topik


Sejak Zara dinyatakan koma, sejak saat itu juga Ziana bolak-balik rumah sakit, kantor dan apartemen hingga ia lupa dengan Arash yang juga membutuhkannya.


Apalagi pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Yap malam pergantian tahun tinggal 3 hari lagi, dan itu berarti pernikahan mereka pun tersisa 3 hari lagi.


Arash sengaja memilih malam pergantian tahun sebagai resepsi pernikahan mereka agar bisa dikenang oleh banyak orang setiap tahunnya, sesimpel itu.


Sementara itu malam ini terlihat Ziana mengendap-endap keluar dari rumah sakit, setelah menerima telepon dari seseorang.


Orang itu adalah Lyan.


Ziana curiga bahwa kecelakaan tempo lalu adalah sebuah kesengajaan, jadi Ziana sengaja meminta bantuan Lyan yang baru saja direkrutnya menjadi asisten pribadi, untuk mencari tahu siapa dan apa tujuan orang tersebut ingin mencelakakan dirinya.


Masih ingat siapa itu Lyan?


Lyan merupakan mantan asisten pribadi tuan Alex Fernandez, pria yang pernah disekap oleh Alex namun berhasil diselamatkan oleh Ziana dan Dian. Dan kini dia bekerja untuk Ziana.


Lalu kenapa bukan Regan?


Karena Ziana tidak ingin perhatian Regan terbagi antara keluarga dan masalah ini, apalagi istrinya sedang hamil besar.


Sebagai sesama perempuan Ziana mencoba mengerti tentang Gretha, sebab ia pernah melihat mama Claudia ketika tengah mengandung Zoey.


Saat itu, Ziana sering mendengar mama Claudia selalu menangis dikamar ketika malam tiba, disaat papanya sedang ada dinas diluar. Ziana berfikir, semua wanita hamil akan seperti itu, jadilah dia tidak ingin melibatkan Regan dalam kasus kali ini.


Ziana pergi tanpa diketahui oleh siapapun, karena tidak ingin merepotkan orang-orang disekitarnya.


Ini adalah masalahnya sendiri, dan Ziana tidak ingin melibatkan orang lain, cukup Zara yang menjadi korban karena nekat untuk menyelamatkannya, dan Ziana tidak ingin ada korban selanjutnya.


Sesampainya di tempat yang sudah dijanjikan, disebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari area rumah sakit.


Disana sudah ada Lyan yang sedang menunggu bersama dengan secangkir kopi. "bukti apa yang kamu dapat?" tanya Ziana setelah duduk dihadapan Lyan.


Laki-laki itu meraih ponselnya dan memperlihatkan sesuatu "saya berhasil mendapat rekaman cctv" ujarnya, sementara Ziana sudah fokus dengan ponsel Lyan.


"saya sudah melacak plat mobilnya, namun mereka menggunakan plat palsu. tapi Anda tenang saja, saya dan teman saya juga sudah meretas cctv jalan dan kami berhasil menemukan keberadaan mobil tersebut" jelas Lyan panjang lebar.


"Lalu apa lagi yang kalian dapat?" tanya Ziana penasaran.


"mobil itu sekarang berada di bangunan terbengkalai yang berada dipinggiran hutan, dimana bangunan itu dijadikan markas oleh para preman disana" Lyan terus menjelaskan sementara Ziana terlihat menyimak.


"tapi saya minta maaf karena saat saya tiba disana, ternyata bangunan itu sudah kosong" sesal Lyan.


Ziana terlihat menghela nafas mendengar perkataan terakhir Lyan "tapi kamu sudah cek mobil itu? siapa tahu ada petunjuk disana"


"maaf Bu, tadi saya tidak sempat mengeceknya" ucap Lyan menyesal. "saya akan kesana sekarang untuk mengecek mobil itu" putus Lyan seraya berdiri.


"tidak perlu, ini sudah malam" cegah Ziana.


"tapi Bu.." Lyan ingin protes namun ucapannya sudah lebih dulu dipotong


"besok saja, sekarang kamu pulanglah.." titah Ziana. "saya juga sudah mau pulang" ucap Ziana lagi, sambil berpura-pura menguap, dengan gerakan tangan menutup mulutnya.


Akhirnya Lyan hanya mengangguk. Setelah kepergian Lyan, Ziana pun ikut pergi.


Ziana kembali kerumah sakit untuk melihat keadaan Zara terlebih dahulu, setelah dirasa keadaan wanita itu baik-baik saja, Ziana pun memutuskan untuk kembali ke apartemen setelah menitipkan Zara kepada perawat untuk menjaganya selama dirinya tidak ada.


Ziana meraih pisau lipat kecil yang berada di laci kamarnya. Pisau yang sudah lama tidak pernah disentuhnya, pisau yang pernah menjadi senjata favoritnya sewaktu masih menjadi mafia. Lama perempuan itu menatap pisau tersebut, sebelum akhirnya meraih kunci motornya yang tergeletak diatas meja kerjanya.



Sementara itu Arash yang baru pulang dari kantornya, menyempatkan diri untuk mampir kerumah sakit, untuk menjenguk calon mertua sekaligus bertemu calon istri.



Namun sayang, sesampainya disana dia tidak menemukan keberadaan Ziana, menurut perawat yang berjaga, Ziana pulang ke apartemennya untuk mandi dan berganti pakaian.



Arash memilih menunggu, namun hingga jam 12 malam perempuan itu tidak kunjung datang. Ditelpon pun percuma, karena nomornya tidak bisa dihubungi.



Akhirnya Arash menghubungi Lyan, selaku asisten pribadi Ziana.



Lyan yang sudah tidur itu pun langsung bangun dan menjauh dari sang istri setelah melihat nama si pemanggil yang tertera dilayar ponselnya.



'ada apa tuan Arash menelpon jam segini?' batin Lyan bertanya-tanya.



Lama Lyan berfikir, hingga akhirnya setelah panggilan ke-tiga barulah dia mengangkat panggilan tersebut.



"halo.." sapanya



("halo, kalian ada dimana?") tanya Arash tanpa basa-basi ("kamu sedang bersama Ziana kan?") tanyanya lagi.



"ii..iya tuan, ini saya masih didepan apartemen ibu Ziana" jawab Lyan berbohong.



terdengar helaan nafas lega diseberang sana ("yasudah kalau begitu saya tutup ya") ucap Arash sebelum mematikan panggilannya.



Sementara Lyan, langsung bergegas berganti pakaian setelah selesai berbicara dengan Arash. Lyan takut Ziana pergi mencari bukti seorang diri.



Meskipun belum kenal lama dengan Ziana, namun jangan lupakan bahwa Ziana pernah menjadi musuh seorang Alex Fernandez yang merupakan mantan atasan Lyan, jadi Lyan amat sangat mengetahui tentang Ziana yang keras kepala dan tidak terduga.



Setelah selesai berpakaian tidak lupa Lyan mengecup kening sang istri sebelum pergi menyusul Ziana.



Sedangkan Arash langsung pulang kerumahnya setelah berbicara dengan Lyan.