About Ziana

About Ziana
Chapter 78



Ziana yang mengetahui bahwa sedari tadi Arash mengikutinya pun berhenti. Tanpa menoleh perempuan itu berkata "berhenti mengikutiku dan pergi dari sini"


Arash mendekat, namun Ziana mengangkat satu tangannya "berhenti..gue ingin sendiri" ujarnya. Lalu kembali berjalan.


Arash tidak mengindahkan peringatan Ziana, laki-laki itu terus saja mengikuti Ziana tanpa sepengetahuan perempuan itu, karena khawatir perempuan itu akan melakukan hal yang nekat.


Bukannya tidak mengetahui bahwa Arash masih mengikutinya, namun perempuan itu memilih acuh dan tidak perduli lagi dengan kehadiran laki-laki itu.


'terserah, nanti juga capek sendiri' batin Ziana sambil terus melangkah.



"bagaimana keadaannya?" tanya Bryan saat dokter Valerie baru saja keluar, setelah selesai menangani Regan.



"sebenarnya apa yang terjadi?" tanya dokter itu balik.



Bryan pun menceritakan semuanya sesuai dengan yang ia ketahui sementara Lucas hanya diam sedari tadi tanpa berniat membuka suara.



Valerie mendengarkan cerita Bryan dengan saksama, namun ada yang mengganggu pikiran dokter muda tersebut, yaitu diamnya Lucas, setahunya lelaki berkulit putih bersih itu biasanya tidak bisa diam dan selalu mengambil kesempatan untuk mengganggunya.



Tapi dokter itu memilih cuek dan tidak terlalu mempermasalahkan.



Selesai bercerita Bryan kembali bertanya "apa kami boleh masuk?"



Dokter Valerie mengangguk "tentu, lukanya tidak terlalu parah"



"baik, terimakasih dokter" ucap Bryan



"sudah menjadi tugas saya" jawab Valerie "kalau begitu saya permisi" lanjut dokter Valerie lagi.



"silahkan" ucap Bryan. Laki-laki itu pun menyenggol lengan Lucas yang hanya diam sedari tadi, bahkan saat dokter Valerie pamit pun sahabatnya itu hanya diam tidak heboh seperti biasanya.



"ck..apaan sih nyenggol-nyenggol" gerutu Lucas kemudian mendahului Bryan untuk masuk keruangan Regan.



"kenapa sih tuh anak" gumam Bryan mengikuti langkah Lucas.



Masih di rumah sakit yang sama, Dian adiknya Dita baru saja tiba di ruangan sang ibu dan langsung di berondong pertanyaan oleh sang kakak.


"dari mana saja kamu? bukannya jagain ibu malah keluyuran" omel Dita.


"maaf kak, Dian habis dari rumah buat mengambil baju ganti ibu karena tadi tidak sempat" jawab Dian sambil menunduk.


Dita menghela nafas melihat wajah ketakutan adiknya itu "kakak minta maaf, kakak tidak bermaksud memarahi kamu, cuma kakak khawatir sama kamu" ucap Dita merasa bersalah.


"sudah tidak usah dibahas, ini sudah malam sebaiknya kamu istirahat"


"iya kak" jawab Dian sopan.


Karena tidak bisa tidur, Dita memutuskan untuk keluar sebentar mencari angin segar.


Entah kenapa tiba-tiba Dita kepikiran oleh Ziana yang tadi dia tinggalkan di coffe Shop. Perempuan itu mencoba menghubungi sang sahabat namun tidak terhubung.


"duh nomornya gak aktif lagi, apa gue cek aja ke coffe shop tadi ya" Dita bermonolog sendiri.


Disisi lain Lucas yang juga tidak bisa tidur seperti Dita pun terlihat keluar mencari angin segar.


Namun lelaki itu tidak sengaja melihat sekertaris Dita yang sedang duduk seorang diri di kursi taman. Perempuan itu terlihat gelisah membuat Lucas penasaran dan mendekat ke arah perempuan itu.


"hai..disini juga" sapa Lucas basa-basi.


Sekertaris Dita mendongak, perempuan itu terlihat berusaha mengingat Lucas "lo.."


"Lucas, temannya Arash" sela Lucas memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Dita mengangguk setelah mengigat lelaki tersebut.


"boleh gue bergabung?" izin Lucas dan diangguki oleh Dita.


"silahkan.." ucap Dita sembari menggeser posisinya supaya Lucas bisa bergabung.


"terimakasih" Dita kembali mengangguk. Lalu hening, karena keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"oh iya, ngomong-ngomong lo disini ngapain?" ujar Lucas memulai obrolan.


"ibu gue dirawat disini, lo sendiri?" tanya Dita balik.


"teman gue juga dirawat disini" jawab Lucas, Dita hanya ber oh ria saja.


"tapi kenapa lo disini malem-malem gini?" kembali Lucas bertanya, sengaja lelaki itu mencari bahan obrolan karena merasa tidak enak jika hanya berdiam.


"sebenarnya gue kepikiran sama Ziana"


"Ziana? teman kamu yang dekat dengan anaknya Arash bukan? tanya Lucas beruntun.


Dita mengangguk mengiyakan.


"emang dia kenapa?" tanya lelaki itu basa-basi.


"tadi gue ninggalin dia di coffe shop setelah mendapat kabar kalau ibu masuk rumah sakit"


"owhh.. tadi gue lihat Ziana udah sama Arash kok" kata Lucas menenangkan Dita.


"serius? lo liat dimana?" tanya Dita antusias.


"tadi, waktu mau kesini" jawaban itu membuat Dita merasa lega. "syukurlah, tadi gue benar-benar khawatir banget sama tuh anak" ujar Dita menghela nafas lega.


Sementara Lucas hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan perempuan didepannya.


"oh iya lo sendiri ngapain disini malem-malem" tanya Dita setelah beberapa saat.


"gapapa, gue hanya gak bisa tidur kalau dirumah sakit" alibi Lucas, padahal lelaki itu lagi galau.


Namun tanpa mereka sadari bahwa ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka dengan perasaan campur aduk


'sekali buaya tetap buaya' batin orang tersebut sebelum meninggalkan tempatnya berdiri.


****


Happy Reading 💞💞 💞