
"thanks ya udah bantuin gue, gue janji akan melunasi semuanya tapi tunggu setelah gue dapat kerjaan" ucap perempuan itu setelah pria penagih hutang itu pergi.
Bryan hanya berdehem pelan menanggapi perempuan itu yang terus mengoceh sedari tadi.
Saat ini mereka sedang duduk di warung tenda dan menikmati bubur ayam yang masih mengepulkan asap.
"oh iya kenalin nama gue Naysilla biasa dipanggil Nay tapi Silla juga boleh, nama lo siapa?" celoteh perempuan itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Bryan" ucap Bryan singkat tanpa membalas uluran tangan Naysilla.
Perempuan itu terus mengoceh banyak hal tentang ini dan itu sedangkan Bryan hanya menanggapinya dengan datar.
Setelah selesai menyantap buburnya Bryan pamit lebih dulu karena ada janji dengan Lucas.
"Bryan tunggu" teriak Naysilla menghentikan langkah Bryan yang sudah beberapa langkah berada di depannya.
Bryan menoleh tanpa mengucapkan apapun hanya sebelah alisnya yang terangkat menandakan bahwa ia sedang bertanya ada apa.
"gue boleh minta nomor telepon lo gak? biar kalau uangnya sudah ada gue bisa langsung hubungin elo" pinta Naysilla sambil menyodorkan ponselnya kehadapan Bryan.
Bryan meraih ponsel yang disodorkan Naysilla kemudian mengetikkan nomor ponselnya disana.
"makasih ya" ucap Naysilla tulus setelah menerima kembali ponselnya, sementara Bryan hanya mengangguk pelan setelah itu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Selesai bertemu dengan WO Arash dan Ziana kini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Setelah tadi Arash menceritakan tentang Attar, Ziana langsung ingin menjenguk bocah laki-laki itu.
Sesampainya dirumah sakit mereka langsung menuju ruangan Attar.
*Cklek*
Ziana membuka pintu dan matanya langsung mencari keberadaan Attar yang sedang tertidur di atas brankar.
Dihampirinya bocah laki-laki itu yang masih memejamkan matanya erat, Ziana duduk di kursi yang berada tepat di samping brankar.
Diusapnya surai yang agak kecoklatan milik Attar, yang didapatnya dari hasil turunan kakek Arnan dan Daddy Arash tentunya.
Kelopak mata yang sedari tadi tertutup itu kini perlahan mulai terbuka, merasakan usapan lembut di kepalanya.
"anty Zi.." panggil Attar lirih setelah matanya telah terbuka seutuhnya.
"iya sayang ini aunty, maaf ya kamu jadi kebangun gara-gara aunty" ucap Ziana sambil membantu Attar yang terlihat kesusahan untuk bangun.
"apa aku boleh memelukmu.." pinta Attar dengan suara serak, perpaduan dari hasil flu dan baru bangun tidur.
Mendengar permintaan sederhananya membuat Ziana langsung merentangkan kedua tangannya, dan tanpa aba-aba Attar langsung masuk kedalam dekapan hangat Ziana.
Attar menyandarkan kepalanya di dada Ziana sementara Ziana dengan lembutnya ia mengusap-usap punggung Attar.
Tadi saat masih berada didalam mobil, Arash sudah menceritakan semuanya kepada Ziana mengenai ibu kandung Attar yang kembali lagi setelah bertahun-tahun pergi.
Arash juga menceritakan tentang ibu Attar yang nekad menemui Attar di sekolahnya, bahkan Arash menceritakan semuanya tentang kejadian malam itu dikamar Attar tanpa ada yang ia tambah ataupun dikurangi.
Awalnya Ziana kesal kepada Arash saat mengetahui bahwa dia dan keluarganya selama ini membohongi Attar tentang kematian ibu kandungnya.
Namun hanya sesaat, setelah Arash menyelesaikan penjelasannya Ziana pun membenarkan keputusan mereka.
Saat mereka tengah berpelukan tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan muncullah sepasang wanita dan pria paruh baya yang masuk sambil bergandengan tangan layaknya pasangan muda-mudi diikuti oleh anak gadisnya.
"eehh.. ada calon mantu" celetuk mama Arianna yang langsung melepas gandengan tangannya.
Ziana melerai pelukannya dengan Attar kemudian menghampiri kedua orang tua Arash untuk menyalami mereka.
"calon istri siapa dulu dong" celetuk Arash yang sudah duduk bersama papa setelah sebelumnya ikut menyalami kedua orangtuanya.
Mama Arianna langsung memutar bola matanya mendengar kepedean putra sulungnya itu.
Aruna menghampiri Ziana lalu memeluk calon kakak iparnya yang sudah beberapa hari ini tidak sempat bertemu "kakak apa kabar?" tanya Aruna tanpa melepas pelukannya.
"baik" jawab Ziana singkat setelah pelukan mereka terlepas.
Setelah itu Aruna ikut duduk disebelah Arash dan langsung menyandarkan kepalanya pada bahu kekar sang kakak.
"kenapa sih? dari sejak masuk udah ditekuk gitu mukanya" tanya Arash sambil menggerakkan bahunya naik turun membuat Aruna kesal karena kepalanya ikut bergerak gerak, hingga tanpa aba-aba langsung saja dia menggigit bahu Arash.
"aawww.. sakit" teriak Arash kaget.
"sukur siapa suruh ngeselin" celetuk Aruna bangkit dari duduknya sebelum kakaknya itu menangkapnya.
"kak Ziana tolong.." teriak Aruna mengadu kepada Ziana karena Arash mengejarnya.
Aruna kembali memeluk Ziana yang sedang duduk di pinggiran brankar sambil menyuapi Attar buah yang tadi dibawanya.
Arash menghentikan niatnya karena melihat mata Ziana yang memelototinya, ditambah dengan ucapan mama "aduh kalian itu kalau ketemu ribut mulu bikin Mama pusing"
Melihat Arash menghentikan langkahnya, membuat Aruna merasa menang dan menjulurkan lidahnya kearah Arash.
"Aruna.." tegur papa yang langsung membuat gadis itu menutup mulutnya rapat.
Arash tertawa mengejek namun papa langsung menegurnya "kamu juga Rash, sudah tua tapi kelakuannya masih kayak anak kecil, malu sama Attar yang masih kecil tapi sudah berpikiran dewasa" skak mat Arnan.
"sudah sudah kalian ini sama saja" lerai mama karena merasa jengah dengan kelakuan suami dan kedua anaknya.
Nah jika ibu negara yang angkat suara, maka tidak ada yang berani berkutik lagi, bahkan papa Arnan pun langsung diam, karena takut tidak dapat jatah malam.
Berada ditengah-tengah keluarga Wijaya yang harmonis seperti ini membuat perasaan iri sedikit timbul dihatinya. Namun hanya sesaat karena Ziana menepis semua pikiran itu.
Tanpa sadar Ziana menggelengkan kepalanya. "aunty kenapa?" tegur Attar melihat kelakuan aneh Ziana, membuat semua orang menatap kearahnya dengan pandangan bertanya.
"eehh.. aunty gapapa kok" elak Ziana. "masih mau buah?" tanyanya kemudian untuk mengalihkan perhatian bocah laki-laki itu.
Menggeleng "kenyang aunty, Attar mau bobo aja" katanya. "yaudah bobo lagi deh" balas Ziana seraya membantu Attar untuk kembali berbaring.
Ziana menyelimuti tubuh Attar hingga sebatas dada, lalu mengecup kepalanya "tidurlah sayang" ucap Ziana lembut.
Attar mengangguk "makasih aunty" jawabnya lalu kemudian menutup matanya.
Tanpa sadar interaksi keduanya membuat semua orang yang berada di ruangan itu menatap mereka seraya tersenyum haru.
Bersambung~~~
Happy Reading 💞💞 💞