About Ziana

About Ziana
Chapter 170



"ARUNA...!!!"


Terlambat, putrinya sudah terkulai akibat tembakan yang tepat mengenai dadanya.


Jantung papa Arnan seakan berhenti berdetak melihat putri yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati (Malika kali ah) tergeletak tak berdaya sambil memegangi dadanya yang telah bercucuran darah, bahkan kaos putih yang Aruna kenakan telah berganti warna menjadi merah.


Wajah pria paruh baya itu sudah pucat pasi "Aruna..bangun sayang, buka matamu jangan bikin papa khawatir, Nak" papa Arnan memohon seraya memangku kepala sang putri.


"Pa.. A..Attar dibawa pergi sama me..mereka" ucap Aruna terbata dengan sisa kesadarannya, setelah itu gadis itu benar-benar tidak sadarkan diri lagi.


"Buka matamu nak, papa mohon buka matamu!!" Papa Arnan meraung dan untuk pertama kalinya pria itu membentak putri kesayangannya.


Raungan keras papa Arnan membuat Mama Arianna segera berlari dari lantai atas "apa yang terjadi dengan putri kita?" Wanita itu histeris melihat penampakan Aruna.


Bruukk


"Nyonya.." kedua art nya berlari menyelamatkan tubuh majikannya yang ambruk.


Mama Arianna yang tidak kuat melihat darah itu pingsan, membuat papa Arnan bingung harus berbuat apa, ia mencoba menghubungi Arash namun tidak bisa tersambung.


Papa Arnan lengah karena terlalu nyaman dengan kebahagiaannya bersama keluarga kecilnya, hingga ia melupakan fakta bahwa sewaktu-waktu keluarganya bisa saja diserang oleh pihak luar.


Di saat genting seperti ini hanya nama Bryan yang muncul di otaknya jadilah ia menghubungi Bryan dan meminta bantuan kepada sahabat anaknya




Bryan yang baru tiba di rumahnya tanpa basa-basi segera pergi lagi setelah mendapat telepon dari Arnan Wijaya papa sahabatnya.



Bryan dan Lucas masing-masing tidak memiliki saudara, jadilah sejak remaja keduanya selalu menjaga dan memanjakan Aruna, adik Arash yang sudah mereka anggap seperti adik sendiri.



Dan alangkah kagetnya ketika mendapat kabar bahwa gadis yang selama ini mereka jaga tertembak oleh penyusup yang masuk ke rumah keluarga Wijaya.



"Bryan mau kemana lagi kamu malam-malam begini?"



Pria itu berlalu tanpa menghiraukan pertanyaan dari sang mama, mungkin masih kesal setelah perdebatannya tadi pagi.



"Bryaaaaaaan" meski sudah berteriak sekeras apapun, nyatanya laki-laki itu tetap pergi tanpa menoleh sedikitpun.



Terbiasa tanpa kehadiran kedua orang tua sejak kecil membuat Bryan tidak memiliki ikatan antara kedua orangtuanya, beruntung Bryan memiliki nenek dan seorang art yang telah banyak mengajarkan nilai-nilai kebaikan, hingga Bryan tumbuh menjadi pria yang baik dan bijak.



Sang mama hanya bisa menarik nafas panjang kemudian mendudukkan dirinya di sofa, wanita paruh baya itu terlihat memijat pangkal hidungnya.



"sudah kubilang kan, tidak perlu susah payah bersikap baik pada anak tidak tahu berterima kasih itu" bukannya menenangkan, suaminya itu malah membuatnya semakin pusing saja.



"kalau nggak bisa ngasih solusi mending papa diam saja" ucapnya tajam sebelum berlalu menuju kamarnya.



Papa Bryan hanya menatap kepergian istrinya dengan santai, tanpa merasa bersalah karena telah membuat sang istri kesal.



Sementara Bryan sudah tancap gas menuju rumah sakit sesuai dengan lokasi yang dikirimkan oleh Arnan Wijaya.



Beruntung letak rumah sakit tersebut tidak terlalu jauh, ditambah dengan kecepatan berkendara Bryan yang persis seperti orang kesurupan, membuatnya tiba lebih cepat dari waktu yang seharusnya.



Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang, Bryan berlarian di koridor rumah sakit seperti seorang anak kecil yang kehilangan jejak orangtuanya. Bodohnya Bryan karena lupa menanyakan letak ruangan Aruna dirawat.



Beberapa saat mencari, akhirnya laki-laki itu melihat Arnan, papanya Arash yang duduk seorang diri didepan ruang operasi.



Bryan berjalan dengan langkah lebarnya "bagaimana keadaannya, om?" tanyanya ingin tahu.



Papa Arnan mendongak, setelah melihat siapa yang datang dia segera berdiri "masih ditangani oleh dokter" ucapnya sendu.



Sejak dulu Bryan mengidolakan sosok Arnan yang menurutnya adalah seorang papa impian bagi semua orang termasuk dirinya. Bryan selalu iri dengan Arash yang memiliki seorang papa hebat seperti Arnan, dan hari ini melihat pria setengah baya itu murung, membuat Bryan ikut merasakan kesakitan.



Bryan mendekat, merangkul Arnan dan mencoba menguatkannya "Aruna adalah gadis yang kuat om, dan saya yakin dia pasti bisa melalui semua ini"




Bryan tersenyum getir, sebagai sesama pria tentu Bryan mengerti perasaan Arnan meski ia bukanlah seorang ayah "apa Arash sudah tahu?" tanya Bryan, sengaja agar Arnan tidak hanya terpaku pada Aruna yang masih menjalani operasi.



Arnan kembali mendaratkan bokongnya pada kursi ruang tunggu, terlihat pria setengah baya itu menggeleng "entah sedang berada dimana mereka, sedari tadi nomornya tidak ada yang bisa dihubungi"



Bukan hanya Arnan yang bingung, tapi kini Bryan pun sama *sepertinya tidak ada misi hari ini*. laki-laki itu bermonolog sendiri yang tentu saja hanya bisa dia dengar sendiri.



*apa aku melewatkan sesuatu*? Batin Bryan bertanya pada dirinya sendiri. Karena moodnya yang tidak stabil hari ini, membuat Bryan malas mengecek grup chattingnya.



Cepat-cepat Bryan merogoh benda pipih berbentuk persegi panjang yang berada di saku celananya, jari-jemari laki-laki itu begitu lincah mengutak-atik layar ponselnya.



*Oh shiitt*



Tenyata benar dugaannya, ada sesuatu yang ia lewatkan. Bryan berniat menghubungi Lucas namun setelah mengecek jam, laki-laki itu mengurungkan niatnya.



Sudah hampir tengah malam, dan Bryan tidak ingin mengganggu istirahat pasangan yang sebentar lagi resmi menjadi orang tua itu.



Mencoba menghubungi Ziana namun tidak terhubung, Arash apalagi, dan Jessica pun sama saja, sementara anggota bloody rose yang lain tidak masuk kedalam grup chat, jadi Bryan tidak mengetahui nomor mereka. Bryan mulai resah, tidak tahu harus menghubungi siapa, ingin menghubungi Regan pun tidak mungkin sebab pria itu sedang melakukan liburan berdua bersama istrinya.



Lama berfikir, akhirnya Bryan bangkit dari kursinya, setelah berpamitan ia segera tancap gas menuju markas bloody rose.



\_



\_



\_



Bak Oase di padang pasir, Lyan datang bak seorang dewa penolong. Tidak ada yang menyangka pria itu akan kembali setelah beberapa jam yang lalu pamit pulang. Lyan datang bersama temannya yang bernama Sammy sang detektif, beserta 3 orang isilop yang dengan cepat meringkus keempat penjahat yang mulai kehabisan tenaga setelah bertarung habis-habisan bersama Arash dan Tristan.



"Anda tidak apa-apa Tuan?" Lyan mengecek keadaan Arash yang sudah tergeletak di lantai.



"daripada mencemaskan ku lebih baik kalian cari istri saya, perasaan saya tidak enak" ucap Arash mengkhawatirkan Ziana.



Mendengar itu Lyan segera berdiri dari posisi jongkoknya, "kalau begitu saya permisi Tuan" pamitnya sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.



Setelah kericuhan tersebut reda dan para preman telah di bawa pergi, beberapa suster dan dokter berlarian masuk.



"selamatkan dia dulu, lukanya lebih parah dariku" ucap Arash menepis pelan tangan kedua suster yang berusaha membantunya.



Entahlah, Arash merasa risih saja jika kulitnya bersentuhan dengan perempuan lain, selain istrinya.



"tapi anda juga terluka, Tuan" kekeh suster tersebut, kembali menyentuh lengan Arash, namun kembali di tepis.



"tidak perlu, saya bisa sendiri" ucapnya dingin.



Dengan perasaan kecewa, suster tersebut pun berpindah dan membantu temannya untuk mengangkat Tristan yang sudah tidak sadarkan diri sejak beberapa menit yang lalu.



\*\*\*\*\*