
3 hari berlalu, kini Scorpion tengah bersiap untuk menyerang markas utama Bloody Rose, karena itu adalah waktu yang tepat sebab mereka mengira bahwa Regan masih berlibur bersama istrinya dan Ziana yang masih berada di kota B, sedangkan tiga sekawan yaitu Arash, Bryan, dan Lucas tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
tok tok tok
Bunyi ketukan pintu membuat Agler tersadar dari lamunannya, pria itu segera bangkit dari posisinya untuk membuka pintu yang sengaja dikuncinya dari dalam.
"Lapor tuan, semua persiapan telah selesai, apa kita akan berangkat sekarang?" ucap sang asisten setelah memasuki ruangan Agler.
Agler mengangguk "ya.. semakin cepat akan semakin bagus" sahutnya.
"baiklah kau boleh keluar, 5 menit lagi saya akan segera menyusul" Ujar Agler lalu menutup pintunya saat sang asistennya telah keluar setelah pamit terlebih dahulu.
Pria itu kemudian berjalan sambil memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya, kearah jendela kaca yang berada tepat dibelakang meja kerjanya.
'Zizi.. maafkan saya, tapi hanya ini satu-satunya jalan agar kakek bisa melihat aku, tanpa ada bayang-bayang kamu lagi" Batin Agler dengan tatapan tajamnya yang menatap lurus ke depan.
Setelah membatin Agler kemudian menarik nafas lalu membuangnya secara kasar, dan itu dilakukannya sebanyak 3 kali.
'Selamat tinggal' Batin pria itu lagi sebelum pergi meninggalkan ruang kerjanya, menyusul anak buahnya.
2 jam yang lalu
Di markas utama Bloody Rose, semua anggotanya terkejut melihat kedatangan Regan yang ternyata telah kembali setelah seminggu lebih menghabiskan waktu berlibur bersama sang istri.
Mereka semua bertanya-tanya, mengapa sang ketua kembali dengan cepat, padahal ketuanya itu bilang akan liburan selama 2 Minggu.
Apa ada sesuatu yang terjadi hingga membuat ketua mereka yang harus turun tangan sendiri? batin mereka semua.
Setelah seluruh anggota Bloody Rose berkumpul sesuai perintah Regan selaku ketua, kini pria itu tengah menyampaikan alasan mereka semua diminta berkumpul.
"Saya meminta kalian berkumpul di sini karena saya ingin menyampaikan bahwa markas ini akan direnovasi malam ini juga, jadi untuk sementara kalian akan menempati markas yang dulu yang berada di jalan Mawar" ucap Regan panjang lebar.
"Maaf bang tapi kenapa mendadak?" tanya Tristan mewakili semua temannya yang juga penasaran.
"Sebenarnya saya sudah merencanakan ini beberapa bulan yang lalu, tapi kalian tahu sendiri, saya sibuk mengurus acara pernikahan jadi rencana ini saya tunda sampai pernikahan saya selesai" alibinya.
tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk bersiap, 15 menit kemudian semua kembali berkumpul dengan barang bawaan yang akan mereka bawa.
Setelah pamit, mereka pun segera bergegas pergi ke markas yang akan ditempati selama beberapa waktu ke depan.
Setelah semua anggota Bloody Rose sudah tidak terlihat lagi, Regan buru-buru mengabari 7 anggota Bloody Rose yang sudah senior untuk datang, sesuai yang sudah direncanakan sebelumnya. (di chapter 72)
Kemudian pria itu juga menghubungi Ziana dan meminta perempuan itu untuk datang ke markas jam 12 malam nanti karena akan ada kejutan yang akan pria itu tunjukkan.
Ziana baru saja meletakkan handphonenya setelah selesai berbicara dengan Regan.
Perempuan itu berfikir kejutan apa yang akan di berikan oleh si pengantin baru itu.
"Dari siapa?" tanya sekertaris Dita yang juga duduk dihadapan Ziana.
Saat ini mereka sedang berada di coffe Shop yang terkenal di kota A.
"Regan" jawab Ziana singkat setelah menyesap Cappucino yang tadi di pesannya.
Dita hanya mengangguk sambil menikmati Strawberry Milkshake miliknya, karena Dita tidak terlalu menyukai kopi, seperti Ziana.
Saat tengah asyik menikmati minumannya, ponsel Dita berdering, sebuah panggilan masuk dari adiknya yang mengabari bahwa ibu Dewi terjatuh dari kursi roda dan tidak sadarkan diri.
Dita pun bergegas untuk pulang, awalnya Dita ingin naik taksi, namun Ziana melarangnya dan memberikan kunci mobilnya kepada Dita, karena perempuan itu tidak bisa ikut karena sudah ada janji temu dengan Regan.
Setelah mengucapkan terimakasih, sekertaris Dita pamit kepada Ziana dengan terburu. Sementara Ziana masih duduk menikmati Cappucino pesanannya sambil memperhatikan punggung sekertarisnya yang sudah semakin menjauh.
Setelah punggung sekertarisnya itu sudah tidak terlihat Ziana kembali meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang.
^^^Dita sudah dalam perjalanan pulang^^^
^^^ Read ^^^
Tanpa menunggu balasan, Ziana kembali meletakkan ponselnya, dan kembali menyesap Cappucino miliknya yang sudah mulai dingin.
*****
Happy Reading 💞💞 💞