
"yakin lo kak mau di anter ke rumah bokap lo, bukan ke apartemen aja?" itu adalah pertanyaan yang sudah ketiga kalinya ditanyakan oleh Dita.
"Ck.." decak Ziana sambil memutar bola matanya malas.
mendengar pertanyaan itu membuatnya jengah.
"ya kan takutnya lo salah ngasih aba-aba kak" dalihnya. namun sebenarnya Dita khawatir mengingat hubungan Ziana dengan papanya tidak terlalu baik.
"udah deh gak usah bawel, gue gak akan kenapa-kenapa" ujar Ziana seolah tahu maksud Dita.
"iya iya"
Mobil yang di kendarai Dita sampai di halaman rumah keluarga Bagaskara.
"gue pamit ya kak, kalo ada apa-apa kabarin. gue malam ini nginep di rumah sakit." ucap Dita.
lagi-lagi Ziana memutar bola matanya.
"hati-hati lu jangan ngebut, salam buat ibu" pesan Ziana sebelum mobil itu melaju meninggalkan kawasan tersebut.
Huuuffttt
Ziana menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kaki kedalam rumah orangtuanya.
"ehh non Zizi" sapa mbok Tin saat membukakan pintu untuk Ziana.
"Assalamualaikum mbok Zizi kangen" ucap Ziana memeluk mbok Tin yang merupakan pengasuhnya ketika masih kecil.
"wa'alaikumsalam salam non, mbok juga kangen sama non" mbok Tin terharu dengan perlakuan anak majikannya yang tidak pernah berubah meskipun sudah sukses.
setelah melerai pelukannya Ziana pamit untuk ke kamarnya yang dulu.
Ziana tertegun ketika mendapati kamarnya tidak ada yang berubah.
semua barang yang dulu masih terletak di tempatnya tidak bergeser sedikitpun, hanya seprei nya yang sudah berganti.
setelah puas bernostalgia dengan kamar lamanya yang menyimpan banyak kenangan Ziana perlahan bangkit untuk mandi terlebih dahulu.
Selesai mandi dan berganti pakaian Ziana keluar dari kamarnya dan berjalan ke kamar Zoey.
Ziana menginap di rumah papanya hanya untuk bertemu dengan Zoey adiknya.
Jadilah malam ini wanita itu memutuskan untuk tidur di kamar milik Zoey.
Tanpa mengetuk pintu Ziana langsung masuk.
takutnya ganggu tidur Zoey fikirnya.
namun ternyata didalam kamar tersebut ada Claudia yang tengah tertidur di pinggir tempat tidur.
Ziana ingin keluar lagi namun Claudia yang peka terhadap suara terbangun.
"loh Zi kapan datang?" tanya Claudia tiba-tiba sambil menutup mulutnya yang tengah menguap.
Ziana menoleh menatap Claudia tidak enak.
"tadi Ma, aku pikir Zoey sendiri di kamar, aku gak tau kalo Mama Cla ada disini"
Claudia tersenyum lalu bangkit kearah anak sambungnya itu.
"gak apa-apa tadi Zoey minta di bacain dongeng eh malah mama yang ketiduran" ucapnya tersenyum kecil.
Ziana balas tersenyum meskipun sangat tipis. tapi Claudia melihat itu, dan mengingatnya akan sosok Zara.
Claudia adalah teman sekaligus tetangga Zara dulu, meskipun kuliah di tempat yang sama namun dengan jurusan yang berbeda tidak membuat pertemanan mereka luntur.
Flashback On
dari dulu keduanya sangat dekat, hingga Zara mengenal laki-laki yang bernama Jody semuanya berubah.
Zara yang dulu kalem dan lemah lembut berubah menjadi gadis yang pemarah dan temperamen.
Claudia yang saat itu tengah sibuk menyusun skripsinya tidak bisa berbuat banyak.
setelah putus dari Jody cinta pertamanya, Zara kembali menjadi Zara yang dulu dan perubahan itupun disambut dengan baik oleh Claudia.
Impian Zara untuk menjadi seorang model pun tercapai, namun beberapa bulan kemudian gadis itu di jodohkan oleh seorang pengusaha ternama membuat hati seorang Zara hancur.
Lagi-lagi Claudia tidak bisa membantu sebab sebagai seorang calon guru dia harus siap di tempatkan di manapun.
Waktu itu Claudia di kirim ke kota X dimana kota tersebut sangat terpencil dan akses internet belum tersedia membuat keduanya lost kontak.
Setahun berlalu Claudia kembali ke kotanya namun Zara sudah pindah ke ibukota bersama suaminya.
Claudia yang mendengar semua cerita tentang Zara pun ikut bahagia karena pernikahan sahabatnya itu baik-baik saja, bahkan menurut cerita sang ibu, Zara tengah mengandung.
Saat itu Claudia di kirim ke ibukota tepatnya di kota A untuk mulai mengajar disana.
Dikota inilah Claudia mengabdikan dirinya sebagai seorang guru.
Waktu itu Claudia tidak sengaja melihat seorang anak kecil yang mungkin masih TK tengah menangis seorang diri, anak itu adalah Ziana.
Claudia lalu mendekati anak tersebut dan menenangkannya.
Wajah anak kecil itu mengingatkan Claudia dengan seseorang yang merupakan sahabatnya.
Singkat cerita keduanya menjadi dekat setelah hari itu.
Pada suatu hari, Karena tidak ada yang menjemput Ziana akhirnya Claudia yang mengantarnya pulang.
namun betapa terkejutnya perempuan itu ketika mengetahui bahwa ibu dari Ziana adalah Zara sahabatnya dulu.
Zara pun sama terkejutnya namun tidak berlangsung lama karena perempuan itu bisa menetralkan raut wajahnya.
Claudia merasakan perbedaan dengan Zara yang sekarang.
Perempuan itu terlihat sombong dan cuek tidak seperti Zara yang dulu.
setelah berbasa-basi Claudia pamit.
Beberapa Minggu kemudian Claudia sudah tidak pernah lagi melihat Ziana, setelah menanyakan kepada gurunya ternyata anak itu sakit.
Sore harinya setelah selesai mengajar Claudia memutuskan untuk menjenguk Ziana lebih dulu.
Namun betapa terkejutnya Claudia ketika mendapati Jody yang berada di halaman rumah Zara.
tanpa mengatakan apapun, Claudia berlalu karena tujuan utamanya adalah untuk menjenguk Ziana.
Namun baru saja ingin mengetuk pintu, pintu itu sudah lebih dahulu terbuka dari dalam.
Zara dan suaminya yang bernama Bagas tengah bertengkar hebat.
Zara terlihat membawa sebuah koper besar dan terus mengucapkan kata cerai sedangkan Bagas berusaha untuk menahannya.
"sudah selesai belum Ra?" tanya Jody yang sudah berdiri di belakang Claudia.
sedangkan Zara masih terus berusaha melepaskan cekalan tangan suaminya itu.
"lepasin aku Bagas, aku mau mengejar karir aku, aku tidak sudi mengurus anak pembawa sial itu seumur hidupku" ucap Zara menunjuk ke arah Ziana.
"mbok bawa Zizi masuk" perintah Bagas kepada pengasuh anaknya.
"dia itu anak kamu, darah daging kamu, bisa-bisanya kamu mengatakan hal menyakitkan seperti itu di depannya" emosi Bagas.
"dia bukan anak aku, tapi anak kamu"
"dia lahir dari rahim kamu"
"tapi aku tidak pernah menginginkannya"
Bagas yang sudah emosi hampir saja menampar istrinya.
"kenapa berhenti, ayo tampar aku, tampar" teriak Zara di hadapan Bagas.
sementara laki-laki itu diam.
Claudia yang kesal melihat kelakuan sahabatnya itu pun angkat bicara.
"Zara, berapa kali gue bilang sama lo jangan berhubungan lagi dengan pria brengsek ini" tunjuk Claudia kepada Jody sementara lelaki itu hanya tersenyum mengejek.
"jauhin dia Ra, dia gak baik buat elo" sambungnya lagi.
"gue yang tau mana yang baik dan tidak buat hidup gue, jadi lo gak usah ikut campur"
"dia cuma manfaatin elo Ra, pria brengsek kayak dia gak bisa di percaya"
"gue bilang gak usah ikut campur" bentak Zara.
setelah itu Zara berjalan kearah Jody.
"ayo"
Claudia menggeleng.
"nggak Ra, lo nggak boleh pergi, kasian anak lo" cegah Claudia.
Namun Zara seolah menulikan pendengarannya, perempuan itu terus berjalan sambil menarik kopernya.
"Raaa tunggu.."
"sudah biarkan dia pergi" ucap Bagas dengan ekspresi dinginnya.
Flashback Off
*****