
Waktu terus berjalan, tanpa terasa setahun berlalu setelah kematian kakek Abian.
Selama 365 hari itu banyak hal yang telah terjadi. Dimulai dari Valerie yang melahirkan bayi perempuan, Gretha yang sekarang hamil lagi, Dita yang telah menikah dengan teman masa kecilnya, dan yang paling menggemparkan datang dari Bryan yang kabarnya telah melamar Naysilla, sekretarisnya yang tidak bisa diam. Dan jangan lupakan Arash bucin Wijaya yang semakin manja, kepada istrinya.
Seperti pagi ini contohnya.
Laki-laki yang kini menginjak usia 35 tahun itu mogok kerja dan memilih tinggal di rumah, memeluk Ziana sepanjang hari.
"Mas minggir dulu ih, aku lagi masak bentar lagi Attar pulang."
Arash tidak mengindahkan larangan Ziana, laki-laki itu justru semakin mengeratkan pelukannya. Entah kenapa akhir-akhir ini Arash begitu senang memeluki Ziana. Beruntung mereka sudah tinggal sendiri, tidak di rumah utama lagi.
Mereka hanya tinggal bertiga, tanpa art. Ziana sengaja memilih rumah yang tidak terlalu besar namun nyaman untuk mereka tempati.
"Mas cuma meluk yang, gak ganggu kamu masak juga" elaknya
Ziana memutar bola matanya. Jika bukan suaminya, mungkin sudah ia lempar laki-laki itu ke laut.
"Tapi aku gak bisa gerak bebas"
Dengan tidak rela Arash melonggarkan pelukannya "begini..."
Ziana menghela nafas panjang, menghadapi Arash yang sekarang memang butuh kesabaran ekstra. Wanita itu mematikan kompornya kemudian berbalik badan, membuat tatapan mereka bertemu.
Ziana mengusap rahang kokoh Arash kemudian memberikan kecupan singkat pada bibir tebal suaminya "lepas dulu ya sayang, liat udah waktunya Attar pulang sekolah" wanita itu berucap lembut seraya menunjuk jam dinding.
Attar sudah memasuki sekolah dasar, baik Ziana maupun Arash selalu bergantian untuk menjemput Attar sepulang sekolah, kadang juga mama Arianna ikut membantu jika sedang tidak ada kegiatan.
Setelah pindah ke rumah baru, mereka benar-benar hidup mandiri tanpa ada bantuan art dan supir. Hanya ada satu orang satpam yang bertugas menjaga rumah, dari pagi hingga sore hari.
Bak terhipnotis, Arash mengangguk patuh, memberikan kecupan yang sama seperti yang istrinya lakukan, lalu berjalan meninggalkan dapur.
Ziana menatap punggung Arash seraya menarik nafas lega, lalu kembali melanjutkan masakannya yang belum matang.
"Sayang, mas pergi dulu ya"
"Iya, hati-hati"
______________________
Malam harinya setelah menidurkan Attar, Ziana kembali ke kamarnya.
Ziana mengernyit heran melihat Arash yang sudah tidur duluan "tumben" gumamnya.
Di menit berikutnya wanita itu mengendikkan bahunya mungkin dia lelah pikir Ziana yang kini berjalan menuju kamar mandi.
Setelah semua rutinitas malamnya selesai, Ziana mengecek ponselnya, melihat apakah ada email yang sekretaris Dita kirimkan.
Dita memang sudah menikah 2 bulan yang lalu, namun perempuan itu belum ingin resign dari pekerjaannya. "Gue akan resign setelah perut gue membesar." ucap Dita waktu itu.
Sekitar pukul 22:15 Ziana menyudahi pekerjaannya setelah kantuk menyerang. Wanita itu naik keatas ranjang dan menyusul Arash menuju alam mimpi.
~
~
~
Tengah malam Ziana terjaga, akibat Arash yang tidak bisa diam. Ziana membalikkan badannya menghadap kearah sang suami "kenapa?" Tanyanya dengan suara serak.
"Mas laper, pengen makan nasi goreng buatan kamu" jawabnya manja.
"Perasaan tadi udah makan"
"Laper lagi, yang.."
"Nasi putih aja ya"
Cepat laki-laki itu menggeleng "no... maunya nasi goreng. Pake telur sama sosis, kayaknya enak deh sayang" lihatlah, jakun Arash sampai naik turun membayangkan nasi goreng yang dia inginkan.
Ziana lagi-lagi dibuat heran dengan tingkah pola suaminya yang semakin hari semakin aneh, menurutnya. Arash yang sangat menjaga tubuhnya tiba-tiba saja meminta dibuatkan nasi goreng tengah malam begini.
"Mas yakin?" Tanya Ziana memastikan jika suaminya tidak sedang bercanda.
Arash mengangguk polos.
Ziana tidak ada alasan untuk menolak. Wanita itu bangun dan mencepol rambutnya asal, berjalan menuju dapur dengan Arash yang setia mengekor dibelakangnya.
Arash duduk dengan tenang di meja pantry, menunggu nasi goreng buatan sang istri jadi. Sebenarnya ada rasa bersalah, melihat bagaimana Ziana menahan kantuk, namun mau bagaimana lagi, dirinya sangat menginginkan itu sekarang.
"Terimakasih sayang" ucapnya menatap penuh binar, sepiring nasi goreng yang masih mengepulkan asap itu terlihat sangat menggoda.
"Pelan-pelan mas, itu masih panas"
Ziana menggeleng melihat bagaimana lahap suaminya menghabiskan nasi goreng yang masih panas itu dalam waktu singkat.
"Ahh..kenyang..." Arash bersandar pada sandaran kursi setelah melahap habis nasi gorengnya.
Posisi itu tidak bertahan lama, melihat istrinya mengambil piring bekasnya makan, Arash segera berdiri dan meraih piring tersebut dari tangan Ziana
"Biar mas yang cuci, kamu duduk disini saja nungguin mas"
Ziana hanya mengangguk patuh dan kembali duduk. Hal seperti itu sudah biasa terjadi, sebab Arash tidak pernah malu membantunya mengerjakan pekerjaan rumah.
Baru saja Ziana memejamkan matanya, Arash kembali berulah.
Laki-laki itu beberapa kali menoel-noel lengannya "yang..yang..udah bobo..??"
"Hmm.."
"Kelon.."
Ziana menghela nafas kasar, entah sudah yang ke-berapa kali wanita itu menghela nafas seharian ini karena tingkah ajaib suaminya.
Padahal tidur sambil memeluk Ziana dari belakang merupakan posisi favorit Arash. Tapi malam ini laki-laki itu meminta untuk ganti posisi.
Mau marah takut dosa, karena rasa kantuk yang teramat, Ziana segera berbalik badan, meraih tubuh kekar suaminya, memeluk dan mengusap punggung kokoh itu, hingga keduanya tertidur dengan posisi yang saling memeluk.
_____________________
"Hoooeeekk..hooeeekk"
Pagi-pagi sekali Ziana sudah dibuat panik, karena Arash yang tiba-tiba mual dan muntah.
"Daddy kenapa mom?" Tanya Attar menoleh di pintu kamar mandi yang tidak tertutup.
Attar ikut panik, suara Arash begitu kencang, hingga terdengar sampai ke kamarnya.
"Kayaknya Daddy masuk angin" ucap Ziana.
Wanita itu memapah Arash yang memiliki postur tubuh dua kali lipat dari postur tubuhnya.
Sementara Attar hanya mengangguk-angguk, tidak begitu paham maksud Ziana anginnya masuk lewat mana? Bingungnya.
"Telpon dokter ya?"
Arash menggeleng "gak usah, aku gapapa" ujarnya lemah.
"Muka kamu pucat banget Mas"
Ziana merasa khawatir melihat wajah Arash yang terlihat sangat pucat.
"Iya Daddy kayak vampir" celetuk Attar yang kini duduk di samping sang daddy.
Hap
"Iya Daddy memang vampir yang akan memakan Attar.. rawrr"
"Hwaaa...Momzi tolong ada vampir"
Ziana menggeleng, melihat tingkah laku bapak-bapak satu itu. Yang masih sempat-sempatnya menjahili Attar "mas..." Tegurnya.
"Hehe..bercanda yangβββ
Belum selesai dengan ucapannya, laki-laki itu sudah kembali berlari menuju kamar mandi "hooeeekk.."
"Attar tunggu di luar dulu ya, sayang,"
"Oke, Momzi"
Ziana segera menyusul suaminya ke kamar mandi setelah menuntun Attar keluar.
~
~
~
"Sayang sini.." panggil Arash dengan sisa-sisa tenaganya yang ada.
Arash benar-benar lemas tak berdaya. Bahkan untuk berbicara pun laki-laki itu tidak punya tenaga. Mual dan muntah yang dia alami cukup menguras banyak tenaga.
Ziana mendekat "kenapa? Aku panggilin dokter, ya?"
Arash menggeleng "kepala mas pusing" adunya, seraya menuntun tangan Ziana untuk menyentuh kepalanya.
"Makanya panggil dokter, kalo abis minum obat pasti langsung sembuh"
"Nanti disuntik"
"Nggak sayang"
Ziana mengeluarkan jurus andalannya dengan harapan suaminya itu mau menuruti keinginannya untuk memanggil dokter.
"Tapi...
Cup "mau ya?"
Arash mengangguk setelah mendapat kecupan manis di bibirnya.
******
Happy Reading ππ