About Ziana

About Ziana
Chapter 173



Cklek


tap tap tap


Attar menghentikan tangisnya dan mendongak saat mendengar pintu terbuka disusul oleh suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah.


"Mommy.." ucap Attar lirih.


Wanita yang di panggil mommy itu duduk di pinggiran tempat tidur yang di tempati Attar dan tersenyum senang "selamat pagi anak gantengnya mommy, ke marilah sayang.." sambil merentangkan kedua tangannya wanita itu meminta Attar mendekat dan segera memeluknya.


Attar nampak ragu, namun melihat senyum dari wanita yang merupakan mommy kandungnya, bocah laki-laki itu pun akhirnya luluh dan memeluk Tamara erat.


Jujur saja Attar merindukan pelukan dari ibu kandungnya. Meski telah mendapatkan semuanya dari Ziana, namun rasanya tidak cukup.


"ini dimana mom? kok mommy juga ada disini?" tanya Attar seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan bingung. Dan berakhir menatap mata Tamara, dengan rasa ingin tahunya yang tinggi.


Bagaimana tidak bingung, pasalnya semalam saat kericuhan terjadi dirinya sudah tidur, meski sempat terbangun saat dalam perjalanan, namun dia kembali tak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius, hingga dia tidak ingat apa-apa lagi, dan bangun-bangun dia sudah berada di tempat asing.


"ini di rumah mommy sayang, semalam Daddy Arash yang bawa kamu kesini" ujarnya berbohong


Attar yang mengetahui bagaimana bencinya sang Daddy kepada mommy Tamara tak lantas percaya begitu saja "benarkah?"


Melihat respon Attar yang seolah tak percaya membuat Tamara gelagapan "I..iya sayang, Daddy Arash nitipin kamu untuk sementara waktu disini, karena ada urusan penting di luar kota sama istrinya.. eh..maksudnya sama..."


"Momzi mommy, Attar memanggilnya Momzi, keren kan?" ucap bocah itu terlihat berbinar ketika membahas tentang Ziana.


"ii..iya keren kok" Tamara tersenyum kecut, tidak suka membahas wanita yang telah menggantikan posisinya.


"nah sekarang Attar mandi dulu yuk, habis itu kita sarapan bersama" sengaja mengalihkan pembicaraan agar supaya Attar tidak membahas tentang wanita yang bernama Ziana Ziana itu lagi.


"oke mom" beranjak dari tempat tidur dan berlalu menuju kamar mandi.


_


_


_


Selesai mandi dan berganti pakaian baru yang sudah di siapkan sang mommy, Attar segera keluar dari kamar mencari keberadaan mommy Tamara.


"mommy.." Attar berlari kencang ketika melihat keberadaan sang mommy yang sedang duduk sambil membaca majalah di ruang tamu.


"Attar hati-hati, kamu bisa jatuh.." Tamara memperingati, namun Attar tidak memperdulikan ucapannya dan tetap berlari hingga ia hilang keseimbangan dan tidak sengaja menyenggol salah satu meja kecil


Pyaaarrr


Sebuah guci mahal yang dibelinya bersama sang suami bulan lalu terjatuh dan pecah hingga pecahannya berserakan dilantai.


"ATTAR sudah mommy bilang kan, jangan lari lari, Lihat sekarang guci kesayangan mommy jadi pecah gara-gara kamu!!" Tamara berdiri dan langsung mengomel dengan tangannya yang menunjuk-nunjuk Attar karena telah memecahkan guci mahalnya.


Para pekerja tidak ada yang berani mendekat jika majikannya sudah mulai mengomel, bahkan Attar yang sebelumnya tidak pernah dimarahi nampak berkaca-kaca.


"Bi..bibi..." teriakan Tamara menggema di seluruh rumah, dan tidak lama terlihat beberapa art berlari menghampirinya.


"cepetan, lama banget sih kalian" wanita itu kembali memaki art nya karena jalan terlalu lama, "cepat bereskan semua pecahan itu" titahnya yang langsung membuat para pekerja bergegas melakukannya sebelum mereka mendapat hukuman.


"baik, nyonya"


"Attar sini ikut mommy, kamu harus mendapat hukuman karena sudah nakal" Tamara menarik paksa lengan Attar


"Ampun mom, Attar tidak nakal, Attar tidak sengaja menjatuhkannya.. hiks..hiks" Attar menangis dan meminta maaf namun Tamara sama sekali tidak menghiraukan tangisannya.


"mom.. jangan, Attar tidak nakal"


bruukkk


Tamara mendorong tubuh Attar kedalam kamar mandi, hingga bocah laki-laki itu terjatuh "kamu tidak boleh keluar dari sini sebelum mommy suruh, mengerti!!"


Hiks..hiks.. Daddy, Momzi.. jemput Attar, Attar takut disini..


___________________________


Setelah semalaman berjuang melewati masa kritisnya, akhirnya, pagi ini Aruna sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Tidak henti-hentinya papa Arnan mengucap syukur atas kesembuhan sang putri tercinta, juga untuk sang istri yang keadaannya sudah kembali normal setelah mendapat kabar tentang kondisi Aruna yang sudah melewati masa kritisnya.


Cklek


Papa Arnan yang dengan setia duduk di samping ranjang Aruna menoleh begitu pintu dibuka dari luar "bagaimana keadaan Aruna, Pa?" Arash langsung masuk diikuti oleh Ziana kemudian.


"darimana saja kalian?" tanya sang papa menatap anak dan menantunya secara bergantian.


"Kami───


"Ya Tuhan Arash, apa yang terjadi dengan wajahmu? habis berantem sama siapa kamu sampai babak belur seperti ini?" sela mama Arianna kaget ketika melihat penampakan wajah dari putra sulungnya.


"panjang ceritanya Ma"


"tenang saja, mama masih punya banyak waktu kok, buat dengerin cerita panjang kalian" ucapnya menepuk-nepuk sofa sebelahnya, lalu menatap Arash dan Ziana secara bergantian. Meski terdengar santai namun mengandung sebuah paksaan didalamnya, sebuah cara ampuh untuk membuat seseorang mau bercerita.


Ziana mendudukkan dirinya di sofa tersebut dan mengambil alih untuk bercerita, karena memang ini semua adalah urusannya, Arash hanya menjalankan perannya sebagai seorang suami untuk melindungi istrinya dari bahaya.


-


-


-


"lain kali kalau ada masalah seperti ini lagi, kalian langsung lapor ke pihak yang berwajib saja, bahaya tahu" tutur Mama Arianna setelah Ziana selesai menceritakan tentang kejadian semalam.


Arash dan Ziana saling lirik kemudian keduanya mengangguk kompak "iya, Ma, kita minta maaf" Mama Arianna memiliki pikiran yang terlalu polos, hingga menganggap bahwa semua masalah akan langsung selesai jika sudah ditangani oleh pihak yang berwajib.


Ponsel Ziana yang berada di saku celana jeans yang ia kenakan berdering, wanita itu lalu meminta izin untuk mengangkatnya di luar ruangan.


Sebuah panggilan dari Bryan


"Halo..apa sudah ada perkembangan?" sudah menjadi kebiasaan Ziana yang tidak suka berbasa-basi di awal panggilan.


("kami sedang bergerak menuju lokasi, barusan Lucas sudah mengirim lokasi yang kemungkinan besar menjadi tempat Attar di bawa") pada akhirnya Bryan terpaksa harus melibatkan Lucas yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam hal melacak keberadaan seseorang.


"kirim alamatnya, saya dan suami saya akan segera menyusul, terimakasih"


Tut..


Setelah berucap demikian Ziana mematikan panggilan secara sepihak, kemudian mengirim pesan kepada suaminya yang masih berada dalam ruangan Aruna.


-


-


-


"bagaimana?"


"Ziana dan Arash akan menyusul katanya" jawab Bryan apa adanya sesuai yang Ziana ucapkan melalui sambungan telepon.


"are you sure?" Robin nampak tidak percaya dengan ucapan Bryan karena setahunya Ziana tidak ingin lagi berurusan dengan dunia mafia semenjak kejadian yang membuat Agler dinyatakan meninggal waktu itu, dan kakek Abian koma.


"hmm" Bryan mengangguk sebagai jawaban dengan satu tangannya yang terlihat sibuk dengan ponsel.


Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara hingga mereka tiba ditempat tujuan karena keduanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


******