
Kehamilan bukan suatu hal yang bisa dijadikan sebagai alasan untuk bermalas-malasan di rumah.
Meski kandungan Ziana sudah memasuki minggu ke-34 namun wanita itu masih aktif bergerak. Ziana juga masih datang ke kantor meski tidak setiap hari.
Arash membebaskan istrinya untuk tetap berkegiatan di luar agar Ziana tidak stres jika terus berada di rumah seharian. Tapi dengan catatan tidak boleh terlalu lelah atau terlalu banyak berfikir.
"tuh perut emang gak berat kak? gue aja sampe engap liatnya" ucap Dita disela-sela makan siang mereka di kantin.
"kalo dibilang berat, ya berat sih. tapi dinikmatin aja" sahut Ziana tersenyum sembari menyeruput kuah sotonya.
"lu harusnya diam aja sih, kak di rumah. Ngeri juga gue lihat lu kemana-mana dengan perut segede gitu." seloroh Dita bergidik melihat perut sahabat sekaligus bosnya.
Ziana tertawa renyah mendengar ucapan sekretarisnya itu "gue udah terlalu terbiasa dilingkungan ini. Kalau gue tiba-tiba diem aja di rumah seharian, yang ada gue stress dan akan berdampak pada kondisi anak gue juga" ucap Ziana seraya mengusap perutnya yang semakin bulat.
Ziana dan dunia kerja memang susah untuk dipisahkan, bahkan sejak masih di masa putih abu-abu wanita itu memang sudah aktif bekerja paruh waktu di beberapa perusahaan yang memerlukan jasanya.
"Sshhh.."
Dita dibuat panik mendengar ringisan sahabatnya "lo kenapa kak? Jangan bilang mau brojol sekarang. Duhh.. tahan bentar kak, gue harus lakuin sesuatu dulu" Dita berdiri dan mulai heboh sendiri.
"Gue gapapa Dit, dia cuma nendang doang, kok" seraya mengusap perutnya pelan.
Mendengar hal tersebut membuat Dita menghela napas lega "Haaahhh.. syukurlah. Gue panik banget kirain mau lahiran disini"
Ziana tidak merespon. Wanita hamil itu terlihat mengatur nafas, sebelum mengajak sekretarisnya untuk kembali, karena jam istirahat yang akan segera berakhir.
Keduanya pun bergegas meninggalkan kantin, menuju lantai paling atas dimana ruangan mereka berada.
_______________________
"Aku keliatan gendut banget gak sih, pake baju ini?" Gumam Ziana sambil berdiri memperhatikan penampilannya didepan cermin full body yang berada di dalam kamarnya.
Arash yang duduk di sofa meletakkan ponselnya ke atas meja kemudian menghampiri sang istri yang entah sudah berapa kali berganti pakaian.
Laki-laki itu memeluk pinggang Ziana dari belakang "kamu tuh mau pake baju apa aja tetap cantik, sayang" ucapnya mencium tengkuk sang istri dari belakang.
Bukannya senang, Ziana malah berdecak kesal "mas ngomong gitu cuma buat menghibur aku aja, kan?" Tudingnya sambil melepaskan diri dari dekapan Arash dan berjalan menuju ranjang. Mendudukkan diri dengan wajah yang di tekuk.
Laki-laki itu hanya menggeleng pelan melihat istrinya yang sedang tidak percaya diri. Padahal menurut Arash, istrinya 3 kali lebih cantik dan seksi ketika hamil, auranya semakin keluar.
Bahkan saking cantiknya, membuat Arash ingin mengurung Ziana di rumah. Laki-laki itu seakan tidak rela jika kecantikan istrinya dinikmati oleh banyak orang di luaran sana. Tapi itu hanya keinginannya yang terpendam, pada kenyataannya Arash tidak setega itu menempatkan sang istri dalam sangkar emas yang ia buat.
Arash berjalan menuju lemari, laki-laki itu memilah dan memilih pakaian yang cocok untuk sang istri, hingga pilihannya jatuh pada dress berwarna baby blue yang terlihat simpel dan elegan "yang ini sepertinya cocok. Coba kamu pakai" pintanya.
Ziana meraih baju tersebut dan langsung mengganti pakaiannya dihadapan Arash, untuk menghemat waktu.
____________________
Aula hotel Alister sudah ramai oleh para tamu undangan yang ingin turut menyaksikan dan merayakan resepsi pernikahan dari pemilik Alister Corp, yaitu Bryan Alister.
Arash, Ziana dan Attar berjalan beriringan di atas red carpet yang terbentang, membuat ketiganya menjadi pusat perhatian.
Selain memiliki paras yang cantik dan ganteng, keduanya juga merupakan pemilik dari perusahaan yang berhasil menempati peringkat pertama dan kedua. Ditambah dengan keberadaan Attar yang tidak kalah menarik perhatian, berada di tengah-tengah mereka. Sungguh keluarga yang sangat sempurna, pikir mereka semua.
Bukannya senang menjadi pusat perhatian Arash justru kesal. Laki-laki itu tidak suka melihat tatapan para pria berumur dan memiliki perut buncit itu menatap istrinya dengan tatapan lapar.
Jika saja Ziana tidak menahannya, mungkin sudah sejak tadi Arash memberi pelajaran kepada mereka yang sudah menatap miliknya dengan tatapan kurang ajar.
"Sabar, Mas Angga..jangan buat keributan di acara bahagia sahabat kamu.." peringat Ziana sambil mengusap lengan suaminya lembut.
"Lengket teroooosss.." seloroh Lucas yang tiba-tiba saja muncul dari belakang mereka sambil menggandeng tangan sang istri tercinta.
"Ini lagi satu.." gerutu Arash
Lucas yang baru saja tiba tentu saja di buat bingung dengan wajah badmood Arash "Napa sih bro, gue baru datang loh masa udah kena aja"
Arash malas menjawab. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, dimana Fero yang juga baru datang dengan menggandeng pasangan baru lagi.
Lucas mengikuti kemana arah tatapan Arash "weeshh..baru lagi nih Ro"
Fero tertawa kecil menanggapi celetukan Lucas yang tidak ada saringannya "kan Lo yang ngajarin bang" selorohnya sambil bergabung di meja tersebut.
"CK..gak usah bongkar bongkar aib juga kali" decaknya sebal yang langsung di sambut tawa oleh semuanya.
"Oh iya kenalin ini Lyra. Sayang kenalin mereka teman-teman aku" Fero memperkenalkan pacar, yang entah ke-berapa pada teman-temannya.
Setelah berkenalan dan berbincang sejenak, Arash dan Ziana pamit, naik ke atas pelaminan, memberi selamat untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia, lebih dulu .
"sayang kamu gapapa? kita pulang sekarang ya?" Melihat wajah pucat istrinya membuat Arash menjadi khawatir.
Ziana menggeleng "gapapa kok, perut aku cuma kram aja" berusaha untuk tersenyum meski dengan wajah pucat.
kenapa harus sekarang sih, ya Tuhan sakitnya. batin Ziana tidak kuasa menahan sakit pada kepalanya, bukan perut.
*******
Happy Reading 💞💞