
Sesampainya di ruangan Ziana, di sana ternyata sudah ada Regan, Jessica, dokter Valerie dan juga ada tiga orang laki-laki. satu diantaranya duduk di kursi samping tempat tidur Ziana.
"pak Arash disini juga?" sapa Dita ketika mengetahui bahwa salah satu laki-laki itu adalah Arash Wijaya rekan bisnisnya, sedangkan dua lainnya tidak dikenalnya sama sekali.
Arash hanya menoleh sekilas sambil mengangguk kemudian kembali menatap Ziana dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
"kak.. gue punya sesuatu buat lo" sapa Dita ikut menatap wajah pucat Ziana.
tok tok tok
"tunggu ya kak dia sudah datang" Dita membukakan pintu untuk seseorang dan muncullah Aruna dan Attar.
"ayo masuk" ajak Dita.
"kak lihatlah siapa yang datang, kau pasti senang kan? jadi kumohon bangunlah" kata Dita lagi.
"Kak Zi.."
"Aunty Zi.." sahut Aruna dan Attar bersamaan.
keduanya berlari menghampiri Ziana yang masih terbaring di atas bed hospital.
Ketiga laki-laki yang ada disana terkejut melihat kedatangan Aruna dan juga Attar sedangkan Regan biasa saja, sebab sudah pernah melihat kedekatan Ziana dengan gadis yang menggunakan seragam putih abu-abu itu.
"Aunty Zi, kenapa? Aunty bangun" Attar mengguncang tubuh Ziana.
"Aunty Zi bangun..Attar kangen, hiks.. udah 3 hari dak Vidio call Aunty" ucap Attar berusaha membangunkan Ziana sambil terisak.
"Aunty Zi bangun Aunty.. Attar mau peluk aunty Zi hiks..hiks"
"Kak.. bangun, Aruna disini, aku mau nagih janji kakak yang mau ngajarin aku bela diri, kakak gak boleh seperti ini, kalau kakak gak bangun siapa yang akan nolongin aku kalau kena begal lagi?" ucap Aruna sambil terisak.
semua orang yang berada di ruangan itu ikut terisak. termasuk Arash. Laki-laki itu tidak menyangka bahwa perempuan yang telah menolongnya begitu dekat dengan anak dan juga adiknya.
'ku mohon bangun, lihatlah anak dan adikku sangat membutuhkanmu, aku tidak akan bisa maafin diri aku sendiri kalau sampai terjadi hal buruk sama kamu' Batin Arash meraih tangan Ziana dan meletakkan tangan itu ke dahinya.
"dad Aunty Zi kenapa dak bangun-bangun?" tanya Attar kepada sang ayah ketika sadar bahwa yang duduk di kursi itu adalah daddy-nya.
Arash tidak tau harus menjawab apa, laki-laki itu bungkam.
"kak lo harus bangun dan lihat, banyak orang yang sayang sama lo" ujar Dita mendekat ke ranjang Ziana.
Attar mencium seluruh wajah Ziana "Aunty bangun hiks.."
Sementara itu di alam bawah sadarnya Ziana tengah bersandar nyaman dalam pelukan seorang pria yang tinggi tegap.
"Kak.. bawa Zizi pergi bersama kakak, Zizi ingin ikut kakak" ucap Ziana menutup kedua matanya.
pria itu tidak mengatakan apapun dia hanya tersenyum dengan tangan sibuk mengusap kepala Ziana.
sampai sebuah suara menginterupsi kegiatan keduanya.
"kakek.." mata Ziana berbinar melihat sosok itu.
Ziana berlari menghampiri seseorang yang di panggilnya kakek. Perempuan itu menubruk tubuh si kakek dan memeluknya erat.
"kakek Zizi kangen" ujarnya. Ziana menumpahkan tangisnya dalam dekapan kakek Abian.
"sudah jangan menangis, dasar cengeng" ejek kakek Abian mengusap air mata Ziana.
Ziana cemberut mendengar ucapan Kakek Abian.
"Zi.." ujar si pria yang tadi, dia mendekat dan mengulurkan tangannya.
"kak Agler" Ziana menoleh ke arah pria itu dan ingin meraih tangan pria tersebut.
Namun kakek Abian langsung menarik tangan Ziana.
"kakek.."
"kakek tidak mengizinkan kamu bersama pria bajing*n seperti dia" larang kakek Abian menatap nyalang ke arah Agler.
"tapi kenapa kek.. Zizi ingin bersama kalian"
"tidak sayang, dia tidak pantas mendapatkan kebaikan mu" ucap kakek Abian, membuat Ziana menggeleng.
"apa maksud kakek" tanya Ziana bingung.
pria itu tertawa keras.
"sebaiknya kamu pulang, lihat banyak yang menunggu mu banyak yang sayang sama kamu" ucap kakek Abian menunjuk ke sebuah layar, dimana disana terlihat Ziana terbaring dan di kelilingi oleh banyak orang.
"Attar.." gumam Ziana.
"pulanglah.. apa kamu tidak kasihan dengan anak kecil itu" ucap Kakek Abian menghasut Ziana agar segera pulang.
"Zi.. waktu kita tidak banyak ayo kita pergi dari sini" ajak Agler tiba-tiba.
"kakak ." Ziana kembali menoleh.
"lihat anak itu sayang, dia sangat merindukanmu" sela kakek Abian.
"Pulanglah nak"
Ziana mengangguk, sambil terus memperhatikan layar itu.
"Attar" hanya satu nama itu yang selalu Ziana ucapkan sampai sebuah cahaya putih menyilaukan mata Ziana.
******
Happy Reading 💕💕💕