
Sekembalinya dari rumah sakit Ziana memutuskan untuk ke kantor, namun kebetulan perempuan itu melewati sekolah tempat Attar menimba ilmu.
Ziana tidak sengaja melihat bocah laki-laki itu sedang berdiri diluar pagar sambil menunduk, seperti sedang menangis dan disampingnya ada beberapa ibu-ibu yang memegangi anak-anak mereka.
Ziana menghentikan mobilnya dan turun untuk menghampiri bocah laki-laki menggemaskan itu.
"ada apa ini?" tanya Ziana to the point.
Attar yang sedang menunduk pun langsung mendongak saat mendengar suara yang begitu dikenalnya.
"aunty Zi.." ucap Attar berlari menghampiri Ziana sambil kedua tangannya menghapus air matanya.
Ziana berjongkok menyambut bocah laki-laki tersebut dengan merentangkan kedua tangannya. Namun baru beberapa langkah Attar berlari tasnya sudah ditarik oleh salah satu ibu-ibu itu.
Melihat Attar di perlakukan seperti itu membuat Ziana menjadi geram. Perempuan itu berdiri dan menepis tangan ibu itu yang sudah lancang memperlakukan Attar seperti itu.
"jangan menyentuhnya dengan tangan kotor anda" desis Ziana dihadapan ibu itu.
Attar langsung menubruk tubuh Ziana setelah terlepas dari ibu-ibu itu. Lalu Ziana berjongkok sambil mengusap pipi bocah laki-laki itu yang sudah basah oleh air mata.
"anda ini siapa? sebaiknya jangan campuri urusan saya dengan anak nakal itu" ucap Ibu-ibu tersebut dengan emosi sembari menunjuk Attar.
Ziana berdiri sambil menyeringai mendengar ucapan ibu tersebut "apa yang menjadi urusan anak ini akan menjadi urusan saya juga" ujar Ziana datar.
"ada apa ini?" kata kepala sekolah yang tiba-tiba datang karena baru mendapat laporan.
"pak Burhan..lihat lutut anak saya berdarah karena didorong oleh anak nakal itu" adu ibu tersebut menggebu-gebu
"tenang Bu..mari kita bicarakan didalam saja" ujar kepala sekolah tersebut.
Sementara itu, Arash yang sedang berada di kantor mendapat laporan dari anak buahnya tentang Attar yang mendapat masalah di sekolahnya.
Anak buahnya juga melaporkan bahwa ada seorang perempuan yang tiba-tiba datang dan terlihat memeluk Attar saat anak itu menangis karena di ejek oleh seorang ibu-ibu.
"Siapa perempuan itu?" tanya Arash melalui sambungan telepon.
"*namanya Ziana* *tuan*, *apakah dia termasuk musuh anda*?"
"Biarkan saja, jangan berani menyentuhnya seujung jari pun, mengerti?" peringat Arash dengan nada tegas.
"Terus awasi mereka, saya akan segera kesana"
"baik tuan"
*Tut*..
Setelah sambungan terputus, Arash lalu meraih kunci mobilnya untuk menyusul Attar dan Ziana.
Sementara itu asisten Dita dibuat kelimpungan sendiri karena Ziana tidak masuk tanpa pemberitahuan sebelumnya, bahkan nomor bosnya itu pun tidak bisa dihubungi.
Selesai menghadiri rapat menggantikan Ziana, asisten Dita lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Ziana lagi.
Belum sempat menekan tombol telepon bosnya itu sudah lebih dahulu menghubunginya.
"Hal---"
Belum sempat asisten Dita berucap sudah lebih dahulu di potong oleh Ziana. "lo dimana sekarang? cepat kesini gue butuh bantuan"
"tapi---"
"nanti gue shareloc alamatnya" lagi-lagi Ziana menyela ucapan sekertarisnya itu membuat Dita merasa dongkol.
Tut
Belum sempat mengucapkan iya atau tidak Ziana lagi-lagi membuat sekertarisnya itu merasa dongkol karena memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
'sabar Dita sabar, dia itu bos lu' batin perempuan itu sambil mengelus dadanya.
"huufftt untung gaji gue tinggi, kalo enggak udah resign gue" gumam sekertaris Dita yang masih merasa kesal dengan Ziana yang seenaknya memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
****
Happy Reading 💞💞 💞