About Ziana

About Ziana
Chapter 140



'Tuhan semoga kehadiranku tidak akan membuatnya semakin terluka' batin Zara menatap lurus ke depan, dimana putrinya tengah berdiri menyambut para tamu undangan yang hadir dengan penampilannya yang terlihat sangat anggun, putrinya terlihat cantik dengan gaun panjang yang sedikit menjuntai, terlihat begitu pas di tubuhnya, kemudian disampingnya berdiri seorang laki-laki tampan nan gagah, yang beberapa Minggu yang lalu telah menyelamatkannya dari kekejaman mantan suaminya, Nico. Dan diantara kedua mempelai terlihat pula dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan yang menggunakan pakaian senada dengan yang digunakan kedua mempelai.


"Luis berhenti, jangan sekarang, aku mohon" seru Zara secara tiba-tiba menghentikan langkah kaki Luis. "kenapa?" tanya pria yang kini sudah berjongkok dihadapannya itu


"lihatlah senyuman itu" ujar Zara menunjuk ke atas pelaminan dimana di sana Ziana terlihat tengah bersalaman dengan para tamu "apa aku sanggup jika harus merenggutnya lagi? ibu mana yang sanggup untuk merenggut kebahagiaan anaknya?" lanjut Zara, tanpa melepaskan pandangannya dari sang anak.


Karena pada dasarnya tidak ada seorang ibu pun yang tega jika harus menyaksikan anaknya menderita, apalagi ini adalah hari bahagia Ziana. Tidak, Zara tidak sanggup melakukan itu. Meskipun Zara pernah melakukan kesalahan besar dimasa lalu, namun ia mempunyai alasan kuat sehingga dirinya mengambil jalan itu.


"sebaiknya kita pulang" ucapnya pelan. "Ra..." panggil Luis lirih seraya tangannya meraih tangan Zara dan menggenggamnya erat.


Wanita itu menggeleng "aku mau pulang" ucap Zara seraya menarik tangannya dari genggaman Luis, sambil terisak.


Tidak ada pilihan lain, Luis terpaksa mengikuti permintaan wanita itu, daripada ia harus melihatnya menangis semalaman "baiklah..aku akan mengantarmu kemanapun yang kamu mau jadi berhentilah menangis, kamu terlihat jelek jika menangis" ucapnya dengan sedikit candaan


Membuat Zara refleks memukul bahu pria itu "maaf.. dan terimakasih" ujar Zara lirih.


Sementara itu Ziana yang sedang mencari keberadaan Attar yang pergi beberapa menit yang lalu itu, tidak sengaja menatap kearah Zara dan Luis, dan Attar pun juga ada di sana.


"nenek.." terdengar suara Attar memanggil sang nenek, membuat semua atensi mengarah kepada bocah laki-laki berusia 6 tahun itu. Mereka semua penasaran tentang sosok yang dipanggilnya nenek, termasuk Ziana yang melihatnya dari atas pelaminan.


Luis yang posisinya sudah membelakangi karena bersiap untuk pergi itu membuat orang-orang tidak bisa melihat keberadaan Zara yang terduduk di kursi rodanya karena terhalang punggung Luis.


"jangan menoleh.." peringat Zara berbisik "tapi.." belum selesai ucapan Luis, wanita itu sudah menyela "kumohon.." ucap Zara lagi dengan nada memohon membuat Luis tidak tega dan mengikuti semua permintaannya.


Sesuai keinginan wanita itu, Luis terus mendorong kursi roda Zara cepat, tanpa memperdulikan teriakan Attar yang terus memanggil manggil keduanya.


"Nenek..paman..tunggu" teriak Attar namun Luis seolah-olah tidak mendengar dan tidak tahu, dia terus membawa kakinya melangkah menjauhi ruangan perjamuan resepsi pernikahan tersebut.


Namun bukan Attar namanya jika dia menyerah begitu saja, kaki kecil itu pun ikut berlari mengejar langkah lebar paman Luis. Ziana yang menyaksikan kejadian itu pun memberikan kode kepada Lyan untuk menghentikan seseorang yang sedang dipanggil oleh Attar.


"tuan muda, anda tunggulah disini biar saya yang akan mengejar mereka" seru Lyan menghentikan aksi Attar. "baik paman, terimakasih" jawab Attar sopan. Lyan mengangguk kemudian bangkit dari posisi jongkoknya dan berlalu mengejar orang tersebut.


Sementara diatas pelaminan terlihat Ziana penasaran dengan seseorang yang dipanggil nenek dan paman oleh si kecil Attar. Arash yang menyadari perubahan wajah sang istri pun langsung memintanya untuk duduk "sebaiknya kita duduk dulu, tenangkan dirimu" bisik Arash tepat di telinganya.


Dengan patuh Ziana mengikuti arahan Arash.


Tidak berselang lama, Lyan datang dengan mendorong seseorang diatas kursi roda diikuti oleh Luis dan Attar dibelakangnya, wanita diatas kursi roda itu adalah Zara, yang meskipun sudah berumur namun masih terlihat sangat cantik. wanita itu hanya terlihat menunduk, tidak berani menatap sekeliling membuat orang-orang menjadi penasaran tentang siapa sebenarnya wanita itu.


Namun berbeda dengan Ziana, dia langsung berdiri dari duduknya saat menyadari siapa orang yang duduk di kursi roda itu.


Deg


Jantung keduanya berdetak ketika jarak mereka semakin dekat.


Ini adalah pertemuan pertama mereka dalam keadaan sadar, karena sebelum-sebelumnya Ziana menemani Zara dirumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri alias koma.


Arash membantu Lyan untuk menaikkan kursi roda millik Zara keatas pelaminan, begitupun dengan Luis, setelah kursi roda itu berhasil sampai keatas, Arash lalu mengucapkan terima kasih kepada Lyan kemudian ia meminta sang asisten pribadi milik istrinya itu meninggalkan mereka.


"baik tuan"


Setelah kepergian Lyan Arash dan Luis saling pandang, kemudian mereka sama-sama mengangguk, sementara Zara masih setia menunduk sambil memilin jari tangannya.


Ziana menangkap gelagat mencurigakan dari suaminya dan Luis, perempuan itu lalu menatap keduanya secara bergantian dengan tatapan tajam dan menusuk. Menyadari tatapan yang diberikan Ziana, kedua laki-laki berbeda usia itu membuang pandangan mereka, melihat tingkah keduanya membuat Ziana ingin sekali menghajar mereka, namun keinginan itu Ziana tahan karena sadar dimana dia sekarang, dia tidak ingin menghancurkan pestanya.


"apa tidak ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan?" seru Ziana dingin dan menusuk, membuat kedua, ralat ketiga laki-laki itu termasuk Attar yang juga terlibat dalam konspirasi hanya mampu berdiri dan mematung ditempatnya masing-masing.


'mampus' batin ketiga laki-laki itu.