About Ziana

About Ziana
Chapter 118



Suasana didalam mobil begitu hening, membuat Arash memberanikan diri untuk meraih tangan Ziana lalu menggenggamnya menggunakan sebelah tangannya yang bebas.


Ziana tidak menolak, namun perempuan itu masih saja menatap keluar tanpa berniat menoleh kepada Arash.


"sayang.." panggil Arash namun tidak ada respon.


Arash tidak menyerah ia terus memanggil, hingga panggilan ke-tiga barulah Ziana merespon dengan deheman "heemm.." namun pandangannya masih terus melihat jalanan luar tanpa menoleh kearah Arash.


"kamu marah sama aku ya gara-gara aku ngajaknya dadakan?" tanya Arash pelan.


"nggak.." jawab Ziana singkat.


Arash menarik nafasnya, menghadapi Ziana yang ngambek seperti ini jauh lebih susah dari pada menghadapi ngambeknya Attar.


Biasanya jika Attar marah padanya, Arash hanya tinggal mengajaknya jalan-jalan atau membelikannya mainan baru, maka Attar akan langsung memaafkannya.


Namun berbeda jika itu Ziana yang marah padanya, Arash tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa mendapat kata maaf dari perempuan itu.


Ini adalah kali pertama Arash berada diposisi seperti ini, sebab dulu mantan istrinya tidak pernah marah padanya seperti yang dilakukan Ziana saat ini.


Tiba-tiba Arash mengingat sebuah adegan film yang pernah ditontonnya bersama Aruna beberapa waktu lalu.


Arash menepikan mobilnya ke pinggir jalan kemudian kembali menarik kedua tangan Ziana dengan lembut lalu menggenggamnya.


Ditatapnya Ziana dengan tatapan penuh cinta setelah perempuan itu menoleh, lalu Arash berkata "sayang.. aku minta maaf udah maksa kamu dan membuatmu jadi kesal..


"Aku fikir dengan mengajak kamu keluar akan membuat kamu bisa tersenyum lagi.." Arash menjeda ucapannya untuk mengambil nafas.


"Maaf juga karena aku udah bersikap egois sama kamu, jujur ini pertama kalinya aku berpacaran jadi aku belum ada pengalaman tentang cara berpacaran, maafin aku ya sayang" ucap Arash tulus.


Ziana nampak gelagapan, karena posisi mereka yang begitu dekat dan juga permintaan maaf yang dilontarkan Arash terdengar sangat tulus, membuat Ziana tidak ada alasan untuk tidak memaafkannya.


Ziana hanya mengangguk karena jujur dirinya begitu gugup ditatap seperti itu oleh Arash.


Melihat Ziana mengangguk membuat Arash tersenyum lega. Ingatkan laki-laki itu untuk memberikan hadiah untuk Aruna karena telah memaksanya menonton film waktu itu.


Arash mencium kedua tangan Ziana "makasih sayang.." ujarnya tersenyum manis membuat detak jantung Ziana menjadi tidak karuan.


Mendapat perlakuan manis seperti itu membuat pipi Ziana merona.


Arash yang gemas sendiri melihat Ziana langsung saja mencubit kedua pipi perempuan itu.


"aawww.. sakit" keluh Ziana seraya memukul pelan tangan kekar Arash.


"biarin.. siapa suruh ngegemesin huumm.." ucap Arash sebelum melepaskan tangannya dari pipi Ziana yang sudah semakin merah.


"apaan sih orang gak ngapa-ngapain" celetuk Ziana dengan wajah cemberutnya.


Arash kembali menatap Ziana dengan tatapan penuh cinta membuat Ziana menjadi salah tingkah, namun dengan cepat perempuan itu bisa menguasai dirinya.


Arash mengangguk membenarkan pertanyaan yang dilontarkan Ziana.


"kamu adalah pacar pertamaku" kata Arash memperjelas.


"emang kita pacaran?" celetuk Ziana.


"sayang kok gitu sih.." suara Arash dengan nada memelas.


"kan kamu gak pernah nembak aku, kita juga gak pernah jadian" cibir Ziana.


"iya juga yaa.." Arash membenarkan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Arash lalu memperbaiki posisi duduknya dan kembali meraih tangan Ziana "kamu mau gak jadi pacar aku?"


"maaf tapi aku udah dilamar tuh" jawab Ziana memperlihat sebuah cincin yang melingkar di jarinya seraya menahan tawa.


🌹🌹🌹


Di saat kedua sahabatnya berbahagia bersama pasangannya masing-masing, lain halnya dengan Bryan yang hanya duduk termenung di balkon rumahnya.


Kedua orangtuanya yang tinggal diluar negeri sudah mendesak Bryan untuk segera mengenalkan pasangannya kepada mereka, jika tidak maka Bryan harus siap di jodohkan dengan perempuan pilihan orangtuanya.


Dan lebih parahnya lagi, Bryan hanya diberi waktu 1 bulan untuk menemukan pasangan, karena pada saat itu kedua orangtuanya akan datang berkunjung dan sekalian ingin merayakan anniversary pernikahan mereka.


Bryan mengusap wajahnya dengan kasar, karena ancaman mamanya yang akan menjodohkannya tidak pernah main-main.


Sebenarnya banyak perempuan yang antri untuk menjadi pasangannya, namun Bryan tidak bisa jatuh cinta lagi kepada orang lain, sebab perasaannya hanya untuk seorang perempuan bernama Delisha yang kini sudah berada di surga.


Meski sudah bertahun-tahun, namun Bryan belum bisa menggantikan sosok Delisha dihatinya.


Setiap kali Bryan merindukan perempuan itu, ia pasti akan berdiam diri di balkon kamarnya memandangi taman bunga dan juga langit malam.


Semasa hidupnya Delisha begitu menyukai taman bunga, dan mereka sering sekali mengunjungi tempat-tempat seperti itu.


Bryan menatap kearah langit melihat hamparan bintang seraya mengingat kenangannya bersama Delisha dan tanpa sadar pria dingin itu meneteskan air matanya.


Dulunya Bryan adalah pribadi yang hangat dan ceria, namun semenjak kepergian Delisha, entah kenapa ia berubah menjadi dingin dan irit bicara.


Menghela napas panjang, Bryan lalu menghapus air matanya karena dia tidak ingin membuat Delisha nya marah karena melihat dirinya menangis.


Perempuan itu paling tidak suka jika Bryan sedih, bahkan di saat-saat terakhirnya Delisha masih sempat memarahinya karena melihat Bryan meneteskan air matanya.


Saat tengah mengingat masa lalunya, ponsel Bryan berdering. Dia langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu balkon sebelum mengangkat panggilan tersebut.


****


Happy Reading 💞💞 💞