
Tok tok tok
terdengar suara ketukan pintu yang sangat kencang, membuat Zara yang sedang memasak itu pun lupa tidak mematikan kompornya, karena sudah berlari kedepan untuk melihat sang tamu yang terdengar tidak sabaran itu.
"iya iya sebentar.. duh siapa sih bertamu di jam segini" teriaknya sambil mendumel sendiri.
Cklek
wanita itu membuka pintu rumahnya dengan perasaan kesal karena orang itu tidak berhenti menggedor pintunya.
"surprise.." teriak seseorang ketika pintu itu telah terbuka lebar sambil merentangkan kedua tangannya.
"kamu.." ucap Zara tidak percaya, namun sedetik kemudian dia langsung berhambur kedalam pelukan laki-laki itu.
"kamu kapan datang? kenapa tidak ngabarin dulu kalau mau kesini?" tanya Zara secara beruntun tanpa melepaskan pelukannya.
"apakah kamu begitu merindukanku?" ledek laki-laki itu yang tidak lain adalah Luis, membuat Zara langsung mengangguk dalam pelukan Luis.
Luis mengusap-usap punggung dan kepala Zara dengan sayang.
Setelah berpelukan cukup lama, Zara melerai pelukannya karena mencium aroma gosong dari arah dalam rumahnya.
"kenapa?" tanya Luis heran melihat perubahan ekspresi wajah Zara.
"kamu nyium bau gosong juga gak?" tanyanya.
Luis terlihat mulai mengendus-endus "iya, kayaknya baunya dari dalam rumah kamu" tebak Luis.
"ya ampun, masakan ku" teriak Zara panik ketika mengingat masakannya yang dia tinggal beberapa menit yang lalu, dia berlari masuk, Luis yang penasaran pun mengikuti Zara masuk kedalam rumahnya.
Ketika sampai di dapur buru-buru Zara mematikan kompornya, namun apa daya masakan itu sudah berubah warna "makan malam ku.." Zara memandangi wajannya yang sudah gosong beserta dengan isinya.
Sementara Luis tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat masakan Zara yang sudah berwarna coklat kehitaman itu.
"berhenti menertawai ku" dengus Zara.
namun bukannya berhenti Luis semakin mengeraskan suara tawanya, bahkan laki-laki itu sampai memegangi perutnya yang kram karena kebanyakan tertawa.
Zara menatap Luis dengan tatapan kesal "semua ini gara-gara kamu" makinya seraya menunjuk Luis lalu pergi meninggalkan pria itu sambil menghentakkan kakinya dengan keras, saking kesalnya.
Luis menggeleng melihat kelakuan Zara yang tidak ingat umur itu, seraya mengusap sudut matanya yang berair akibat terlalu banyak tertawa, ia kemudian mengejar Zara untuk membujuk perempuan itu.
Sementara itu dirumah sakit, Ziana terlihat sedang menyuapi Attar makan malam dengan telaten.
Namun baru 2 suapan saja Attar sudah menggelengkan kepalanya. "satu sendok lagi sayang setelah itu minum obat" bujuk Ziana.
Attar mau tidak mau membuka mulutnya karena tidak membuat Ziana sedih, jika dia terus menolak.
"sudah aunty, aku udah kenyang" pinta Attar dengan ekspresi memohon.
"yaudah minum dulu" kata Ziana menyodorkan segelas air putih kepada Attar yang langsung disambut oleh Attar.
Ziana tidak ingin memaksa Attar untuk menghabiskan buburnya, sebab dirinya pun sama jika sedang sakit. Bukan karena terlalu memanjakan, tetapi ia tahu bahwa ketika sakit semua makanan akan terasa pahit.
"oke sekarang minum obat dulu ya? biar cepat sembuh" ujar Ziana yang langsung diangguki oleh Attar.
Selesai memberikan obat, Ziana kembali mambantu Attar untuk berbaring lalu menyelimutinya hingga sebatas dada.
Tidak lama setelah itu Attar pun tertidur.
Ziana mengecup kening Attar sebelum beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri Arash yang sedang duduk di sofa seraya memainkan laptopnya.
"mau pulang sekarang?" Tanya Arash tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Hem.." dehem Ziana lalu ikut duduk disebelah Arash "lagi sibuk ya?" tanyanya sambil menyenderkan punggungnya ke senderan sofa.
"enggak, sedikit lagi selesai" jawab Arash.
Ziana hanya mengangguk, sambil memainkan ponselnya.
Setelah menunggu Arash hampir 30 menit, Ziana menoleh kearah laptop milik Arash "sibuk banget ya?" tanyanya lagi.
"kenapa? bosen ya?" Arash balik bertanya.
Arash menoleh "jangan biar aku antar aja, ini dikit lagi selesai, sabar ya sayang" kata Arash mengusap pucuk kepala Ziana.
"gapapa aku pulang sendiri, lagian kalau kamu anterin aku siapa yang akan jagain Attar?"
"ada penjaga yang akan jagain dia" sahut Arash kembali melanjutkan pekerjaannya.
"baiklah terserah kamu saja" pasrah Ziana yang kembali menyenderkan punggungnya ke senderan sofa.
Sedangkan Arash hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
sekitar 20 menit kemudian akhirnya pekerjaan Arash sudah selesai, ia lalu meregangkan ototnya yang terasa sedikit kaku.
Sambil merapikan semuanya Arash bertanya kepada Ziana "kamu mau langsung pulang atau mau makan dulu?" tanyanya namun tidak ada jawaban.
Laki-laki itu pun menoleh dan mendapati Ziana telah tertidur, membuat Arash tersenyum tipis.
"maaf ya udah buat kamu nunggu" ucapnya sambil mengusap pipi Ziana.
Sebenarnya Arash tidak tega untuk mengganggu tidur perempuan itu, namun mengingat jika Ziana belum makan malam membuat Arash mau tidak mau harus membangunnya.
"sayang.. hei, bangun yuk"
"eeennghh.." Ziana melenguh "kamu udah selesai?" tanyanya seraya menutup mulutnya karena menguap.
Arash tersenyum manis disertai anggukan sebagai jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkan Ziana.
"yaudah ayo, aku ngantuk banget" ajak Ziana yang sudah berdiri meraih tasnya, namun entah karena baru bangun hingga perempuan itu hilang keseimbangan.
Beruntung Arash dengan sigap menangkap tubuhnya. "hati-hati sayang" peringat Arash membantu Ziana untuk berdiri dengan benar.
"maaf" cicit Ziana gugup, karena jarak mereka yang terlalu dekat.
Sebenarnya bukan hanya Ziana yang gugup namun Arash pun sama, sebab mereka jarang melakukan kontak fisik, beruntung Arash bisa mengendalikan diri untuk tidak menerkam Ziana.
"ayo" ajak Arash yang sudah berjalan lebih dahulu.
Ziana membuang napas lega, lalu mengejar Arash yang sudah diambang pintu.
Ternyata benar, Jhon sekertaris Arash yang kini merangkap jadi asisten sudah standby diluar untuk mengganti menjaga Attar selama Arash mengantar Ziana pulang.
"kalau ada apa-apa segera hubungi saya, mengerti." pesan Arash kepada sekertaris Jhon sebelum pergi.
"baik tuan, saya mengerti" ucap pria berkepala plontos itu mengangguk patuh.
"bagus, saya pergi dulu"
"hati-hati tuan"
Arash hanya mengangguk lalu berlalu seraya menggenggam tangan Ziana erat.
Bersambung~~
Happy Reading 💞💞 💞