
Seminggu berlalu setelah pernikahan Lucas dan Valerie, kini keduanya sedang berbulan madu di negara yang terkenal dengan negara cinta.
Dimana di negara itu memang sering di jadikan destinasi untuk orang-orang yang ingin melakukan jalan-jalan romantis bersama dengan pasangan mereka.
Sementara Lucas sedang menikmati bulan madunya, lain halnya dengan Arash yang sedang sibuk mengatur rencana untuk melamar Ziana.
Laki-laki itu ingin melakukannya di tempat yang romantis dan disaksikan oleh seluruh keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Namun sebelum melaksanakan rencananya, ada hal yang lebih penting yang harus di lakukan nya terlebih dahulu, yaitu meminta restu kepada kedua orang tua Ziana.
Malam itu tanpa sepengetahuan Ziana, Arash mendatangi kediaman keluarga Bagaskara, papa dari Ziana.
Mbok Tin membukakan pintu untuknya dan bertanya kepadanya.
"Maaf cari siapa ya?" Tanya wanita paruh baya itu sopan.
"Saya Arash, pak Bagas nya ada?" Ucap Arash tersenyum kemudian balik bertanya.
"Ada tuan, ayo silahkan masuk" ucap Mbok Tin di jawab anggukan kepala oleh Arash.
"Tuan silahkan duduk dulu, biar saya panggilkan tuan Bagas dulu di atas" pamit mbok Tin.
"Iyaa bu, terimakasih" dijawab senyum oleh wanita paruh baya itu.
10 menit kemudian wanita paruh baya itu kembali dan telah bersama oleh seorang pria yang terlihat masih gagah di usia senjanya.
"Selamat malam pak" sapa Arash sambil berdiri ketika melihat Bagas mulai berjalan kearahnya.
Bagas menatap Arash dari bawah sampai atas, mencoba mengingat siapa laki-laki yang sedang bertamu ke rumahnya malam-malam begini.
"malam, silahkan duduk" kata Bagas mempersilahkan.
"kamu..." Bagas masih berusaha mengingat-ingat tentang Arash namun mbok Tin datang membawakan minuman.
"permisi tuan, silahkan diminum" ujarnya lalu pamit untuk kembali kebelakang.
"terimakasih" ucap Arash sopan.
"Maaf pak karena mungkin kedatangan saya kesini mengganggu waktu anda" Arash memulai pembicaraan.
"ohh tidak masalah, saya sama sekali tidak merasa terganggu"
"terimakasih pak, tapi sebelum saya menyampaikan maksud kedatangan saya, izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu" Arash berucap dengan gugup.
Bagas mengangguk karena dia memang lupa siapa Arash.
"perkenalkan saya Arash Wijaya" sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Bagas. "Bagaskara" sambil ikut menyebutkan namanya.
"maaf jika saya datang secara mendadak, tapi niat saya kesini ingin meminta restu kepada anda untuk melamar putri anda yaitu Ziana" Ucap Arash dengan keringat yang bercucuran di kening dan pelipisnya.
Bagas mencerna ucapan Arash sambil terdiam, sementara Claudia yang hendak ke dapur untuk mengambil air minum tidak sengaja mendengar apa yang di ucapkan oleh laki-laki itu, hingga membuat Claudia mengulum senyumnya.
Claudia pun mengambil langkah untuk bergabung dengan kedua pria yang sedang dalam mode serius itu, setelah memotret mereka lalu mengirimkannya kepada Ziana.
Sementara itu di apartemennya Ziana yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor yang sengaja dibawanya pulang untuk di kerjakan dirumah, tiba-tiba mengernyit melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh mama Claudia.
"Arash? mau apa dia sama papa?" gumamnya.
Karena merasa penasaran akhirnya dia memutuskan untuk menelpon mama Claudia untuk menanyakannya secara langsung, namun ponsel Claudia sudah tidak aktif.
"mama Cla apaan sih sok misterius" gumam Ziana menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai.
Ziana berfikir bahwa kedatangan Arash kerumahnya pasti tidak jauh dari bisnis, 'biar nanti gue tanyain langsung sama orangnya' fikir Ziana.
Kembali ke kediaman Bagaskara, setelah Arash pulang Claudia kembali mengaktifkan ponselnya dan tertawa kecil ketika melihat bahwa ada pesan dan panggilan dari Ziana.
"kamu kenapa ketawa sendiri?" tanya Bagas yang baru masuk ke kamar setelah sebelumnya dari ruang kerjanya.
"ehh..mas udah selesai?" tanya Claudia balik.
"iya.. pertanyaan aku belum kamu jawab"
"gapapa mas, ini urusan perempuan jadi mas gak perlu tahu" kata Claudia masih tertawa kecil.
Bagas menggeleng "yasudah, mas capek mau tidur dulu" ucapnya lemah.
Claudia menghela nafas lalu menghampiri suaminya yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur. Claudia melingkarkan tangannya ke lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
"kamu benar...aku hanya merasa sedih karena sebentar lagi dia akan benar-benar menjadi milik orang, dan aku tidak akan punya kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahanku" Bagas terisak dalam rengkuhan Claudia.
Malam itu Bagas membagi semua kegelisahan dan ketakutan yang selama ini dipendamnya seorang diri, dan Claudia membiarkan saja tanpa menyela ataupun mengomentari, hingga tanpa sadar mereka tertidur dalam posisi masih saling merengkuh dan dengan mata yang sembab karena menangis.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Ziana sudah bangun karena akan ada meeting penting dengan koleganya.
Selesai mandi dan sarapan ala kadarnya sebab pembantunya yang sedang cuti, Ziana berangkat menggunakan mobil kesayangannya yang berwarna hitam metallic.
Ziana sampai di Callista Group sebelum jam 7 dan lebih cepat daripada sekertaris Dita. Karena masih terlalu pagi, Ziana menyempatkan diri menghubungi Arash untuk menanyakan tentang foto yang semalam dikirim oleh mamanya.
Namun sayang, harapan hanya tinggal harapan, karena nomor laki-laki itu sedang diluar jangkauan.
Entah sudah berapa panggilan yang dilakukannya, namun jawabannya tetap sama, diluar jangkauan.
Ziana menghela nafas ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, karena Arash yang tidak bisa dihubungi.
*tok
tok
tok*..
Suara ketukan pintu dari luar mengalihkan atensi Ziana "masuk" ucapnya sedikit berteriak.
"permisi Bu, 5 menit lagi rapat akan segera dimulai" beritahu sekertaris Dita yang hanya menyembulkan kepalanya.
"iyaa saya akan segera kesana, kamu sudah siapkan semua berkasnya?'
"sudah Bu" jawab Dita, Ziana mengangguk lalu bangkit dari tempat duduknya menyusul Ziana.
Ziana berjalan lebih dahulu menuju ruang rapat diikuti oleh Dita dibelakangnya.
Sementara itu dibelahan dunia lain Arash baru saja tiba di hotel setelah mengudara selama kurang lebih 9 jam.
Sesampainya di kamar Arash langsung menuju ke kamar mandi terlebih dahulu untuk menyegarkan tubuhnya.
Selesai mandi dan berganti pakaian Arash mulai menghidupkan ponselnya yang sengaja dinonaktifkan sebelumnya.
Dia tersenyum ketika mendapat banyak notifikasi pesan maupun panggilan dari pujaan hatinya, siapa lagi kalau bukan Ziana.
Arash tidak membalas satupun dari pesan tersebut, bukan niatnya untuk mengacuhkan perempuan itu, namun dirinya tidak bisa berbohong kepada Ziana.
Bahkan dia pergi ke negara NN tanpa sepengetahuan perempuan itu, karena ini adalah sebuah misi rahasia yang di berikan oleh Bagas selaku calon mertuanya.
Tidak punya pilihan lain, Arash pun kembali menonaktifkan ponselnya sebelum membaringkan tubuhnya.
*****
Happy Reading 💞💞 💞