
Malam telah menyapa dan mobil Arash berhenti di depan sebuah rumah sakit, sesuai instruksi yang diberikan oleh Ziana.
Tanpa banyak tanya Arash segera turun, memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk istrinya turun.
"terimakasih, Mas"
"sama-sama sayang" jawab Arash dengan senyum lebarnya.
Kedua insan itu saling memandang dan berbalas senyuman, melupakan sekretaris Dita yang sudah dongkol lantaran selalu menjadi nyamuk diantara pasangan yang baru dimabuk asmara itu.
"Ehem..ehemm.." pura-pura batuk agar keberadaannya disadari oleh sepasang suami-istri itu.
Arash berdecak kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa lantaran istrinya sudah memberi kode untuk tidak berbicara macam-macam lewat tatapan matanya. Dan laki-laki itu tidak berani melawan Ziana.
Setelah meminta maaf Ziana mengajak keduanya untuk segera masuk "ayo, semua jawaban yang lo cari ada didalam" ucap Ziana menatap Dita yang juga menatapnya bingung.
"Maksud lo apa kak? Dian baik-baik aja kan?"
"Lo akan tahu nanti" Ziana berjalan meninggalkan Dita yang masih berfikir keras sedangkan Arash yang tidak ingin ikut campur hanya mengikuti langkah sang istri dengan tenang.
Ziana terus berjalan hingga ia sampai didepan ruang operasi dan disana mereka sudah disambut oleh seorang laki-laki yang tidak lain adalah Lyan.
"Selamat malam Bu, Pak" Laki-laki itu menyapa dengan sopan sambil menunduk.
"Hmm.. bagaimana operasinya apa berjalan dengan lancar?"
"Mereka masih ditangani oleh dokter" tunjuknya pada ruangan operasi yang pintunya masih tertutup rapat.
Ziana tampak menghela nafas panjang kemudian duduk di kursi tunggu "apa masih lama?"
Lyan mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya "sepertinya sebentar lagi, anda harus bersabar" Ujarnya menenangkan, meski dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.
"Baik terimakasih, kau sudah boleh kembali malam ini" ucap Ziana
"Tidak Bu, saya akan tetap disini"
"Pergilah sebelum semakin larut, kasian anak dan istrimu yang pasti mengkhawatirkan dirimu, kau tidak perlu khawatir disini ada suamiku, Jessica dan yang lain juga sedang dalam perjalanan menuju kesini"
Lyan mengangguk, merasa lega kala mendengar bahwa akan ada orang yang menyusul, dengan begitu dirinya bisa pergi tanpa mencemaskan apapun lagi.
Setelah itu Lyan benar-benar pergi setelah mendapatkan izin dari Ziana.
Beberapa saat setelah kepergian Lyan lampu ruangan operasi terlihat padam, tanda bahwa operasi telah selesai.
Cklek
Seorang pria berjas putih keluar dari dalam ruangan diikuti oleh seorang suster.
Ziana segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut "bagaimana keadaan mereka dok?"
Dokter tersebut tidak langsung menjawab, dia meneliti Ziana dari bawah hingga ke atas lalu bertanya "kalau boleh saya tahu, anda ini siapanya pasien?"
Ziana menarik Dian ke sampingnya "dia kakak dari pasien"
Dokter tersebut beralih menatap Dita lalu mengangguk "kalian boleh ikut ke ruangan saya sebentar, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan"
"Baik dok"
Operasi berjalan dengan lancar, dan kini Dian telah di pindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya yang sudah cukup stabil meski masih belum sadar pasca operasi.
Dita menatap sendu sang adik yang terbaring lemah di atas ranjang perawatan, dengan selang infus yang masih menempel di tangan.
Meski banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakan tentang apa, kenapa, dan siapa, namun melihat kondisi Dian saat ini membuat Dita yang biasanya aktif seketika menjadi lemas tak bertenaga.
Dita tahu bahwa Dian bukanlah adik kandungnya, ayahnya yang membawa Dian saat berusia sekitar 1 tahun. Namun terbiasa bersama sejak kecil membuat Dita menyayangi Dian layaknya adik kandung sendiri.
"Ta..makan dulu yuk" tepukan lembut Ziana pada bahunya membuat Dita tersadar dari lamunan.
"Gue gak laper kak" bohong sekali jika Dita mengucapkan demikian, karena sejak siang dia belum makan apapun, namun melihat keadaan sang adik membuat Dita tidak berselera untuk makan.
"Mau lo laper atau enggak, lo harus makan Ta, siapa yang akan jaga Dian kalo lo ikutan sakit" pernyataan Ziana barusan menyadarkan Dita. Ziana benar, dirinya harus tetap sehat untuk bisa menjaga dan merawat adiknya.
Pelan Dita mengangguk, kemudian bangkit dari kursinya dan berlalu pergi bersama Jessica yang baru tiba beberapa saat yang lalu.
Ziana menarik nafas lega setelah keduanya benar-benar menghilang di balik pintu. Sebenarnya ada alasan lain yang membuat Ziana memaksa Dita untuk makan di kantin, yaitu untuk menjebak seseorang yang mengincar nyawa Dian dan ayah kandungnya.
Bukan tidak mungkin jika orang yang mencelakai Dian akan datang dan kembali melancarkan aksinya untuk menghabisi keturunan Dirgantara, oleh sebab itu jugalah Ziana sengaja menempatkan Dian satu ruangan dengan ayah kandungnya, yaitu Arman Dirgantara.
Beberapa menit setelah kepergian Dita dan Jessica, Fero segera masuk untuk memasang kamera, sebagai bukti nantinya jika memang mereka akan datang, sesuai perkiraan Ziana.
"Sudah?"
"Beres queen" ucap Fero mantap, sementara Arash dan Tristan mengintai di jarak aman dan menyamar sebagai seorang perawat.
Setelah semua selesai, Ziana memberi kode untuk keluar dan mulai menjalankan rencana.
"Duh.. laper nih, yang lain pada kemana sih gak balik-balik" ucap Fero dengan suara yang sengaja di besarkan, untuk memancing orang-orang yang ingin mencelakai Dian.
"Bagaimana kalau kita susul mereka aja ke kantin?" Usul Ziana dengan suara yang sama kerasnya dengan Fero.
"Ayo.."
Dari tempatnya bersembunyi Tristan berdecak kagum dengan akting Ziana dan Fero yang terlihat natural, sedang Arash tersenyum bangga *sebenarnya hal apa sih yang tidak bisa kamu lakukan, sayang* batinnya kagum kepada sang istri yang serba bisa melakukan apapun.
Namun ekspresi kagum yang sebelumnya menghiasi wajah tampan mereka berubah kala 4 orang pria berbadan besar memasuki ruangan Dian dan ayahnya.
Segera Arash dan Tristan bergerak sesuai dengan rencana yang telah mereka sepakati bersama sebelumnya.
Di saat yang bersamaan kehebohan terjadi di kediaman Wijaya.
Sekumpulan pria berpakaian serba hitam tiba-tiba menerobos masuk saat para penghuni rumah telah berada di kamar masing-masing, bersiap untuk tidur.
Aruna yang saat itu hendak ke dapur terkejut ketika mendengar suara keributan dari arah ruang tamu.
Gadis itu berlari menuruni tangga untuk memastikan apa yang tengah terjadi dibawah sana.
Alangkah kagetnya saat melihat beberapa orang terkulai dan sudah tidak sadarkan diri di lantai.
Melihat orang-orang kepercayaan papa Arnan yang selama ini telah menjaganya sebagai bodyguard kewalahan menghadapi pria gondrong yang menyerang dengan membabi-buta, membuat tangan Aruna gatal untuk menghajar pria gondrong tersebut.
Aruna berlari mendekati mereka dan dengan sekuat tenaga gadis itu mengarahkan tendangannya ke arah pria gondrong tadi dan
Bughh
berhasil dan tendangannya tepat sasat. Ini adalah percobaan pertamanya melawan musuh secara langsung, dan Aruna sedikit bangga sebab percobaan pertamanya cukup memuaskan.
Bodyguard nya terkejut melihat pria gondrong yang menyerangnya tumbang dalam sekali tendangan yang dilakukan Aruna.
"Nona muda, anda____
"Awas" sela Aruna ketika pria gondrong tadi berusaha menyerang bodyguard nya dari arah belakang.
"Om Ben fokus, jangan pikirkan apapun" sentak Aruna tegas membuat pria yang dipanggilnya Om Ben itu patuh.
Keduanya lalu bekerjasama untuk membereskan para menyusup yang entah datang dari mana.
Sedangkan di kamarnya, mama Arianna terlihat gelisah sambil mondar-mandir, hingga ketukan di daun pintu menghentikan aksinya.
"Iya sebentar" teriaknya ketika orang tersebut tidak lagi mengetuk melainkan menggedor dengan kuat.
"Nyonya..terjadi kekacauan dibawah" tanpa sempat berbasa-basi sang art tersebut langsung saja memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa maksud bibi?" Arianna bertanya meski samar-samar dia bisa mendengar suara seperti orang yang sedang berkelahi.
Art tersebut menceritakan apa yang terjadi secara singkat dan jelas. Mama Arianna menutup mulutnya, terkejut.
Wanita cantik tersebut pun segera berlari menuju ruang kerja suaminya yang berada tepat di samping kamar mereka.
Tanpa mengetuk pintu,mama Arianna segera masuk dan mengagetkan suaminya yang sedang sibuk dengan layar monitornya.
"Ada apa, Ma?"
"Pa ada penjahat masuk rumah, dan putri kita sedang bertarung dibawah sana bersama Benny"
"APA??" Kagetnya, bukan soal penjahat yang masuk ke rumah, tapi karena putrinya yang sedang berkelahi yang membuatnya kaget, hampir jantungan.
Tanpa aba-aba, papa Arnan segera berlari meninggalkan ruang kerjanya dan meninggalkan istrinya.
*****