About Ziana

About Ziana
Chapter 145



"begitulah ceritanya" ucap Bryan setelah menyelesaikan ceritanya.


Arash terlihat mengangguk-angguk usai mendengar cerita Bryan secara keseluruhan.


"berarti kalian gak ada hubungan dong?" tanya Arash yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Bryan.


"tapi kenapa lo mengakui dia sebagai pacar lo?" tanya Arash lagi.


"gue gak pernah bilang kalau dia pacar gue" jawab Bryan cuek "lalu?" kembali Arash bertanya karena terlanjur penasaran.


"semua ini karena ulah mami" jawab Bryan sambil menghembuskan kepulan asap rokoknya ke udara.


Sebagai seorang sahabat Arash ikut prihatin dengan permasalahan sahabatnya, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu.


"padahal tadinya gue fikir lo bakal datang sama Jessica" celetuk Arash tiba-tiba setelah kembali menatap lurus kedepan, membuat Bryan mengernyit heran "maksud lo? Jessica yang mana" tanyanya bingung.


"ya Jessica orang kepercayaan bini gue, emang Jessica yang mana lagi" seru Arash gemas karena sahabatnya yang seperti pura-pura tidak tahu.


"tunggu..tunggu..tunggu.. lo kenapa tiba-tiba bawa-bawa Jessica disini" heran Bryan.


"lo fikir gue buta apa? gue tuh tau kalo selama ini lo sering merhatiin Jessica, ngaku nggak lo" tuding Arash menunjuk sang sahabat.


"bentar deh, kayaknya lo salah paham"


"salah paham gimana?" bingung Arash


"ok gue ngaku, emang benar gue sering merhatiin dia, tapi bukan karena gue suka sama dia..."


"lalu." sela Arash menjeda ucapan Bryan.


Bryan pun menceritakan tentang teman masa kecilnya yang bernama Galen. Galen ini mempunyai seorang adik yang sangat mirip dengannya, dia bernama Gisel. Mereka dulunya adalah tetangga Bryan, itulah sebabnya mereka bisa bersahabat, namun karena orang tua Galen dan Gisel yang harus di pindah tugaskan keluar kota, akhirnya mereka berpisah dan rumah orang tua Galen dan Gisel itu pun dijual.


Semenjak kepergian Galen dan keluarganya, Bryan tidak pernah lagi bertemu dengan mereka. Singkat cerita, setelah dewasa Bryan berusaha mencari keberadaan teman masa kecilnya itu. Bryan bahkan mendatangi kota yang dulu menjadi tempat papanya Galen ditugaskan namun hasilnya nihil, dia tidak menemukan jejak apapun.


Namun entah kenapa setelah melihat Jessica, Bryan merasa melihat sosok Galen dalam diri perempuan itu, karena dulunya kedua kakak beradik itu memang sangat mirip.


"jadi maksud lo, si Jessica ini mirip sama adiknya teman masa kecil lo?" seru Arash yang diangguki oleh Bryan.


"iya.. dari mata, bibir dan hidung semua sama, dari cara dia tertawa, dan cara dia berbicara semuanya mengingatkan gue sama Galen, entah dimana mereka sekarang" ucap Bryan dengan nada sendu.


Arash menepuk pundak sahabatnya "dimana pun mereka berada, mereka pasti baik-baik saja" ucapnya menghibur.


"gue juga berharap seperti itu" sahut Bryan



Sementara itu terlihat seorang perempuan yang sedang berjalan mengendap-endap memasuki sebuah kamar. Dia adalah Ziana.



Sebenarnya sejak tadi ia tidak tidur, beberapa saat setelah Arash keluar kamar, ia pun bangkit dari ranjang dan mengikuti langkah Arash, setelah melihat suaminya itu sudah duduk di bangku taman bersama seseorang yang diyakininya adalah Bryan, Ziana segera meraih ponselnya dan menelpon seseorang untuk mengajaknya bertemu di area hotel.



Tidak sampai 10 menit, orang yang ditunggunya pun tiba, dan dia adalah Lyan sang asisten pribadi.



"selamat malam bu" sapa pria itu formal.



"malam.." jawab Ziana sambil sesekali memperhatikan kearah taman, dimana Arash dan Bryan berada.



"ada kabar apa?" tanya Ziana to the point setelah Lyan duduk dihadapannya.




Ziana hanya mengangguk "lanjutkan"



"saat ini mereka ada di suatu tempat yang hanya saya dan teman saya yang tahu" lanjutnya. "ada lagi?" tanya Ziana.



"kami juga sudah menginterogasi mereka" beritahu Lyan lagi, sementara Ziana terlihat mendengarkan dengan tenang sambil sesekali memperhatikan kearah sang suami.



"apa anda mengenal seseorang yang bernama Melissa?" tanya Lyan.



Ziana tersentak mendengar nama itu disebutkan "ada apa dengan dia?" tanyanya bingung



"menurut ketiga tersangka, orang itu adalah dalang dari kecelakaan tersebut, dan mereka dibayar mahal untuk melenyapkan anda, namun nyonya Zara menggagalkan rencana mereka" jelas Lyan.



Ziana terlihat mengepalkan tangannya, perempuan itu tidak menyangka bahwa seseorang yang selama ini ia hormati dan dia anggap sebagai neneknya sendiri ternyata setega itu merencanakan pembunuhan terhadap dirinya.



Meskipun sejak pertama kali bertemu dengannya Ziana sudah tahu bahwa wanita itu tidak menyukainya. Namun karena Ziana menghormati kakek Abian yang sudah menganggapnya sebagai cucu, Ziana mencoba untuk bersikap sopan dan menghormati Melissa serta menganggap wanita itu seperti neneknya sendiri sebagaimana ia menganggap kakek Abian seperti kakeknya sendiri.



Setelah menyampaikan semua informasi yang didapatnya, Lyan pun segera pamit untuk menyelesaikan tugasnya. Setelah kepergian Lyan, Ziana pun kembali ke kamarnya secara mengendap-endap.



Tidak berselang lama, Arash pun juga kembali ke kamar yang ditempatinya bersama Ziana. Terlihat Arash berjalan ke arah ranjang, laki-laki itu merapikan selimut yang digunakan oleh Ziana dan kedua bocah yang bersamanya karena sudah berantakan.



Arash mengamati wajah istrinya yang terlelap selama beberapa saat, terlihat laki-laki itu tersenyum. Di kecup nya kening Ziana dengan sayang, setelah itu berpindah kepada Attar, kemudian kepada Zoey, adik kecil Ziana yang kini sudah menjadi adik kecilnya juga.



Setelah merasa puas, Arash kemudian berjalan ke arah sofa yang tadi ditempatinya. Arash membaringkan tubuhnya yang lelah diatas sofa tersebut. Tidak butuh waktu lama, kantuk pun datang, Arash tertidur sambil telentang di atas sofa.



Sementara itu dikediaman kakek Abian, tepatnya di ruang tamu terlihat Melissa nampak gelisah.


Terlihat wanita tua itu beberapa kali mengecek ponselnya seperti menunggu kabar dari seseorang, sambil berjalan mondar-mandir.


Kakek Abian yang tidak sengaja melihat kelakuannya itu mulai menaruh curiga, sebab sudah beberapa hari ini sikap Melissa terlihat aneh.


Wanita itu selalu terlihat cemas, dan juga tangannya tidak lepas memegang ponsel seperti menunggu kabar dari seseorang.


Abian yang tadinya ingin turun ke dapur urung, setelah melihat Melissa yang gelisah di ruang tamu, Abian kembali ke kamarnya secara pelan-pelan. Sesampainya didalam kamar, Abian meraih ponselnya untuk menghubungi Robin dan meminta asistennya untuk mengawasi setiap gerak-gerik Melissa mulai besok.


Setelah sambungan terputus, Abian buru-buru naik ke atas ranjang dan pura-pura tidur, karena ia mendengar langkah kaki Melissa.


...****************...