About Ziana

About Ziana
Chapter 107



Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah sebulan Arash tidak pernah lagi menghubunginya, untuk sekedar menyatakan kabar ataupun mengajaknya makan siang atau makan malam seperti dulu.


Kadang manusia harus kehilangan, untuk menyadari tentang arti hadir seseorang, karena pada dasarnya arti sebuah kehadiran akan terasa saat kehilangan telah merenggutnya.


Mungkin itulah yang saat ini dirasakan oleh Ziana, dia merasa kehilangan Arash ketika laki-laki itu tidak pernah lagi mengganggu kehidupannya.


Ziana merasa kosong dan hampa, entah kenapa dirinya merindukan laki-laki itu, laki-laki yang dulunya dianggap sebagai pengganggu dan tidak tahu malu, kini justru membuat hatinya kacau.


Entah siapa yang tidak tahu malu saat ini, Arash atau justru dirinya, karena telah lancang merindukan seorang laki-laki yang berstatus duda, yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya.


Ziana kembali menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin, sedingin cuaca di kota B sore itu.


Perempuan itu menatap keluar jendela, sudah dua hari ini hujan terus mengguyur kota B dengan intensitas sedang hingga lebat.


Tapi ngomong-ngomong tentang duda, Ziana tiba-tiba kepikiran dengan si bocah laki-laki yang menggemaskan, siapa lagi jika bukan Attar.


Sudah 5 hari ini dirinya tidak pernah melakukan panggilan video dengan Attar, selama ini Attar lah yang mengisi kekosongan selama Arash tidak ada.


Melihat Attar membuat Ziana melihat Arash masa kecil, karena wajah mereka seperti copy an saking miripnya.


Setelah meneguk kopi terakhirnya Ziana memutuskan untuk pulang ke resort and spa miliknya, karena jarak dari cafe lebih dekat daripada ke apartemen pribadinya.


Kali ini Ziana hanya seorang diri, karena sekertaris Dita sengaja dia tugaskan untuk tetap di kota A, karena tujuannya ke kota B semata karena ingin mengalihkan pikirannya dari 'makhluk' yang bernama Arash.


Memantau perkembangan resort hanyalah alibi, agar sang sekertaris tidak banyak bertanya.


Terkadang Ziana bingung, bagaimana bisa dirinya bersahabat hingga bertahun-tahun dengan Dita yang amat cerewet, sedangkan dirinya kebalikan dari Dita.


"karena sahabat itu saling melengkapi, bukan saling mengkhianati" itulah kata-kata yang selalu dilontarkan oleh Dita.


Ziana mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menerobos hujan yang mulai semakin deras di penghujung November.


Hanya butuh waktu 15 menit Ziana telah sampai di resort, namun saat tiba di loby terjadi sebuah keributan disana.


Karena merasa para pengunjung akan terganggu dengan keributan yang diperbuat oleh seorang perempuan yang berusia sekitar 30an tahun, Ziana pun turun tangan.


"ada apa ini ribut-ribut?" tegur Ziana.


"Nona Ziana.." ucap sang manager menunduk hormat.


Ziana mengangguk dan meminta agar manager Jeffrey menceritakan duduk permasalahannya.


"anda siapa? apakah dia pemilik resort ini?" tanya perempuan itu secara beruntun kepada Ziana dan manager Jeffrey, sambil menatap keduanya secara bergantian.


Ziana hanya menjawab dengan anggukan kepala, sedangkan manager Jeff begitu orang biasa memanggilnya, hanya menunduk sambil mengangguk kecil.


"bagus, kalau begitu saya bisa komplain kepada pemiliknya secara langsung.."


"ada salah satu karyawan anda yang tidak becus dalam bekerja" kata perempuan itu.


"lihat, kulit saya jadi merah-merah karena ulah karyawan anda" lanjutnya lagi.


"mohon maaf atas ketidak nyamanan ini, saya sebagai pemilik Callista resort and spa merasa malu atas kejadian ini.." Ziana menjeda ucapannya.


"saya, berterimakasih karena anda mau mendengarkan komplain dari saya.." jawab perempuan itu.


"tapi maaf, bukan untuk bermaksud sombong, tapi saya komplain bukan untuk mendapatkan gratisan" sambungnya.


"saya tau bahwa anda mampu membayarnya, namun izinkan kami bertanggungjawab atas kesalahan karyawan kami" ucap Ziana sopan.


"baiklah, karena anda telah meminta maaf dan beritikad baik, jadi saya menerimanya" kata perempuan itu.


"terimakasih" kata Ziana tersenyum palsu.


Perempuan itu pun membalas senyum Ziana, kemudian pamit untuk kembali ke kamarnya.


Setelah perempuan itu pergi, manager Jeffrey langsung mendekat dan meminta maat kepada Ziana.


"mohon maaf karena kelalaian saya anda harus turun tangan dalam masalah ini" ujar Jeffrey menunduk.


"tidak masalah, ini bukan sepenuhnya salah kamu.."


"ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan, karena saya juga ikut andil, " papar Ziana.


"tapi saya sebagai manager merasa malu karena tidak bisa menyelesaikan masalah seperti ini" kata Jeffrey lagi.


"saya mengerti perasaan kamu, tapi ini bukan saatnya untuk berkecil hati."


"sekarang juga kamu pergi dan panggil karyawan yang melakukan kesalahan itu dan bawa ke ruangan ku" titah Ziana.


"baik, kalau begitu saya permisi" pamit manager Jeffrey.


Ziana pun mengurungkan niatnya untuk segera ke kamar dan berbelok arah menuju ruang kerjanya.


🌹🌹🌹


Selesai dengan urusan pekerjaan, Ziana segera mandi dan berganti pakaian dengan setelan piyama yang telah sekertarisnya siapkan.


Setelah itu tidak lupa perempuan itu mengaplikasikan krim malam, dan body lotion ke seluruh lengan dan kakinya untuk menjaga agar kulitnya tetap sehat dan terawat.


Ziana meraih ponselnya diatas meja dan mulai merebahkan tubuhnya.


Perempuan itu mengecek jam dan ternyata sudah jam 10 malam, jadilah Ziana mengurungkan niatnya untuk melakukan panggilan video kepada Attar karena sudah malam.


kemungkinan Attar telah tidur, pikir Ziana. Perempuan itu lalu beralih untuk membuka room chatnya bersama Arash, yang sudah sebulan ini tidak pernah aktif.


Ziana membaca kembali semua isi chat mereka, sambil senyum-senyum sendiri, hingga tanpa sadar dirinya tertidur dengan posisi ponsel yang masih berada ditangannya.


****


Nah loh ngaku siapa yang pernah seperti Ziana?? membaca hasil chatting dengan orang yang dikangenin malam-malam.?? wkwk ✌️✌️


Happy Reading 💞💞 💞